Puisi, Musikalisasi, dan Ruang Puitik

Oleh Irman Syah *)

Abstraksi:
Membicarakan proses penggarapan muskalisasi puisi sebagai usaha kreatif atas perpanjangan lidah penyair melalui penafsiran karya adalah juga merupakan salah satu tahapan apresiasi sastra yang bermanfaat. Pengucapan puisi berdasarkan komposisi nada yang mengakar pada pilihan kata (diksi) puisi tentunya memiliki daya tawar yang kuat mempercepat laju komunikasi makna dengan sentuhan nadanya khas.

Kandungan puisi yang disampaikan musikalisasi jadi berkembang dan nantinya mengarah pada pemahaman nilai bahasa dan karakter bangsa atas pemikiran dan kehalusan budi manusia yang dihadirkan mahkota bahasa dari karya penyair lewat media sastra Indonesia. Sastra sebagai pengucapan nilai akan lebih nyata terlihat dari bangunan karya yang dikemas dan diusung produk musikalisasi puisi.

Pembicaraan ini tidak bisa dilepaskan dari sosok penyair dan sosial-budayanya sebagaimana pegaruh isian karya yang telah dihasilkannya. Dari sana akan terbuka pintu yang tepat untuk bisa memandang ragam tradisi dan nilai kebangsaan yang bernaung di dalamnya. Hamparan kekayaan alam nusantara dan sikap hidup manusianya dapat ditangkap berdasarkan horizon harapan penyair atas usaha dan pengamatannya yang intens melalui pengalaman hidup yang telah dia jalani.

Di hadapan karya puisi telah berdiri sosok manusia kreatif yang menuliskan buah pikirnya dalam format karya cipta yang padat dan mengkristal untuk mengungkapkan dunia yang luas untuk manusia. Perlu diingat, puisi itu dilahirkan oleh manusia dan penyair baru akan ada setelah puisi-puisi bernas berhasil itu dilahirkannya. Singkat kata, puisi lahir oleh manusia, dan penyair lahir dari puisi-puisi yang ditulisnya.

Bila dilihat berdasarkan etimologinya, puisi adalah ibu dari kesusastraan karena kelahirannya mengakar pada tradisi kelisanan yang memang kuat di negeri ini. Akarnya adalah sastra lisan, seperti; pantun, syair, petuah, pribahasa, mamangan, petatah-petitih, kias, dan lain sebagainya dengan ragam penamaan kelisanan yang pernah ada. Secara fungsional amat berpegaruh dalam edukasi keseharian hidup manusia nusantara beserta bermasyarakatnya.

Untuk itu, dalam memusikalisasikan puisi diperlukan proses memahami ujud, bentuk dan akar puisinya, penyair dan ruang lingkupnya, serta pandangan-pandangan yang telah disebutkan di atas. Dengan begitu akan lahirlah karya musikalisasi puisi yang baik dan sesuai dengan kandungan makna puisi yang tergarap dengan komposisi musikalnya yang tepat

Karya dan Semangat Zaman:

Adalah suatu hal yang penting untuk mengetahui periodisasi sastra dalam memahami karya pengarang Indonesia. Dengan begitu akan dapat diketahui suasana zaman yang ikut serta memberikan andil terhadap karya yang dituliskan penyair.

H.B. Jassin adalah tokoh yang berjasa dalam memulai pembagian dan memisahkan secara periodic per-angkatan para sastrawan dan kepengarangan serta karya yang dia ciptakan sesuai semangat zaman dan situasi yang melingkupi kehidupan bangsa ketika karya diciptakan.

(1) Angkatan Balai Pusataka, tentang angkatan kepengarangan dengan kelahiran karya sastra yang terbit semenjak tahun 1920. Kemudian,
(2) Angkatan Pujangga Baru (tahun 1930 – 1942) yang merupakan sastra intelektual, nasionalistik dan elitis. Pada masa ini telah terbit majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane,
(3) Angkatan ’45 dengan konsep berkesenian yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani,
(4) Angkatan 50-an (tahun 1950-1965), ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah, asuhan H.B. Jassin. Pada angkatan ini muncul gerakan komunis di kalangan sastrawan Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dengan konsep realisme-sosialis,
(5) Angkatan 66, ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison pimpinan Mochtar Lubis.

Selepas itu periodisasi sastra Angkatan 80-an (tahun1980-1990), Angkatan Reformasi (1998), Angkatan 2000-an dan Angkatan Cyber Sastra.

Puisi dan Pemahaman Dasar Musikal:

Di bawah ini dapat dilihat pembahasan sederhana melalui patokan dasar dalam proses pemahaman puisi yang akan disiapkan menjadi karya Musikalisasi Puisi. Sengaja diambil beberapa contoh karya dari beragam penyair dengan rentang waktu yang berbeda-beda. Ini dimaksudkan untuk bisa mendapatkan gambaran dasar agar nafas karya dan karakter bunyi yang akan dihadirkan dapat dan mudah untuk disiasati.

Coba kita lihat puisi Padamu Jua, sebuah karya Amir Hamzah, seorang tokoh Angkatan Pujangga Baru yang bercirikan sastra intelektual, nasionalistik dan elitis. Artinya, pada zaman ini sudah terbit sebuah majalah yang berjudul Pujangga Baru dan ini yang dijadikan penamaan terhadap angkatan kepengarangan dan karya yang lahir di masa itu.

PADAMU JUA, karya Amir Hamzah:

//Habis kikis/ segala cintaku hilang terbang/ pulang kembali aku padamu/seperti dahulu.//

//Kaulah kandil kemerlap/pelita jendela di malam gelap/melambai pulang perlahan/sabar, setia selalu.//

//Satu kekasihku/aku manusia/rindu rasa/rindu rupa.//

//Di mana engkau/rupa tiada/suara sayup/hanya kata merangkai hati//

//Engkau cemburu/engkau ganas/mangsa aku dalam cakarmu/bertukar tangkap dengan lepas//

//Nanar aku, gila sasar/sayang berulang padamu jua/engkau pelik menarik ingin/serupa dara di balik tirai//

//Kasihmu sunyi/menunggu seorang diri/lalu waktu – bukan giliranku/mati hari – bukan kawanku…//

1927

Puisi ini penuh dengan metafora serta bangunan kiasan. Kenyataan pikiran dan rasa yang dikandung karya ini disampaikan dengan bahasa lembut, sejukan, tapi maknanya kadang terasa menyimpan perih hingga menyelinapkan sunyi di dasar jiwa.

Secara intrinsik, karya ini menarasikan lirik syairnya tentang aku-liriknya yang kosong, semacam ‘ning’ yang siap memulai isian dalam hakikat ‘nur’ pada ruang jiwa sebagaimana nilai religiusitas pada keimanan. Pencarian ke-Diri-an, kalimah, keutuhan dan siksa cinta dianalogikan bagai idion ‘dara di balik tirai’: jalan hidup, bayangan penantian, akhirnya menubuhkan sikap pada aku-lirik yang mengalaminya.

Secara ekstrinsik, Amir Hamzah yang merupakan Tengku pada Kesultanan Langkat ini adalah tokoh pergerakan dan intelektual yang pernah hidup di Jawa Tengah, tepatnya Solo. Jadi, karakter dan nafas bunyi yang berpeluang dalam memusikalkan kaya ini adalah ‘religius’, alun ‘budaya jawa’ dan gambaran akan keteguhan sikap karya pada nilai pilihan aku-lirik-nya perihal Tuhan dan manusia.

(Nama lengkapnya, Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera, lahir dalam lingkungan bangsawan Kesultanan Langkat, Sumatera Timur, pada 28 Februari 1911. Meninggal di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946 dalam umur 35 tahun dalam sebuah revolusi sosial Sumatera Timur. Dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia bersekolah menengah dan tinggal di Jawa saat pergerakan kemerdekaan. Kumpulan puisinya Nyanyi Sunyi (1941) dan Buah Rindu (1937). MenerjemahkanStanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933) dan Syirul Asyar)

DIPONEGORO, karya Chairil Anwar:

Chairil yang merupakan tokoh Angkatan 45 ini berusaha mengangkat semangat patriotic dalam nafas karyanya. Puisi Chairil ini sesuai dengan konsep Angkatan 45 yang menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Seniman pada masa ini berpatokan pada “Surat Kepercayaan Gelanggang”.

DIPONEGORO

//Di masa pembangunan ini/Tuan hidup kembali/Dan bara kagum menjadi api/Di depan sekali tuan menanti//

//Tak gentar/Lawan banyaknya seratus kali/Pedang di kanan, keris di kiri/Berselempang semangat yang tak bisa mati//

//MAJU//

//Ini barisan tak bergenderang-berpalu/Kepercayaan tanda menyerbu/Sekali berarti/Sudah itu mati//

//MAJU//

//Bagimu Negeri/Menyediakan api/Panah di atas menghamba/Binasa di atas ditindas/Sungguh pun dalam ajal baru tercapai/Jika hidup harus merasai//

//Maju/Serbu/Serang/Terjang//

1948

Puisi lirik naratif ini sesungguhnya dia-an dan mengisahkan peristiwa baru, dimana kehadiran tokoh pejuang lampau yang sudah meninggal kemudian menubuh ulang di dalam karya (semacam reingkarnasi) pada tubuh yang baru. Si aku-lirik-nya kembali mengisahkan semangat patriotik itu sesuai zaman.

Secara ekstrinsik, gejolak dan gelora kebebasan begitu utuh dan mengemuka setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi, puisiDiponegoro yang ditulis Chairil Anwar ini adalah rangkuman patriotic dari jiwa kebangsaan yang ingin lepas dari cengkraman penjajah. Gambaran semacam itu tentu akan mengantarkan pembaca serta penggarap musikalisasi puisi pada suasana yang diinginkan.

Tentang Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Berpendidikan MULO (tidak tamat). Pernah menjadi `redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan sajaknya, Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950). Chairil Anwar dianggap pelopor angkatan 45. Ia meninggal di Jakarta, 28 april 1949. Hari kematiannya diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia.

KANGEN, karya W.S. Rendra: (Angkatan 1950-60-an)

//Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku/menghadapi kemerdekaan tanpa cinta/kau tak akan mengerti segala lukaku/kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.//

//Membayangkan wajahmu adalah siksa./Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan./Engkau telah menjadi racun bagi darahku./Apabila aku dalam kangen dan sepi/itulah berarti/aku tungku tanpa api.//

2003

Selain protes social yang keras dan tajam tentang kritiknya terhadap penguasa sebagaimana puisi panflet yang ditulisnya, Rendra juga banyak menulis puisi romansa. Salah satu dari kumpulannya yang terkenal adalah Bloes untuk Bonnie. Rendra juga tokoh teater dengan Bengkel Teaternya yang berkiprah kuat sehingga dia mendapat Anugerah Akademi Jakarta dll.

Pada puisi Kangen di atas, Rendra berusaha menggabungkan romansa dan hakikat nilai kemerdekaan. Secra intrinsic, puisi ini adalah suasana hati yang perih ditikam sunyi. Nada dari musikalitasnya sangat menyentuh rasa. Ibarat dan kiasan yang dimilikinya, baik dalam diksi ‘kesepian’ dan ‘kemerdekaan’, atau ‘tungku tanpa api’ membangun keutuhan rindu pada cinta yang bernilai.

Secara ekstrinsik, karya ini begitu dekat dengan pribadi dan sikap yang dimiliki penyairnya. Selain pencinta wanita, Rendra juga tokoh yang bergerak dalam aktivitas gerakan dan pernah dipenjara atas protes sosialnya terhadap pemerintah yang menurutnya tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya. Jadi, puisi ini adalah gabungan dua tipe puisi yang dimiliki penyairnya, yakni romansa dan protes social.

Tentang W.S. Rendra

Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Selain tekun menulis puisi (beberapa buku puisi lahir sejak tahun 1957), ia juga giat dalam pertunjukan drama dengan Bengkel Teaternya. Kumpulan cerpennya berjudul Ia Sudah Bertualang.

TUHAN, KITA BEGITU DEKAT, karya Abdul Hadi W.M: (Angkatan 66)

//Tuhan /Kita begitu dekat /Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu//

//Tuhan /Kita begitu dekat /Seperti angin dan arahnya /Aku arah dalam anginmu //

//Tuhan /Kita begitu dekat /Sebagai kain dengan kapas /Aku kapas dalam kainmu //

//Dalam gelap /Kini aku nyala /Pada lampu padammu//

Puisi Tuhan Kita Begitu Dekat di atas adalah karya Abdul Hadi W.M. yang cukup terkenal dengan nilai kesufiannya. Ini memang cocok dengan pengetahuan dan keilmuan yang dia miliki. Sufi yang Tertindas adalah karya tulisnya yang bisa mengantarkan kita dalam memahami puisi ini.

Puisi ini sangat akrab dengan ranah bahasa melayu yang sering melakukan perbandingan. Di dalam sastra lisan, akan sering didapatkan ibarat, kias, dengan petuahnya yang sangat bermanfaat dalam bentuk didaktik. Sesungguhnya hal ini sama dengan karya yang ditulis penyair ini. Abdul Hadi berangkat dari sini untuk menghadirkan sebuah maksud yang filosofis.

Secara intrinsic, diksi dan musikalitas yang dibangun oleh karya ini adalah jabaran religiustias tentang kita. Makhluk dan Khalik. Kiasan yag ada di dalamnya merupakan kiasan yang saling mendukung dengan kesamaannya. Diksi ‘api’ dan ‘panas’, atau ‘kain’ dan ‘kapas’ adalah ujud yang saling melekat. Hal ini jauh berbeda dengan kias atau ibarat antara ‘sutra’ dan ‘benang’ atau ‘emas dan ‘loyang’.

Jadi, puisi ini adalah karya yang sufistik dengan tema ketuhanan yang sangat indah dan menawan.

Tentang Abdul Hadi W. M.

Abdul Hadi W. M. lahir di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Pernah kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, dan kemudian pindah ke fakultas filsafat universitas yang sama. Kumpulan puisinya Meditasi (Balai Pustaka) dan buku lainnya, kumpulan esainya Gambar Manusia dalam Sastra. Mengasuh ruang kebudayaan Dialog di harian Berita Buana dan pernah bekerja sebagai redaktur di PN Balai Pustaka. Abdul Hadi W.M. sering disebut-sebut sebagai salah seorang penyair liris terkemuka di Indonesia. Meditasi adalah kumpulan puisi yang memperoleh hadiah sebagai buku puisi terbaik yang terbit pada tahun 1976/1977 dari Dewan Kesenian Jakarta dan pada tahun 1979 mendapatkan Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

WALAU, karya Sutardji Calzoum Bachri: (Angkatan 66)

//walau penyair besar/takkan sampai sebatas allah//

//dulu pernah kuminta tuhan/dalam diri/sekarang tak//

//kalau mati/mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak//

//tujuh puncak membilang bilang/nyeri hari mengucap ucap/di butir pasir kutulis rindu rindu//

//walau huruf habislah sudahalifbataku belum sebatas allah//

1979

Puisi pendek karya Sutardji ini adalah sebuah karya yang sedikit beda dari puisi-puisinya dalam kumpulan O Amuk dan Kapak. Tidak sebagaimana puisi lainnya yang kadang kata-katanya tidak begitu terasa kaitannya. Di dalam puisi ini Sutardji Calzoum Bachri menuliskan karya dengan sederhana tapi dengan makna yang tidak sederhana.

Diksi ‘walau’ dalam judul itu membuat pembaca melihat ke dalam dan kemudian menerjemahkannya ke luar diri. Bagaimana mikro dan makro digabungkan dalam satu tubuh disaat kata mesti diucapkan. Dengan begitu, terasa ke-melayu-an teks dalam puisi ini. Secara intrinsic, baik dari diksi, format atau musikalitas yang dibangun, karya ini bicara tentang keagungan.

Tepatnya, kekecilan makna diri begitu terasa bagi Diri yang Agung. Penyair yang sesungguhnya mencipta karya dari kata-kata jadi tidak begitu ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pemilik kata itu sendiri. Kemasan mantranya, sebagaimana ciri khas penyair ini terasa, dan malah semakin menukik dikarenakan kekuatan makna dan keagungan yang dia lafaskan melalui puisinya.

Tentang Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri lahir di Riau. Setamat SMA melanjutkan studi di Fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi Negara, Universitas Pajajaran Bandung. Tahun 1979 memperoleh South East Asia Write Award. Kumpulan cerpennya: Hujan Menulis Ayam.

Bahan untuk Perbincangan Lainnya:

Selain penafsiran yang sederhana di atas, ada juga beberapa puisi yang akan ditafsirkan bersama peserta dalam pertemuan ini. Untuk itu, jabarannya akan dilaksanakan ketika dialog dan praktek penulisan serta pemahaman yang akan dilangsungkan. Sebagai bahan, karya-karya di bawah ini adalah cuntoh yang dapat kita pelajari sebagai praktek di pertemuan. Bisa juga nantinya karya Puisi dari pilihan peserta yang akan didialogkan. Karya-karya yang telah disiapkan, antara lain, adalah:

GERGAJI, karya Slamet Sukirnanto: (Angkatan 66)

//Setiap gergaji berderik melengkin mengatasi bunyi satwa/Merintihlah hutan ke angkasa/ Menggugah mereka yang lelap damai tidur di surga/Pohonpohon dan semak saling bicara/
Kapan gilirannya mengalirkan darah rebah ke lantai lumpur yang basah/Kita adalah bagian makhluk yang kalah/Tetapi tidak bisa disingkirkan/Dan dibasmi dari bumi ini/Setiap gergaji berderik melengking tinggi membelah sunyi/Langit turun mendekap dan menampung air mata kami/Ditumpahkan menjadi hujan dan bencana bumi/Prahara atau banjir menjalar sepanjang lembah-lembah ini/Tuhan telah mengutus langit/Tuhan telah mengutus awan/Dan tuhan telah mengutus bumi/Untuk menantang yang melawan takdir/Pohon-pohon perkasa rebah dengan gagah/Semak-semak meratapi pahlwan yang pergi/Kepada bumi dan daratan/Lembah menitipkan maaf atas kegaduhan yang tidak diingin/Dedanan dan ranting berdoa sejak pagi/Tuhan, semoga lindungilah wilayah kami/Dari keganasan gergaji dan algojo besi/Tubuh kami telah dikoyak oleh kekejaman dan keganasan gergaji/Pisau raksasa telah mengadili tubuh kami, saudara-saudara kami,/Tetangga kami, rumpun kami/Yang selama ini engkau bombing/Dan engkau tunjuki cara terbaik/Membangun keagungan belantara ini/Untuk memujamu ya, Tuhan!/Atas kehendakmu//

Tentang Slamet Sukirnanto

Slamet Sukirnanto lahir di Solo, 3 Maret 1941. putra pelukis R. Goenadi. Pendidikannya di jurusan Sejarah Asia Tenggara Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dikenal juga sebagai tokoh demonstran 1966, menjadi Keuta Presidium KAMI pusat (1966-hingga bubar), anggota DPRGR/MPRS (1967-1971) mewakili mahasiswa. Tahun 1973 menjadi redaktur harian Sinar Harapan. Kumpulan puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), dan Bunga Batu (1979).

AKU INGIN, karya Sapardi Djoko Damono: (Angkatan 1966)

//Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu/kepada api yang menjadikannya abu//

//Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan/kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Tentang Sapardi Djoko Damono

Lahir di Solo, 20 Maret 1940. Beliau adalah Professor Sastra di Universitas Indonesia. Buku puisinya yang pertama terbit tahun 1969 dengan judul: duka-Mu abadi. Disusul sejumlah buku puisi lainnya, esai, dan fiksi. Dia juga aktif menerjemahkan.

RAKYAT, karya Hartojo Andangdjaja

(hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman)

//Rakyat ialah kita/jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja/di bumi di tanah tercinta/
jutaan tangan mengayun bersama/membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga/
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota/menaikkan layar menebar jala/
meraba kelam di tambang logam dan batubara/Rakyat ialah tangan yang bekerja//

//Rakyat ialah kita/otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka/yang selalu berkata dua adalah dua/yang bergerak di simpang siur garis niaga/Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka//

//Rakyat ialah kita/beragam suara di langit tanah tercinta/suara bangsi di rumah berjenjang bertangga/suara kecapi di pegunungan jelita/suara bonang mengambang di pendapa/suara kecak di muka pura/suara tifa di hutan kebun pala/Rakyat ialah suara beraneka//

//Rakyat ialah kita/puisi kaya makna di wajah semesta/di darat/hari yang beringat/gunung batu berwarna coklat/di laut/angin yang menyapu kabut/awan menyimpan topan/Rakyat ialah puisi di wajah semesta//

//Rakyat ialah kita/darah di tubuh bangsa/debar sepanjang masa//

Tentang Hartojo Andangdjaja
Dia adalah penyair kerakyatan yang ikut serta mencetuskan Manifes Kebudayaan tahun 1963. Dia dilahirkan pada tanggal 4 Juli 1930 di kota Solo, Jawa Tengah, dan meninggal di kota yang sama pada usia 60 tahun, tepatnya tanggal 30 Agustus 1990.

SAJAK BUAT NEGARAKU, karya Kriapur:

//di tubuh semesta tercinta/buku-buku negeriku tersimpan/setiap gunung-gunung dan batunya/padang-padang dan hutan/semua punya suara/semua terhampar biru di bawah langitnya/tapi hujan selalu tertahan dalam topan/hingga bintang-bintang liar/mengembara dan terjaga di setiap tikungan/kota-kota//

//di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/pada hari-hari sebelum catatan akhir/musim telah merontokkan daun-daun/semua akan menangis/semua akan menangis/laut akan berteriak dengan gemuruhnya/rumput akan mencambuk dengan desaunya/siang akan meledak dengan mataharinya/dan musim-musim dari kuburan/akan bangkit/semua akan bersujud/berhenti untuk keheningan//

//pada yang bernama keheningan/semua akan berlabuh/bangsaku, bangsa dari segala bangsa/rakyatku siap dengan tombaknya/siap dengan kapaknya/bayi-bayi memiliki pisau di mulut/tapi aku hanya siap dengan puisi/dengan puisi bulan terguncang/menetes darah hitam dari luka lama//

Solo, 1983

Tentang Kriapur

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 6 Agustus 1959, dan meninggal di Batang, Provinsi yang sama, 17 Februari 1987. Menulis sejak 1974. Puisi-puisinya dikumpulkan dalam Tiang Hitam Belukar Malam (1996), dan sejumlah Antologi

MENUNGGU, Karya Isbedy Stiawan ZS:

//Akan patah tiang-tiang listrik/Tapi kujaga tubuhmu agar tetap terang/Karena lampu itu ada pada matamu, Sayang//

//Kalau jalan-jalan tak memberimu pulang, Sayang/Akan kubuat garis hanya ke haribaanmu/Talang ini telah menunggu mata air/Yang kutimba dari kata-katamu//
//menyejukkan//

//Jika kau masih bertahan di situ, Sayang/Akan kukirim mantra agar kau tahu/Kemana kau lelap//

//Ke diriku di tepi ranjang/Kau akan langkahi bayang-bayang//

20 Juli 2013

Tentang Isbedy Stiawan ZS

Lahir dan besar di Tanjungkarang (kini Bandar Lampung). Buku Puisinya antara lain:
(1) Tahilalatmu, (2) Lelaki Membawa Matahari. (3) Lukisan Ombak, (4) Kota Cahaya (100 Puisi Pilihan), (5) Taman di Bibirmu, dan (6) Dongeng Adelia. Selain berkhidmat di Dewa Kesenian Lampung, sehari-hari di Lampung TV.

ROHMANTIK, karya Irman Syah:

//bila cinta telah kauberi/jangan rujuk di kebimbangan/keduaan hati rumah seribu pintu/jalan beribu simpang/jangan, kabut dan kelam/’kan bergenggaman//

//cinta satuan hidup/keseluruhan daun-daun/di hausnya akar, bersama-Nya/tentu putik menjadi bunga/wangi hidup berketulusan//

//sayang, aku hilang..//

//aku hilang di ketiadaan/yang sempurna/di cinta yang merah-delima/dialah yang Mahasegala/tak compang secuil usap/keabadian, lahapan kasih-sayang//

Kembang IX, Jakarta: 02/2006

Tentang Irman Syah

Penyair Rohmantik Minangkabau ini adalah Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang dan mantan Guru di Ruang Pendidik INS Kayutanam Sumatera Barat. Memilih untuk melisankan puisinya di jalanan, bus, taman kota, stasiun, terminal, panti jompo, dan penjara. Sekarang menetap di Jakarta sebagai aktor, aktivis sastra, konsultan kreatif dan pendiri beberapa komunitas di Jakarta.

Musikalisasi Puisi dan Tantangan Kreativitas:

Memusikalisasikan puisi adalah sebuah kreativitas yang luar biasa karena berusaha menyingkap kandungan persoalan dari nilai makna yang tak terduga di dalamnya. Dengan begitu, tak banyak orang yang mampu mengungkapkannya secara teoritis mulai dari proses sampai teciptanya karya musikalisasi puisi sebagai sebuah seni pertujukan sastra.

Hal ini bisa saja disebabkan penafsiran puisi serta konsep yang digunakan bukanlah sesuatu yang simple dan biasa-biasa saja. Bukankah dalam memahami karya sastra, khususnya puisi tidak serta merta bisa dilakukan dengan satu pendekatan yang alakadarnya saja. Begitu pula dengan konsep yang digunakan dalam penggarapan komposisi musikal puisinya .

Sebuah grup musikalisasi semestinya memiliki ketajaman pandang dalam melihat, menilai dan mencermati puisi yang akan diangkat menjadi karya musikal. Pimpinan kreatif grup Musikalisasi Puisi pun dituntut kesungguhannya dalam usaha pendekatan karya serta pisau analisa yang akan dia gunakan. Ketepatan pendekatan yang digunakan akan membuka jendela-jendela kemungkinan yang baru tentang kenyataan puitik dari kandungan puisi itu sendiri dan kreativitas akan terbuka dengan lebarnya. Karya puisi sebagai sebuah dunia akan menjadi lahan lapang untuk dapat diisikan elemen musikal yang tepat untuk membahasakannya.

Kolofon (baik berupa tanggal, bulan, tahun dan tempat di mana karya itu ditulis), judul, asal-usul penyair, budaya, serta semangat zaman yang melingkupi kelahiran karya dan kajian ekstrinsik dan intrinsiknya adalah kunci yang mesti ditemukan oleh grup ketika menggarap karya. Sebuah grup musikalisai puisi seharusnya memiliki seorang penyair, atau apresiator tersendiri pula. Langkah dasar yang akan diambil dalam penggarapan karya tentu akan mampu menjadikan karya lebih kuat.

Pemilihan puisi yang akan dijadikan karya musikalisasi mesti dipertimbangkan dengan matang. Dalam sebuah lomba atau festival musikalisasi puisi kenyataan ini sangat menentukan. Puisi yang kuat akan lebih tajam gaung dan gema nada-bahasanya dibandingkan dengan puisi yang kurang kuat. Jika puisi yang dipilih cuma didasari pada peluang kemudahan penggarapannya maka jalinan komunikasi musikalnya pun juga tidak akan begitu kuat dan utuh apalagi mampu mengikat penonton terpikat untuk tidak beranjak?

Pikatan nada dalam musikalisasi puisi akan semakin terasa dalam genggaman nada di makna puisi yang berkedalaman. Kekuatan puisi macam inilah yang dieksplorasi melalui asal-usul nada dan karakter bunyi yang sesuai untuk dibubuhkan pada komposisi musikalnya yang tepat. Langkah ini mesti dituangkan secara jeli dan lreatif ke dalam konsep penggarapannya yang harmoni. Kesungguhan dalam kajian serta totalias dalam penggarapan akan menjadikan karya musikalisasi puisi sebagai tiang utama apresiasi dan tentu menjadikan musik yang mengabdi kepada puisi.

Pengucapan Karya dan Ruang Puitik:

Ketika puisi diungkapkan dalam format pentas musikalisasi, maka panggung akan langsung berubah fungsi menjadi ruang yang puitik. Komunikasi bahasa tubuh/gesture dan tampilan yang dimunculkan di panggung akan mampu menyulap media (mixer dan perangkatnya) serta artistic dan dekor yang meskipun sederhana tapi akan berubah menjadi puisi dalam nada, ruang dan visualisasinya.

Sesugguhnya itulah sasaran yang hendak dicapai dalam format/konsep bangunan nada dalam mengungkapkan puisi secara musikal. Hal ideal semacam ini adalah juga merupakan kesuksesan sebuah grup musikalisasi. Tetu saja tidak semua grup mampu untuk menemukan capaian semacam itu. Patokan diatas setidaknya akan menjadi awalan yang baik untuk membangun magnit komunikasi pada penonton.

Dari sisi teks puisi, ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan bila peserta/grup musikalisasi puisi mengikuti ajang lomba atau festival. Di dalamnya tentu ada aturan, kriteria serta format standard yang telah ditentukan. Semua ini akan menjadi patokan penilaian. Terlebih lagi perihal teks puisi: ini desebabkan, karena puisi yang menjadi dasar olahan dalam penggarapan. Dengan begitu, kesetiaan pada teks puisi sesuai aslinya adalah keutamaan.

Keberangkatan Musikalisasi Puisi wajib berawal dari puisi dan kematangan ‘resepsi’ (ist. Umar Junus dalam bukuya ‘Resepsi Sastra’) dan ini mesti dicatat: bukan bermula dari musik, tapi dari puisi. Pendapat ini sesuai penekanan yang diucapkan Sutardji Calzoum Bachri tentang Musikalisasi Puisi, yakni; musik mesti mengabdi pada puisi! Maka adalah suatu yang salah bila musik atau irama yang didahulukan kemudian memaksakan teks puisi berdempetan di dalamnya.

Hal demikian tentu akan menjadikan puisi sebagai ‘pelengkap penderita’ saja dari garapan yang dilakukan oleh grup musikalisasi. Untuk ini, H. Fredie Arsy (Bapak Musikalisasi Puisi Indonesia) pun memberikan gambaran sederhana dan menyebutnya dengan istilah yang ringan dan gamblang, atau mudah dicerna yakni dengan cara ‘memelodikan kata’. Berangkat dari sinilah standard dan kriteria penilaian musikalisasi puisi bermula, yakni; ‘Penafsiran’, kemudian ‘Komposisi Musikal’, ‘Harmoni’, ‘Vokal’ dan ‘penampilan’ yang kesemuanya itu jadi pelengkap keutuhan penilaian.

Penghargaan terhadap penyair yang telah menciptakan puisi sangat diharapkan, terutama kejujuran kreatif. Jangan sampai ada penambahan dan pengurangan terhadap teks dalam menggarap sebuah musikalisasi puisi. Jangankan ‘kata’, ‘larik’, dan ‘bait’, malah titik (.) koma (,) pun mesti dijaga dan mesti dipertimbangkan. Begitu juga dalam pengulangan kata, larik dan bait: ini sangat tak dibenarkan, karena inilah pembeda antara musikalisasi puisi dengan ‘song’ yang memang membutuhkan reffrainnya.

Dengan begitu keabsahan karya musikalisasi puisi tetap menjadi usaha apresiasi kreatif yang betul-betul berangkat dari karya puisi sesuai dengan teks yang ditulis penyairnya. Di luar itu tentu menjadi adaptasi karya. Kalau musikalisasi puisi berhasil mengutuhkan karya puisi, maka barulah bisa dikatakan bahwa pemusikalisasian puisi itu mampu menjadi ‘penyambung lidah’ penyair serta mencahayakan puisi melalui komposisi musikalnya yang tertata untuk mewujudkan makna yang tepat beserta kakayaan nada dengan harmoniya.

Pemusikalisasi puisi yang matang akan kelihatan dari cara pandang dan sikap artistiknya ketika memahamami dan memanfaatkan panggung sebagai ruang puitik. Begitu juga kesigapan dan ketepatan apresiatornya dalam memilih dan menggunakan media penyampai, seperti; pengeras suara, stand-mix dan elemen panggung lainnya.

Hal yang demikian itu, meski kecil tapi juga merupakan faktor penentu berhasil atau tidaknya sebuah komunikasi karya dengan audiens. Kesiagaan semacam itu sesungguhnya adalah keutuhan yang mesti dimiliki oleh apresiator agar komunikasi yang diciptakan dapat saling lengkap-melengkapi berdasarkan keutuhan makna yang disampaikan.

Jakarta, 5 Maret 2015

*) Konsultan Kreatif Komunitas Sastra Kalimalang & Pengurus KOMPI Pusat.

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI