Menata(p) Negeri


Oleh Irman Syah

Menata Negeri, menatap Anak Bangsa, menatap bangunan kehidupan serta menyimak  kenyataan yang bergulir setiap detik waktu telah membuat keberadaan diri manusia Indonesia penuh duka dan sering mengurut dada. Berita dari hari ke waktu menggulirkan kabar yang selalu simpang siur. Bencana, perselisihan paham, korupt, dan keresahan telah membuahkan keasingan bangsa di negeri sendiri.


Padahal usaha dari pergerakan bangsa Indonesia dalam sejarah perjuangannya amatlah mengacu pada kesejahteraan rakyat Indonesia. Kemuliaan tujuan itu seakan tertimbun oleh gundukan keegoan personal yang membangun monumen tersendiri bagi dirinya. Perselisihan cara pandang inilah yang menjadikan komunikasi jadi semraut. Jalinannya berubah jadi benang kusut yang buhul-membuhul.

Kalau kenyataan semacam ini terjadi terus-menerus tanpa ada usaha untuk mengurainya dengan kelapangan dada niscaya kenyataan ini akan berlangsung lama. Apalagi kalau ditanggapi dengan kebencian serta dendam sepihak: maka akan terciptalah ke-‘kusut-masai’-an persoalan. Perselisihan akan selalu mengajarkan keegoan serta kebencian dan dendam, kecuali dengan menggunakan cara pandang dan ukuran nilai yang jelas dan mengakar.

Untuk itu amat diperlukanlah sebuah usaha yang mendasar terhadap permasalahan ini. Andai dikembalikan pada tugas yang diemban oleh Muhammad, nabi dan rasul terakhir, maka inilah yang dinamakan dengan kesempurnaan akhlak. Bagaimana budi pekerti dan nilai-nilai hidup itu bisa tercermin dari tingkah-laku keseharian manusianya dalam berusaha dan berbuat berdasarkan patokan dan tujuan: yang kesemuanya itu tak lepas dari niat tulus perjuangan bangsa ini sebelumnya yang dijadikan akar penumbuhnya.

Keterpurukan bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berpikiran jernih dalam melihat akar persoalan. Dengan begitu program yang dimunculkan negeri ini ke depan akan mampu menumbuhkan batang, dahan, ranting, daun, putik dan bunga yang baru bagi kenyataan kedamaian dan keadilan masyarakatnya secara menyeluruh. Sulit memang, tapi bukan berarti tak mungkin. Siapa pun, asal memulainya dengan niat perjuangan yang bersih dan patriotik tentu akan dapat menemukan akar kehidupan itu.

Negeri ini membutuhkan orang yang cerdas dengan intelektualitas yang mengakar. Dari sini akan timbullah usaha yang kuat dan kukuh dalam bersikap. Perjuangan yang bersih bukan hanya teknis dan usaha pencapaian pemenangan diri, tapi malah lebih dalam lagi, yakni mesti dengan ketulusan dan modal kemampuan dalam memahami akar budaya yang kandungannya berupa kebiasaan baik dengan nilai sopan-santun dalam mengemukakan pendapat dan serta menanggapi permasalahan yang mengemuka.

Kalaulah hal semacam ini bisa dihasilkan perjuangan, niscaya negeri ini akan mulai bangun dari tidur panjang yang dilelapkan harga dan budaya konsumeristis yang merajalela. Modernatas yang dinamik dengan capaian-capaiannya akan mampu disiasati dengan cara yang lebih bijaksana. Kebudayaan akan kembali mengakar pada batang tubuh semula yang menumbuhkan kuncup-kuncup baru lewat pergerakan budaya serta bahasa kesenian yang universal dalam membangun peradaban.
RoKe’S, 3o Sept 2012




0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI