Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

TENTANG PROSA TAN MALAKA



(Tan Malaka Prosa itu Sendiri)

 

AWALAN

Kebahagiaan seseorang salah satunya adalah menceritakan dirinya kepada orang lain. Cerita atau kisah semacam ini tentu saja menuntutnya untuk bersikap jujur, memberi arti, cermat dan apa adanya dalam mengisahkan. Apa yang dia tulis dan ungkapkan dalam ceritanya yang Panjang lebar itu mestilah pula dapat ia pertanggung-jawabkan di dalam bentuk kenyataan yang sesungguhnya.

Banyak sekali cerita hidup yang dialami manusia termaktub di dalam kehidupan dan dialami  oleh setiap orang. Cerita-cerita hidup semacam itu tentu saja sangat bermanfaat bagi orang lain. Bisa saja orang yang membaca dan mendengarkan cerita atau kisah hidup itu akan dapat memetik hikmah di dalamnya. Dengan begitu kehidupannya pun akan menjadi lebih kaya dan bermakna.

Andai kata apa yang diceritakan oleh seseorang itu adalah sebuah kisah yang telah dengan sengaja ditambah-kuranginya semau hati, untuk membuat orang lain baik pembaca atau pendengar tertarik dan terpikat, tentulah ini sebuah kebohongan. Dan apabila kebohongan semacam ini terbongkar maka masalah lain pun akan bermunculan. Bisa saja nantinya berubah menjadi pisau makan tuan.

Apa yang telah dipaparkan itu bukan lagi bermanfaat tapi malahan menimbulkan kemudaratan bagi dirinya sendiri. Pendengar atau pembaca tantu akan terpancing untuk menudingnya. Tidak hanya sampai di situ, malah bisa bisa pula nantinya berakibat pada hal-hal yang tidak diinginkan. Artinya, untuk menceritakan sebuah kisah tentang diri sendiri perlu kejujuran dan pertimbangan.

 

TENTANG PROSA

Berangkat dari paragraf di atas kita coba untuk melihat dan minilik kembali bagaimana prosa memberikan pemaknaan dan sumbangsih tersendiri baik bagi penulis, tokoh, ataupun pembacanya, dan bahkan sekaligus punya dampak pasti bagi sesuatu yang lebih besar. Karenanya, dengan demikian kita bisa pula menempatkan sesuatu secara tepat tentang apa yang kita bicarakan.

Sebut saja kisah, atau sebuah prosa yang berangkat dari paparan yang merangkum sebuah kisah. Cerita perjalanan dan pelayaran seseorang dari suatu daerah ke daerah lain umpamanya. Beragam  pengalaman yang didapat dari tempat yang disinggahi tentu saja akan memberikan pengetahuan dan tersendiri. Banyak kenyataan tak terduga yang memunculkan semangat baru bagi kehidupan.

Begitu pula halnya dengan prosa yang terkemas dalam bentuk riwayat atau biografi. Isian berupa pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa pula pemaparan atas pengalaman hidup orang lain sedari kecil hingga dewasa dan bahkan sampai meninggal dunia (biografi), semua itu akan dapat dijadikan ruang pemaknaan yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkaca.

Sebagai contoh, ketika seorang anak muda membaca biografi atau otobiografi seseorang, yang di dalamnya mengandung riwayat hidup, maka kaca banding itu muncul begitu saja. Capaian dan usia akan dapat berbicara dengan mudah dan tergambar dengan jelas.  Dan dia pun akan dapat mengambil sikap dengan jalan membandingkan kenyataan usia tokoh melalui riwayatnya.

 

SEDIKIT TENTANG TAN

Tan Malaka adalah tokoh misterius dalam pegerakan dan perjuangan negeri ini. Kekuatan pemikiran dan perjalanan hidupnya sangat fenomenal dan ini pun tertuang dalam tulisan-tulisannya yang akurat melalui buku-buku yang ia wariskan. Ketokohannya pun menjadi pro-kontra pula di negeri ini. Sutan Ibrahim Namanya, bergelar Datuk Tan Malaka.

Dari gelar inilah penamaan ketokohannya disebut orang, yaitu: Tan Malaka. Filosofi hidupnya tak lain adalah filosofi Minangkabau, yaitu: Alam terkembang jadi guru. Misi revolusi adalah cita-cita yang ia miliki. Di Negara lain, seperti Jerman kita bisa memadankannya ketokohannya dengan Nietzsche. Dia muncul dengan filosofi ke-eksistensialis-annya.

Melalui filosofi keminangannya Tan Malaka bergerilya dan menularkan pergerakan perjuangan  menuju republik untuk sebuah keutuhan negara Indonesia. Naar de Republiek (1925) dan Massa Actie (1926) adalah acuan pergerakan yang ia telorkan dalam bentuk buku pada zaman perjuangan kemerdekaan. Buku ini merupakan pegangan para pejuang. Tak terkecuali Soekarno.

Sebagai motor penggerak sejarah, Tan Malaka memiliki kekuatan dengan dasar pikiran yang rasional, lebih dari perjuangan kelas. Semua terpapar jelas dalam bukunya yang spektakular, Madilog. Dalam pandangan pemikirannya, rakyat Indonesia Asli percaya pada kekuatan yang melekat pada material dan spiritual. Mereka menilai secara realistis, baik kekuatan alam maupun kekuatan dari diri mereka sendiri.

Menurut filosofi hidup Tan Malaka, seharusnya negara Republik Indonesia mestilah berdasarkan sosialisme yang tiada sedikit pun berdasarkan imperealisme dan kapitalisme. Asia Tenggara bersatu dengan Australia untuk sebuah bangunan Aslia. Ia menyebutnya dengan sumbu Bonjol-Malaka dan garis ini sangat layak dan memenuhi syarat untuk strategi dan diplomasi. Sumbu ini pun akan menguasai dua benua dan dua samudera besar. Semua tentu akan menjadi luar biasa karena memang punya kedekatan serta kekayaan alam yang dimilikinya.

Dalam mengaplikasikan konsep dan gagasan yang dia miliki, apalagi dengan jalan gerilya tentu saja bukanlah hal yang mudah. Dikejar-kejar, menjadi buron, dan juga ditangkap. Beragam penjara telah didiaminya. Dan Tan Malaka setia menjalaninya. Begitu banyak pro dan kontra yang menguburkan informasi tentangnya bagi generasi negeri ini.

 

DARI PE NJARA KE PENJARA

Tersebab dorongan teman-teman diluar atau pun yang berada di dalam penjara yang mengusulkan agar Tan menuliskan sejarah hidupnya dengan tujuan agar nantinya dapat dijadikan pelajaran bagi para pahlawan kemerdekaan sekarang dan di hari depan, akhirnya Tan Malaka pun menuliskannya. Itu pun ditulisnya setelah berjarak dan waktu itu ia ditempatkan di sel yang sunyi senyap, tak bercampur. Tepatnya di penjara Magelang. Maka lahirlah Dari Penjara ke Penjara.

Buku ini merupakan memoar perjalanan, ditulis pada tahun 1947 dan baru bisa terbit pada 1948 dalam bentuk stensilan. Berkisah ketika masih bersekolah di Kweekschool (Sekolah Guru) Bukit Tinggi. Kemudian berlanjut ke Belanda, bekerja di Deli, tinggal di Semarang dan bersinggungan dengan Sarekat Islam. Terus ditangkap di Bandung dan diasingkan ke Belanda. Kemudian bertualang ke Jerman, Rusia, China, Filipina, Hongkong, Birma, Singapura dan kembali lagi ke Indonesia pada zaman penjajahan Jepang,

Melalui buku Dari Penjara ke Penjara ini banyak yang tersibak. Prosa ini terasa kuat menuntun dan memperjelas kedirian, asal dan perjalanan hidup Tan Malaka. Riwayat atau otobiografi Dari Penjara ke Penjara ini terasa mencerahkan dan mampu menghubungkan sejumlah mata rantai perjalanan. Buku ini pun dapat dijadikan sebagai indeks dalam menelusuri seluk-beluk kehidupan dan perjuangan Tan Malaka.

“Buku ini saya beri nama Dari Penjara ke Penjara. Memang saya rasa ada hubungannya antara penjara dengan kemerdekaan sejati. Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri.” Demikian ungkapnya. Dan Tan Malaka pun menuturkan pergulatannya bagaimana ketika ia di penjara Hindia-Belanda dan Filipina. Meski berada di balik jeruji, Tan Malaka tetap berusaha mendobrak semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang diri Tan Malaka, tapi juga meluas pada sejarah dunia serta pergolakan yang terjadi saat itu. Dan di dalamnya, Tan Malaka adalah salah satu dari orang yang ikut menggerakkannya. Membacanya kita seakan disajikan tentang bagaimana kondisi Tanah Minang, kota Leiden Belanda, Komintern di Rusia, hingga penyerangan Jepang ke Semenanjung Malaya. Paparan dan gaya bahasa yang digunakan merupakan tuturan ringan, dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini tentu saja merupakan suatu kemampuan susastra yang tak sekedar.

 

KEKAYAAN BAHASA

Gaya ungkap dan kekayaan bahasa yang dimiliki Tan Malaka dalam menggambarkan peristiwa terasa memukau. Kelembutan, ketepatan, dan keindahan berbahasa dalam penggambaran suasananya membuat karya ini menjadi memikat. Dapat kita lihat narasi yang dihadirkan Tan dalam menggambarkan suasana ketika pulang dari Belanda menuju Indonesia, seperti di bawah ini:

Hawa mulai sejuk, hujan rintik-rintik, angin bertiup sepoi-sepoi basah, November 1919. Kapal Samudra mengangkat jangkarnya dengan gemuruh, memutarkan mesin sayap di buritan, mengombak gelorakan air, lebih hebat daripada rodanya ikan paus mengacaukan lautan sekelilingnya, waktu mulai berenang. Perlahan-lahan kota Amsterdam ditinggalkan sampai hanya kelihatan kelompokan rumah yang kabur, sayup-sayup dipandang mata..

Gejolak dan peristiwa serta muatan dalam kandungan prosa melalui narasi ini seakan tersejukkan, padahal duka derita dan gejolak perjuangan serta unggunan api pemberontakan berkecamuk begitu tajam.

Kita simak pula narasi berikutnya lewat bahasanya  :

Negara Belanda sudah di belakang, dan kapal kita sekarang berada di Noordzee menuju ke Indonesia melalui Samudra Atlantika. Selat Gibraltar, Lautan Tengah, lautan Merah, dan akhirnya Samudra Hindia. Lebih kurang 6 tahun lampau melalui tempat ini juga tetapi dengan arah sebaliknya, ialah dari Timur ke Barat. Alangkah banyaknya perubahan yang kualami dalam diriku sendiri..

Menghadirkan sebuah narasi untuk dua peristiwa (pergi dan pulang) semacam di atas tentulah sebuah kecerdasan berbahasa yang bukan tanpa sengaja.

Meski penulisan kisah ini ditulis di dalam jeruji penjara, Tan Malaka yang memiliki daya ingat  tinggi akhirnya mampu dengan gamblang melukiskan jalinan peristiwa dan Riwayat hidupnya tanpa ketinggalan akar budayanya. Hal ini dapat tercermin dalam narasi ini:

Akhirnya Sabang Indonesia. Di tepi pantai, dari atas bukit mengagumi matahari terbenam! Aneka warna yang bertukar setiap menit! Saksikanlah sendiri! Sampailah sekarangke ujung pelajaran! Lautan Hindialah yang penghabisan dilayari dari pantai Afrika-Arabia sampai ke pantai Sumatera. Inilah samudra yang yang diarungi oleh moyang bangsa Indonesia sekarang, di jaman gelap-gulita.

Itulah bangsa perantau. Semangat pertahananlah yang mendorong mereka mencari tempat kediaman baru, apabila alam tidak memungkinkan bagi mereka untuk hidup. Pada masyarakat Minangkabau dan Batak. ‘Berpedoman bulan dan bintang, dilayarkan perahu ramping, di jamin oleh alat cerdik bersemangat bertoboh, bergotong-royong atau tolong menolong dimasa bahagia “hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicacah” dan bahaya “telentang sama minum air, terlungkup sama makan tanah”.. samuderapun cuma danau saja dimata mereka

 

AKHIRAN

Demikian uraian sederhana dan pembahasan singkat tentang bagaimana Tan Malaka menghasilkan sebuah karya dan merumuskan pandangan dunianya. Sosoknya yang idealis, tahan pada kondisi sulit dan jenius terlihat pada kemampuan analisanya yang tajam tentang kondisi sosial-politik-ekonomi dari keluasan  ilmu yang ia kuasai. Semua tertuang lewat tulisan-tulisannya yang terang.  

Dengan menelusuri prosa Dari Penjara ke Penjara serta menikmati pengembaraan, kejaran dan pelariannya terasa betul perjuangannya sebagai arsitektur kemanusiaan. Semua ini lahir dan mengalir nyata melalui mahkota-mahkota bahasa yang ia tuliskan.  Begitu pun sastrawan-sastrawan lain dan dengan segala apa yang dialami oleh Tan Malaka telah menjadikannya pros aitu sendiri.

Magek-Payakumbuh, 3 Desember 2020

spacer

Membincang Sinama: Pembicaraan Apresiasi

Oleh Irman Syah

Merantau adalah sebuah gumpalan cinta keturunan: kita pulang. Dengan jalan berkabar, lirik-lirik kisah Sinama pun bermula (ke pangkal batang), tentang Puti Mendaki Arus serta bangunan kerisauan perihal kelengangan akan kepergian anak-anak bujang ke perantauan telah disambut lambaian sawah dan ladang yang terbengkalai, tak tergilai.

Dikisahkan pula sebuah peristiwa di Ikan Banyak tentang ritus ikan-ikan pada sebuah upacara. Selepas itu, Puti Keturunan pun berangkat. Bila Batang Gosan dan Batang Liki yang menghilir, panjang dan berliku curam serta berhantu itu bertemu (Pengantin Ikan) maka pesta pun akan dilangsungkan.

Dipukul jualah akhirnya canang dan talempong, suara saluang dan sampelong berpanggilan. Perkawinan Puti dengan Pangeran dilangsungkan, waktunya setepat purnama. Dan, kelak, di tahun-tahun kemudian lahirlah Sinama. Bait-bait dan judul dari penggalan puisi dalam buku ini kemudian datang menjelaskan.

Semacam pengantar singkat dari tubuh-tubuh puisi di atas terasa bagai legenda/mitos yang barangkali memang masih melekat bagi sebagian masyarakat sepanjang Sinama. Untuk lebih pastinya tentu diperlukan penelusuran lebih jauh tentang ini. Meski pun begitu dalam sebuah perbincangan semacam ini tentu akan menjadi lebih terang.

Terkabarlah (para penambang) di Manggani, bila Mauna datang maka emas berbungkah akan dijelang. Para penambang akan bergegas. linggis, cangkul, pacul dan sekop akan bercerabut mengeruk perut bukit. Pendapatan akan berlipat. Dan Mauna, gadis ‘misterius’ yang berkayuh sampan dengan lapik sirah sendiri tetap menjadi sebuah tanya, di manakah dia, adakah..?

Iyut Fitra, dengan sigap menjadikan Mauna sebagai simpul untuk mengikat alur peristiwa dan pengucapan puisinya. Terlihat jelas ia menciptakan keberangkatan momen puitik tersebut dengan jalan membangun ruang kreatif yang luas dalam melahirkan sudut pandang karya lewat Mauna:

seribu tubuh tegak batu-batu. ke tenggara

ke gunung sago pandang dilayang

adakah mauna di sana? (menhir)

Melalui Mauna, peristiwa-peristiwa berlangsung, hikayat dan sejarah, murka dan bala (guak lago) berbuah bibir. Dan Mauna, gadis misterius itu, ia terus berkayuh. meski Sinama semakin keruh. Di tepi Sinama ia tertegun (pertemuan di padang jopang).

Sebuah cuplikan sejarah diantarkan. Larik-larik pada bait puisi kemudian mengabarkan peristiwa pertemuan antara Soekarno dan Syekh Abbas Abdullah di Tanjuang Ongik, tepatnya di Surau Godang. Meski tak disebut nama, tapi hadiah kopiah BK dapat dijadikan sebagai indeksnya,

Puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi Sinama ini maknanya terasa sesuai nama, mengalir dalam bahasa terpilih dan terpaut pula pada kedekatan akan kampung halaman berasa dendang menghanyutkan:  

hulu, muara, hanya cinta tak sudah

pergi lalu kembali

ke mana akan pulang

apakah pada mitos, legenda, atau sejarah?

dari hulu air terus mengalir (jalan air)

Keraguan, kekaburan, dan kesangsian tentang hal yang menyangkut keberadaan dan asal-muasal segala hal, kembali dipertanyakan. Terutama Tanah Ibu, maka ditelisik lagi ia dalam randai, dalam kaba, dalam tambo, atau kenangan:

mauna terus mencari. dalam ragam kesepian

sepanjang sinama

demi silsilah diri sendiri (minanga tamwan)

di tanah ibu

kepergian berkumandang berkali-kali

dalam luka diulang-ulang (rambun kasian)

Mauna yang dijadikan tali pengikat dalam menjahit peristiwa demi peristiwa, apakah itu dalam pencarian akan penemuan dengan menelusuri Sinama atau ke mana tiba, itu pun telah menciptakan grafik tersendiri dalam alur pengucapan.

Rintangan dan kesendirian Mauna pun mengantarkannya pada kenyataan yang mesti dihadapi alur puisi.  Ragam mistik, mantra, lubuk sakti, sirompak, bunga sedap malam, menyan, si Babausi Bigausi Buniansi Begu dan lainnya dapat dijumpai pada (pinggang gunung bungsu), (sumur onggang), (kisah-kisah hilang), (air tujuh muara). Semua itu menjadikan kisah puitik ini semakin kaya dengan ketegangan tersendiri bagi pembaca dalam menikmatinya.

Membaca puisi-puisi yang terangkum dalam kumpulan Sinama ini, niscaya, pembaca akan dapat memperkaya konsep dan penemuan baru dalam berkarya. Pengetahuan, falsafah, kecintaan, sikap, pemilikan dan perenungan akan kesadaran diri dan lingkungan merupakan muatan Sinama yang sarat bagi pandangan dan filosofi kehidupan.

Penggunaan bahasa Iyut Fitra yang menghidupkan khasanah lokalias perlu dipujikan. Kepadatan isian yang dimilikinya pun jalin-menjalin dalam bahasa yang tertata serta dengan penggalan-penggalan peristiwa yang mangakar berdasarkan judul-judul yang ditempatkan.

Rantau dan kepulangan serta negeri yang ditinggalkan untuk kemudian dijumpai lagi adalah puisi kehidupan yang penuh misteri. Iyut berhasil membangun dunia rekaan lokalitasnya yang kaya, baik kandungan peristiwa, prosesi, adat, kandungan alam, sungai, sawah, hutan, lembah, dan bukit dengan emasnya.

Dan yang lebih menarik, melalui-teks-teksnya, Iyut berhasil menghidupkan diksi-diksi tua lewat idiom-idiom dan penamaan, baik pantun dan mantra, atau saluangcanangtalempong dan sampelong serta dendang sirompak. Begitu pula halnya dengan pemetaan kampung dan korong. Kekuatan ini membuat kita rasa berada dan seakan ikut menelusuri jejak sejarah sepanjang Sinama.

Seperti halnya misteri Mauna, gadis hanyut dari hulu, atau menyongsong arus dari muara. Berperahu lapik sirah dan kadang bersampan naga, berkayuh sendiri atau bernyanyi sekali-sekali (mauna) di Batang Sinama yang menghilir ke tiga daerah; Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Sijunjung.

Magek, 7 Agustus 2020


spacer

Dari Bahasa Toilet ke Negeri Batu, Suatu Dunia yang Terbalik




Oleh  Dr. Fadlillah *)


Abstrak
Topik bahasan adalah salah satu faset (sisi) kumpulan puisi Rohmantik, dengan fokus sastra dunia terbalik, pada dunia bahasa toilet negeri Malin Kundang. Adapun pokok permasalahan tentang puitika dunia terbalik. Dalam bahasan ini digunakan teori sastra dunia terbalik. Kemudian ditemukan, tentang hakekat estetika toilet.

Kata kunci: estetika toilet, negeri batu, dunia terbalik.


Pendahuluan
Sajak Grafiti Toilet (1994, Singgalang) jauh lebih dahulu hadir daripada cerpen Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan  (1999, di Media Indonesia) dan diterjemahkan ke bahasa Inggris Graffiti in the Toilet oleh Benedict Anderson (f-nya dua, dan Irman Syah f-nya satu, grafiti dalam adaptasi bahasa Indonesia), yang pada akhirnya dibukukan jadi kumpulan cerpen dengan judul Corat-coret di Toilet. Adapun isi atau tema kedua karya ini nyaris selaras, namun gaya, visi, paradigma keduanya berbeda. Hal ini suatu peluang untuk pengkajian intertekstual, namun saya tidak melakukannya, silahkan peneliti berikutnya untuk melakukannya.

Dari Bahasa Toilet ke Negeri Batu, “Rohmantik” yang Hilang
Dalam hal ini saya hanya membahas tentang hadirnya suatu paradigma dunia terbalik secara diam-diam, mungkin tersembunyi.  Sebagaimana pada penampakan resensi penerbit Mizan terhadap cerpen Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan, dengan ungkapan, “Tahukah kamu bahwa toilet yang kotor, kumuh, bau yang kamu bayangkan itu dapat menjadi inspirasi bagi seorang penulis besar seperti Eka Kurniawan”. Hal ini juga pernah diungkapkan A.A. Navis bahwa toilet tempat inspirasi karya. Tesisnya bahwa hal-hal yang baik, luhur, besar, mulia, lahir diinspirasi dari yang kotor. Sama dengan suatu iklan yang ditayangkan secara terus menerus dan tentu akan  lekat selekat2nya dalam benak setiap orang, bahwa “bermain kotor itu baik atau berbuat kotorlah karena ia akan mendatangkan kebaikan”. Sementara tesis ini jelas terbalik dengan dunia nilai-nilai agama, adat dan tradisi budaya.

Selanjutnya pada cerpen Eka dihadirkan tesis “suara rakyat di coretan toilet umum”, bolanya melanting kepada bola salju (bukan bola salju api menurut BSM), kebenaran itu datang dari dunia kotor, profan, bukan dari dunia suci (agama), bukankah banyak orang memperalat agama, dan pemuka agama juga banyak bermain kotor, inilah yang harus dipegang. Maka disumpulkan; “Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet.” Dengan demikian dunia sudah terbalik, orang lebih percaya pada tempat kotor. Lahirlah demokrasi toilet, pertama kali terduduk di DPR maka yang dilakukan perbaikan dengan anggaran besar adalah toilet (Tempo, Rabu, 7 November 2012). Sehingga banyak juga yang mengemukakan persoalan demokrasi kaum penjahat, demokrasi preman, demokrasi kaum toilet.

Berbeda dengan Eka, Irman Syah tidak menghadirkan tesis itu, dan tidak ada menyatakan toilet tempat inspirasi dan kebenaran lahir dari tempat kotor, atau suara rakyat lahir dari tempat kotor. Mengapa begitu, karena hal itu dinyatakan oleh  puisi bahasa Negeri Kaki Lima, Negeri Batu. Puisi Negeri Kaki Lima menjelaskan  atau menafsirkan puisi  Grafiti Toilet (dalam hal ini saya memakai metode puisi yang satu ditafsirkan atau dijelaskan oleh puisi yang lain). Pada Grafiti Toilet diungkapkan, Irman Syah membaca realitas bahwa dunia pendidikan anak bangsa sudah dihadirkan dengan sistem, struktur, cara dan tempat yang kotor (suatu kritik tajam dan satir terhadap dunia pendidikan; memusuhi agama dalam tanda kutip). Maka menurut Irman Syah nanti para pemimpin dan bangsa akan lahir dan hadir dengan cara kotor, Irman Syah menyebut dengan istilah bahasa (hal ini merujuk kepada bahasa menunjukkan bangsa) pasar pedagang kaki lima, bahasa ini penuh dengan bahasa kasar, kotor, sekarang orang menyebutnya dengan budaya bahasa toilet.

Sehingga seorang pejabat dari daerah nomor satu, dalam bergelangang mata orang banyak, pada siaran lansung televisi, dengan padat dan kamek bersabda dengan  bahasa toilet untuk menyatakan kesucian dia dan buruknya lawan dan musuhnya, atau ada yang mengakhiri jabatannya dengan bahasa toilet (su-ul Khatimah). Kemudian diikuti banyak orang atau pengikutnya sampai kepada  tokoh-tokoh proxy war dan asimetris, semua orang terkagum-kagum dan bersorak gembira dan membelanya sebela-belanya (bela bahasa Minang). Mencaci maki etnis bangsa sendiri. Kemudian di masyarakat mulai hadir  bentuk cara makan dengan wadah toilet di kafe mewah, dan sesudah itu berhamburan nama-nama kafe sampai ke puncak gunung dan pantai dengan nama bahasa toilet. Konon salah satu interprenuer muda bahasa toilet terkemuka itu dilahirkan oleh Universitas tertua di Sumatra.

Hal itu menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang hanya di“dibekas” daerah Minangkabau permaian bahasa toilet di tidak laku, karena mungkin masih ada sisa-sisa tradisi bermain dengan kata-kata tetapi harus sadar dan tidak mau dipermainkan oleh kata-kata (silek kato). Masih ada sisa-sisa kesadaran terhadap kato pusako, bagaimana “bergelut” dengan matan. mantik dan makna sampai pada iman. Masih mangkus juga sisa-sisa itu dari penghancuran linguistik struktural modern, kononlah bila itu bukan sisa.

Grafiti Toilet selanjutnya ditafsirkan oleh puisi Negeri Batu. Dengan pengertian ketika suatu negeri sudah berbahasa dan berbudaya toilet maka Irman Syah menyebut itu negeri Malin Kundang, semua sudah jadi batu. Ini dunia yang terbalik, kondisi terbalik, secara nilai-nilai, bahasa dan budaya, dalam bahasa agamanya negeri yang sudah dibalik Tuhan, maka jadilah negeri batu. Selanjutnya dapat ditasirkan oleh puisi Air Mata Negeri dan Di Negeri Penuh Luka.

Lantas, dimana keindahan atau estetika puisi Irman Syah, itulah pada konsep roh. Konsep keindahan pada Irman Syah pada jiwa, roh, pada iman, bukan pada estetika tubuh. Konsep estetika  raso jo pareso, raso dibawo naik pareso di bawo turun. Puitika sastra berakar pada puitika Minangkabauistik dan itu hadir pada performance-nya. Bagi Irman Syah  estetika sastra atau puitika puisinya bukan estetika tubuh, bukan estetika strukturalisme yang begitu digemari oleh kelompok Ahmad Sahal, Ulil dan Salihara. Estetika tubuh atau puitika strukturalisme adalah estetika modern atau ada juga yang menyebut estetika moderat, yang pada intinya merupakan estetika materialisme, dengan dasar filosofi materialisme.

Jika Tan Malaka dengan tesis Madilog-nya (Meterialis. Dialektika dan Logika) maka mungkin dapat dikatakan bahwa Irman Syah menghadirkan diri dengan tesis Rohmantik (iman dan akal). Untuk menyatakan puitika sastra-nya, Irman Syah tidak seperti Sutardji-an dengan istilah kredo (syahadat), Irman Syah menyebutnya konsep dan panggung puisinya ‘rohmantik performance’ pada puisinya Rohmantik. Hal ini juga yang membedakannya dengan Chairil-lian dengan puitika materialisme, yang menolak keras konsep “berketulusan”, yang bagi Charil-an dengan murid penganut teguhnya Goenawan Mohamad menyatakan dengan tegas sebagai sesuatu yang bernama duka maha tuan bertahta.
Simpulan Sementara

Irman Syah menjawab seluruh persoalan itu dengan satu patah kata, yakni rohmantik. Dengan pengertian, kembali-lah kepada nurani, jiwa, roh, iman di dada dan yang ke-dua kembalilah kepada  mantik, logika, akal budi, akal sehat (hal ini berhubungan dengan kaji di surau; tentang matan, mantik dan makna. Hal ini mungkin ada dasarnya pada ungkapan Minang-nya raso dibawo naik, pareso dibawo turun, bersatunya raso jo pareso (jiwa dan akal, iman dan pikiran). Dengan demikian rohmantik merupakan sebuah capaian konsep dari pergulatan yang panjang dari puitika sastra yang digeluti oleh Irman Syah, dan ini bukanlah sebuah rumusan yang hadir begitu saja. Wasalam.

                                                                                    Wisma Berbintang, 24-02-2020

NB: Draf makalah belum diedit.



Rujukan

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak. Jakarta: Sinar Harapan.
Eneste. Pamusuk. 1983. Proses Kreatif, Mengapa dan bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: PT. Gramedia.
Kurniawan, Eka. 2014. Corat-coret di Toilet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Linz, Juan José.  2001. Menjauhi demokrasi kaum penjahat: belajar dari kekeliruan negara-negara lain. Bandung: Mizan.
Malaka, Tan. 2000. Madilog (Materialisme Dialektika Logika). Jakarta: Teplok Press.
Mohamad, Goenawan. 2011. debu, duka. dsb. Sebuah Pertimbangan Antftheodise.  Jakarta: Tempo dan PT. Grafitipers.
Syah, Irman, 2019. Rohmantik, Kitab Puisi Irman Syah. Yogyakarta: Penerbit Jual Buku Sastra.


*) Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Andalas, 
fadlillah@gmail.com

spacer

ROHMANTIK: Sajak dengan Balutan Nilai-nilai Kemanusiaan




Oleh: Ria Febrina, SS, M.Hum

Rohmantik merupakan kumpulan puisi karya Irman Syah, penyair kelahiran Magek, Tilatang Kamang, 2 Oktober 1965. Membaca judul Rohmantik pada Kitab Puisi Irman Syah memberikan kesan awal yang apik. Sebagai perempuan, saya membayangkan akan menemukan puisi romantis yang mendeskripsikan hubungan percintaan yang elok atau mencitrakan kecantikan dan keindahan seorang perempuan.

Diksi rohmantik diambil dari kata romantis. Irman Syah melakukan eksperimen dan melawan bahasa yang berlaku umum. Sebagaimana ungkapan Sapardi Djoko Damono, “Seorang penyair harus menguasai bahasanya sebelum ia berhasil menciptakan puisi yang otentik”.

Diksi rohmantik muncul melalui puisi “Rohmantik” yang ditulis Irman Syah tahun 2006. Tidak hanya rohmantik, Irman Syah juga menciptakan diksi rohmantika melalui puisi yang berjudul “Ekstase Rohmantika” pada tahun 2010.
Melalui rohmantik dan rohmantika, Irman Syah ingin memberikan makna tambahan pada bentuk romantik dan romantika. Ia sengaja mencarikan konotasi pada kata tersebut agar kata-kata mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Rahmanto (1988: 34) menyatakan bahwa perlu dicarikan konotasi atau makna tambahan agar puisi bergaya bahasa figuratif.
Bahasa figuratif merujuk pada permainan struktur (Abrams, 2010: 96). Irman Syah memainkan bentuk romantik dengan menambahkan huruf /h/ pada kata romantik. Penambahan huruf /h/ pada huruf ketiga kata romantik bukan tanpa sebab, tetapi bertujuan untuk memperkuat makna yang ingin disampaikan melalui gabungan kata roh dan kata romantik.
Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia (2016), roh adalah 1. n sesuatu (unsur) yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya hidup (kehidupan); nyawa: jika sudah berpisah dari badan, berakhirlah kehidupan seseorang; 2. n makhluk hidup yang tidak berjasad, tetapi berpikiran dan berperasaan (malaikat, jin, setan, dan sebagainya), dan 3. n ki semangat; spirit: kedamaian bagi seluruh warga sesuai dengan – Islam.
Sementara itu, romantik adalah a. romantis; romantis adalah a bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan; sedangkan romantika adalah a liku-liku atau seluk-beluk yang mengandung sedih dan gembira: itulah – hidup.
Dengan demikian, pemilihan judul rohmantik pada kitab puisi ini ditujukan untuk menceritakan lika-liku kehidupan yang mengandung kesedihan dan kebahagiaan sebagaimana cerita dalam roman.
Perempuan dari Masa ke Masa

Dalam kitab puisi Rohmantik, ada 50 puisi yang ditulis oleh Irman Syah dari 1988 hingga 2012. Meskipun beberapa puisi ada yang tidak berangka tahun sehingga sulit diidentifikasi apakah ada puisi lainnya yang ditulis pada rentang waktu tersebut (1988—2012), serta sebelum atau setelah rentang waktu tersebut. 
Dengan melihat rentang waktu yang tercatat pada kitab puisi ini, puisi-puisi yang ditulis oleh Irman Syah merupakan puisi yang ditulis selama 24 tahun (1988—2012); 31 tahun jika dikaitkan dengan cetakan pertama buku Rohmantik ini (1988—2019); atau 32 tahun jika dikaitkan dengan tahun sekarang (1988—2020).
Dari 50 puisi yang ditulis pada rentang waktu tersebut, ada hal khusus yang perlu dibahas, yakni tentang sosok perempuan. Rentang waktu yang panjang tentunya tidak hanya menceritakan potret perempuan yang baik-baik saja, tetapi juga menceritakan betapa miris dan betapa pedihnya menyaksikan sosok perempuan dari masa ke masa.
Ada potret yang digambarkan melalui halaman sampul Rohmantik yang menjadi kitab puisi Irman Syah. Pakaian dalam wanita dilukiskan di mata seorang laki-laki sebagai sebuah kacamata. Gambar tersebut tentu berkonotasi negatif karena dijadikan maneken dalam kitab puisi ini.
Ada apa dengan perempuan? Setelah membaca puisi Irman Syah, saya mencatat potret perempuan dari masa ke masa. Pada halaman pertama, sosok seorang perempuan dihadirkan oleh Irman Syah melalui “Soneta Buat Ibunda: Ramyulis MA”. Seorang ibu digambarkan begitu tegar, penuh bakti, tidak pernah mengeluh tentang kehidupan, serta bersedia membuang harapan pribadi hanya untuk membangun sebuah keluarga.
Adalah dikau bunda
yang tak pernah merasa duka lara
Sepi malam menggayut-gayut
mengajak anganmu pergi
menepis cinta siang hari
Setiap langkahmu tak pernah surut
walau kau hanya berjanji
pada sebuah bakti
(Syah, 2019: 1)

Puisi tersebut ditulis di Magek pada tahun 1988. Dengan catatan waktu dan lokasi, dapat dijelaskan bahwa perempuan pada masa itu, khususnya perempuan Minangkabau mengutamakan peran sebagai seorang perempuan dalam lingkungan sosial keluarga. Puisi “Soneta Buat Ibunda” menjadi awal yang baik untuk menggambarkan sosok perempuan.
Selain itu, juga digambarkan bagaimana seorang perempuan menjadi seorang kekasih pada “Amsal Kehidupan”, “Dalam Arus Sungaimu”, dan “Sungai Kirim Surat Padaku”. Selalu ada rindu untuk seorang perempuan dari seorang laki-laki.
Bunga anggrek di hutan jiwa seakan lepas tangkai
Begitu rindunya ia kaujabat
kemudian mengisi ruang tamu dengan cahyanya
Tanganmu yang lembut telah jangkau-menjangkau
hati dari mukim akar yang menyuburkannya.
“Amsal Kerinduan” (Syah, 2019: 17)

Namun, dalam catatan Irman Syah, hal lain telah terjadi pada anak-anak perempuan di tanah Minangkabau. Menurut Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo dalam Tambo Alam Minangkabau, perempuan atau padusi yang diinginkan sesuai dengan adat Minangkabau mempunyai sifat-sifat dan perilaku terpuji, baik budi pekerti, tingkah laku, kecakapan, kemampuan, dan ilmu pengetahuan.
Sifat-sifat dan perilaku perempuan tersebut dinyatakan dalam titah adat yang berbunyi:

“mano nan disabuik parampuan,
mamakai taratik sarato sopan,
nan mamakai baso jo basi,
tahu diereng saroto gendeng,
mamakai raso jo pareso,
manaruah malu sarato sopan,
manjauahi sumbang sarato salah,
muluik manih baso katuju,
kato baiak kucindan murah.”

Sementara itu, berangka tahun 1994 pada puisi “Musim-musim Burung” dan 1999 pada puisi “Di Halte Minang Plaza”, Irman Syah mencatat kondisi anak-anak perempuan Minangkabau pada suatu masa.
Pada musim-musim burung hari ini
Kitalah kabar rantau yang ganas, surat tak berbalas
Di kampung hotel bar menjulang
Ibu-ibu gelisah, mengutang beras kemana?
Gadis-gadis pulang pagi!.
“Musim-musim Burung” (Syah, 2019: 13)
Dan Tangge, gadis yang masih muda belia
berdiri di bandara dengan henpon di tangannya
menunggu ringgit dari Malaysia
Dia akan suka diajak ke mana saja, meski sebuah jepitan
rama-rama sebagai imbalan di ikal rambutnya
“Di Halte Minang Plaza” (Syah, 2019: 33)

Tanggae merupakan cerminan salah seorang perempuan yang dicatatkan dalam moral yang tidak baik. Meskipun tidak dijelaskan alasan Tanggae memilih hidup demikian, tetapi henpon, ringgit, dan diajak ke mana saja, menunjukkan bahwa ketimpangan moral sudah terjadi di Minangkabau.
Di Halte Minang Plaza
Kubayangkan gadis-gadis Minang,
putih-biru, putih-abu-abu
dan anak-anak yang terlahir dari rahimnya
ulah singa dan harimau tentu membangun sungai-sungai
kumuh, berenang kebodohan
(Syah, 2019: 33)

Meskipun puisi merupakan imajinasi, namun ada kristalisasi kehidupan di dalamnya. Irman Syah tentu melihat atau mendengar kasus tersebut sehingga memicu dirinya untuk menulis puisi demikian. Kondisi dalam Rohmantik ini kemudian tampak hari ini pada pengungkapan kasus prostitusi online yang baru-baru terjadi dan juga kasus seorang siswi membuang anak—di tanah Minangkabau.
Dengan demikian, sejak 1994 (atau bahkan sebelum itu) di Minangkabau sudah ada padusi simarewan, “mano nan padusi simarewan, bapaham sarupo gatah cayia, iko elok itu katuju, bak cando pimpiang di lereang, baparangai sarupo pucuak aru, ka mano angin inyo ka kian, alun dijujai inyo lah galak, alun diimbau inyo lah datang”.
Padusi simarewan menyiratkan perempuan yang memiliki sifat negatif, mudah digoda dan dirayu, mudah didekati laki-laki, terlampau lincah dan genit, banyak tertawa daripada bicara, kurang sopan, dan tidak punya malu.
Di antara penyebab ialah /Di kampung hotel bar menjulang/Ibu-ibu gelisah, mengutang beras kemana?/Gadis-gadis pulang pagi!./. Larik kedua dan larik ketiga pada bait puisi tersebut merupakan dua kondisi yang begitu kontras. Ketika ibu-ibu berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mengambil peran mencari nafkah, anak-anak perempuan justru memiliki gaya hidup yang menyimpang dari adat dan kodratnya sebagai perempuan.
Kondisi ini sesungguhnya juga tidak hanya terjadi di Minangkabau, di beberapa daerah di Indonesia juga sudah ada, terutama di Jakarta. Berangka tahun 1989, Irman Syah mencatatkan melalui “Bongkaran Tanah Abang: Balada Penjual Kembang”.
Tanah Abang berputar, roda nasib bergetar
dan perempuan-perempuan takut cahaya mengundang
tamu untuk berkecupan, bergulingan di reokan triplek
Merekalah yang setia merindu malam dan meragukan
siang, menyerahkan diri seutuhnya pada gelap,
bersidekap erat menyibak remang,
memarakkan hidup yang kian jauh
Dan kaki-lima berebahan menggelar lelah
di aroma tubuhnya:
di sinilah mereka menggetarkan kota, menikmati keluh
yang teramat kesah, setangkai bunga yang dipetik
ribuan lelaki.
(Syah, 2019: 31)

Kita tidak bisa menutup mata dan menganggap ini merupakan hal biasa, termasuk dalam karya sastra. Puisi tak sekadar permainan kata-kata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian penyair mengenai kehidupan di sekitarnya. Irman Syah tentu dengan kebijaksanaan mengemas realitas melalui kata-kata dalam puisinya.
Puisi merupakan cerminan kehidupan. Puisi memang tidak memuat fakta, tetapi ada fakta yang diramu dengan imajinasi. Dengan demikian, perlu ditanyakan, ada apa dengan pendidikan di rumah tangga? Bagaimana pendidikan di sekolah dan di perguruan tinggi? Bagaimana lingkungan di sekitar kita?
Hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam dunia pendidikan. Setiap orang harus menjadi pionir untuk tegas bersikap. Anak-anak perempuan, baik siswa maupun mahasiswa harus diajarkan untuk berkata tidak dan menolak segala yang akan merusak diri dan moral mereka. Pendidikan harus didesain untuk pembentukan karakter, tidak hanya sekadar nilai.
Begitu juga dengan laki-laki, setiap orang harus berpikir untuk menganggap setiap perempuan di sekitar mereka merupakan pihak yang harus dilindungi. Sebagaimana Irman Syah menuliskan pada “Di Halte Minang Plaza”.
Kubayangkan gadis-gadis
Kubayangkan generasi, kubayangkan ibu,
kubayangkan aku yang lahir
dari rahimnya, kubayangkan panti-panti jompo.
(Syah, 2019: 34)

Kata-kata dalam puisi Irman Syah memang penuh konotasi. Membaca puisi dengan tipe ini tidak bisa sebaris dua baris. Sapardi Djoko Damono menyatakan, “Sajak itu tak bisa dibayangkan sebelum seluruh baris-barisnya selesai tersusun, dengan kata lain: isi sebuah sajak barulah kita dapati setelah bentuk selesai.” Dengan demikian, menikmati sajak Irman Syah memang harus dengan membaca secara utuh kata demi kata, larik demi larik, bait demi bait yang tercantum pada tiap-tiap puisi yang dituliskan.
Penyair Cerdik Pandai

Dalam Rohmantik, persoalan perempuan tidak satu-satunya yang dibahas, seperti /gadis menghilang di angin lalu/ pada “Dendang Musim Jauh”; /di kampung hotel bar menjulang/gadis-gadis pulang pagi/ pada “Musim-Musim Burung”, serta /berseliweran perempuan-harap mengacungkan/tangan dengan senyum, dada sedikit terbuka, menggoda/ pada “Kamar”. Ada juga gagasan bagus yang diusung karena penyair itu sendiri ialah cerdik pandai. Dalam Rohmantik, Irman Syah juga mencatatkan nilai-nilai kearifan, seperti “Doa”.
Tuhan, musim ini memunculkan beribu kekhilafan
Aku telah mengunyah banyak sampah yang bertebaran
di celah sisi kemiskinan kepala: jangan Kau-beri
kemudahan bila itu hanya menumbuh-suburkan
keperihan saudara-saudara yang sempurna miskinnya
(Syah, 2019: 43)

Banyak orang yang berdoa diberi kemudahan. Namun, doa aku lirik pada puisi tersebut justru berbeda sehingga patut dipertimbangkan, yakni /jangan Kau-beri/kemudahan bila itu hanya menumbuh-suburkan/keperihan saudara-saudara yang sempurna miskinnya/.
Mungkin saja segala persoalan muncul pada hari ini cenderung karena masing-masing orang sibuk dengan diri sendiri-barangkali juga berdoa untuk diri sendiri. Jika tidak bisa membantu orang lain, tentu mendoakan orang lain dan mendoakan diri sendiri dalam kebaikan merupakan pilihan yang bijaksana untuk mengurangi setumpuk masalah.
Begitu juga dengan pendidikan yang diberikan kepada anak. Selama ini anak-anak diminta bercita-cita tinggi, seperti menjadi dokter, insinyur, dan presiden. Namun, kita menyadari bahwa semua itu hanya mimpi. Irman Syah justru menawarkan gagasan yang baik, yakni ajakan untuk menghadapi kehidupan dengan kesulitan semenjak dini. Cara demikian dianggap dapat membangun mental dan karakter mereka sebagaimana dalam “Evaluasi Mimpi”.
Evaluasi Mimpi
Hari ini tidak ada lagi basa-basi, negeri takkan
pernah menumbuhkan mimpi. Mari kita ajarkan
anak-kemenakan kita memakan batu pasir dan besi
Biar mereka berkhayal sampai langit ke tujuh
dan berubah menjadi Ksatria Baja Hitam
atau Gatot Kaca

Mereka tentu gembira, bisa menjadi apa saja
dan terbang dengan otot kawat tulang baja
Kita hanya bisa terpaku bisu menatap negeri
yang kian hari kian remuk bagai kerupuk
Musik-musik demontrasi, teriakan-teriakan
di kedai kopi dan semua seakan menjadi nabi
(Syah, 2019: 67)

Tampak adanya keprihatinan terhadap kondisi bangsa melalui lirik /kita hanya bisa terpaku bisu menatap negeri/yang kian hari kian remuk bagai kerupuk/. Selain itu, juga ada nilai-nilai adat yang kian lapuk oleh zaman, seperti /Gonjong tinggal di alun nyanyi/ pada puisi “Dendang Musim Jauh”; persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat, seperti /ibu-ibu gelisah, mengutang beras kemana?/ pada puisi “Musim-Musim Burung” dan /ketika istri ngomel tentang belanja/ pada “Bahasa Negeri Kaki-Lima; ada juga persoalan sosial yang terjadi terus-menerus setiap hari, seperti /orang-orang berumah dalam henpon, bersandiwara/di mesin hitung, membunuh nurani/ pada puisi “Bagaimanalah Menceritakan”.
Segala carut-marut kehidupan dan kegelisahan tentang negeri ini dicatatkan Irman Syah melalui Rohmantik. Namun, Irman Syah menegaskan bahwa segala carut-marut akan tetap menjadi carut-marut jika setiap orang tidak sama-sama membangun dan memiliki harapan yang sama untuk sebuah perubahan.
Kalau di antara kita tetap berbeda menerjemahkan harap
negeri ini akan tetap terbengkalai dan di setiap sudut
kota akan berseliweran perempuan-harap mengacungkan
tangan dengan senyum, dada sedikit terbuka, menggoda
“Kamar” (Syah, 2019: 26)

Krisis moral, krisis adat, krisis sosial, dan krisis ekonomi yang terjadi dalam perjalanan dan kehidupan Irman Syah dan tercatat pada Kitab Puisi Rohmantik menunjukkan betapa ngerinya negeri ini! Dimensi waktu yang sudah didampingi dengan teknologi tidak selalu memberikan harapan baik untuk siapa pun. Namun, kita masih ada waktu untuk melakukan satu hal, yakni membangun kepercayaan kepada sesama. Percayalah bahwa perubahan baik bisa terjadi.
Dari Puisi menjadi Konsep Panggung

Irman Syah memilih menyuarakan persoalan kehidupan melalui puisi. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga membaca puisi di atas panggung. Bahkan, dalam konsep panggung puisi, Irman Syah sudah punya label atau nama tersendiri.
Irman Syah pernah menggelar konser puisi dengan nama Rohmantik (2005), membuat blog dengan nama Rohmantik Blog, membuat Facebook dengan nama Waroeng Poeisi Rohmantik, dan sekarang menamakan pertunjukan dengan Rohmantik Performance. Diksi rohmantik kemudian melekat pada seorang Irman Syah. Namun, dalam penamaan pertunjukan, disayangkan Irman Syah tidak mengusung bahasa Indonesia. Seharusnya, ia menamakan pertunjukan dengan Pertunjukan Rohmantik dan dirinya dengan Penyair Rohmantik.
Meskipun demikian, kontinuitas dalam menggunakan diksi rohmantik hingga diterbitkan kitab puisi Rohmantik ini menjadi kekuatan bagi Irman Syah sebagai seorang penulis puisi dan penyair panggung. Irman Syah telah mencatatkan bahwa kehidupan dan perjalanan dari kampung (Magek, Tilatang Kamang) hingga rantau (Padang, Kayutanam, Sitiung, Batam, Medan, Jakarta, Bogor, Semarang, dan Ternate) penuh dengan ide dan gagasan hingga bisa menjadi puisi dan konsep panggung beraroma rohmantik.
Persoalan-persoalan kemanusiaan dibangun Irman Syah dalam puisi kemudian menyatu dalam buku. Melalui Rohmantik, ditunjukkan bahwa puisi tidak hanya sekadar persoalan cinta dan kerinduan, tetapi juga memuat nilai-nilai kemanusiaan. Ada yang tidak patut, namun ada cara untuk memperbaiki ketidakpatutan tersebut. 

(*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand)


spacer