TENTANG PROSA TAN MALAKA



(Tan Malaka Prosa itu Sendiri)

 

AWALAN

Kebahagiaan seseorang salah satunya adalah menceritakan dirinya kepada orang lain. Cerita atau kisah semacam ini tentu saja menuntutnya untuk bersikap jujur, memberi arti, cermat dan apa adanya dalam mengisahkan. Apa yang dia tulis dan ungkapkan dalam ceritanya yang Panjang lebar itu mestilah pula dapat ia pertanggung-jawabkan di dalam bentuk kenyataan yang sesungguhnya.

Banyak sekali cerita hidup yang dialami manusia termaktub di dalam kehidupan dan dialami  oleh setiap orang. Cerita-cerita hidup semacam itu tentu saja sangat bermanfaat bagi orang lain. Bisa saja orang yang membaca dan mendengarkan cerita atau kisah hidup itu akan dapat memetik hikmah di dalamnya. Dengan begitu kehidupannya pun akan menjadi lebih kaya dan bermakna.

Andai kata apa yang diceritakan oleh seseorang itu adalah sebuah kisah yang telah dengan sengaja ditambah-kuranginya semau hati, untuk membuat orang lain baik pembaca atau pendengar tertarik dan terpikat, tentulah ini sebuah kebohongan. Dan apabila kebohongan semacam ini terbongkar maka masalah lain pun akan bermunculan. Bisa saja nantinya berubah menjadi pisau makan tuan.

Apa yang telah dipaparkan itu bukan lagi bermanfaat tapi malahan menimbulkan kemudaratan bagi dirinya sendiri. Pendengar atau pembaca tantu akan terpancing untuk menudingnya. Tidak hanya sampai di situ, malah bisa bisa pula nantinya berakibat pada hal-hal yang tidak diinginkan. Artinya, untuk menceritakan sebuah kisah tentang diri sendiri perlu kejujuran dan pertimbangan.

 

TENTANG PROSA

Berangkat dari paragraf di atas kita coba untuk melihat dan minilik kembali bagaimana prosa memberikan pemaknaan dan sumbangsih tersendiri baik bagi penulis, tokoh, ataupun pembacanya, dan bahkan sekaligus punya dampak pasti bagi sesuatu yang lebih besar. Karenanya, dengan demikian kita bisa pula menempatkan sesuatu secara tepat tentang apa yang kita bicarakan.

Sebut saja kisah, atau sebuah prosa yang berangkat dari paparan yang merangkum sebuah kisah. Cerita perjalanan dan pelayaran seseorang dari suatu daerah ke daerah lain umpamanya. Beragam  pengalaman yang didapat dari tempat yang disinggahi tentu saja akan memberikan pengetahuan dan tersendiri. Banyak kenyataan tak terduga yang memunculkan semangat baru bagi kehidupan.

Begitu pula halnya dengan prosa yang terkemas dalam bentuk riwayat atau biografi. Isian berupa pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa pula pemaparan atas pengalaman hidup orang lain sedari kecil hingga dewasa dan bahkan sampai meninggal dunia (biografi), semua itu akan dapat dijadikan ruang pemaknaan yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkaca.

Sebagai contoh, ketika seorang anak muda membaca biografi atau otobiografi seseorang, yang di dalamnya mengandung riwayat hidup, maka kaca banding itu muncul begitu saja. Capaian dan usia akan dapat berbicara dengan mudah dan tergambar dengan jelas.  Dan dia pun akan dapat mengambil sikap dengan jalan membandingkan kenyataan usia tokoh melalui riwayatnya.

 

SEDIKIT TENTANG TAN

Tan Malaka adalah tokoh misterius dalam pegerakan dan perjuangan negeri ini. Kekuatan pemikiran dan perjalanan hidupnya sangat fenomenal dan ini pun tertuang dalam tulisan-tulisannya yang akurat melalui buku-buku yang ia wariskan. Ketokohannya pun menjadi pro-kontra pula di negeri ini. Sutan Ibrahim Namanya, bergelar Datuk Tan Malaka.

Dari gelar inilah penamaan ketokohannya disebut orang, yaitu: Tan Malaka. Filosofi hidupnya tak lain adalah filosofi Minangkabau, yaitu: Alam terkembang jadi guru. Misi revolusi adalah cita-cita yang ia miliki. Di Negara lain, seperti Jerman kita bisa memadankannya ketokohannya dengan Nietzsche. Dia muncul dengan filosofi ke-eksistensialis-annya.

Melalui filosofi keminangannya Tan Malaka bergerilya dan menularkan pergerakan perjuangan  menuju republik untuk sebuah keutuhan negara Indonesia. Naar de Republiek (1925) dan Massa Actie (1926) adalah acuan pergerakan yang ia telorkan dalam bentuk buku pada zaman perjuangan kemerdekaan. Buku ini merupakan pegangan para pejuang. Tak terkecuali Soekarno.

Sebagai motor penggerak sejarah, Tan Malaka memiliki kekuatan dengan dasar pikiran yang rasional, lebih dari perjuangan kelas. Semua terpapar jelas dalam bukunya yang spektakular, Madilog. Dalam pandangan pemikirannya, rakyat Indonesia Asli percaya pada kekuatan yang melekat pada material dan spiritual. Mereka menilai secara realistis, baik kekuatan alam maupun kekuatan dari diri mereka sendiri.

Menurut filosofi hidup Tan Malaka, seharusnya negara Republik Indonesia mestilah berdasarkan sosialisme yang tiada sedikit pun berdasarkan imperealisme dan kapitalisme. Asia Tenggara bersatu dengan Australia untuk sebuah bangunan Aslia. Ia menyebutnya dengan sumbu Bonjol-Malaka dan garis ini sangat layak dan memenuhi syarat untuk strategi dan diplomasi. Sumbu ini pun akan menguasai dua benua dan dua samudera besar. Semua tentu akan menjadi luar biasa karena memang punya kedekatan serta kekayaan alam yang dimilikinya.

Dalam mengaplikasikan konsep dan gagasan yang dia miliki, apalagi dengan jalan gerilya tentu saja bukanlah hal yang mudah. Dikejar-kejar, menjadi buron, dan juga ditangkap. Beragam penjara telah didiaminya. Dan Tan Malaka setia menjalaninya. Begitu banyak pro dan kontra yang menguburkan informasi tentangnya bagi generasi negeri ini.

 

DARI PE NJARA KE PENJARA

Tersebab dorongan teman-teman diluar atau pun yang berada di dalam penjara yang mengusulkan agar Tan menuliskan sejarah hidupnya dengan tujuan agar nantinya dapat dijadikan pelajaran bagi para pahlawan kemerdekaan sekarang dan di hari depan, akhirnya Tan Malaka pun menuliskannya. Itu pun ditulisnya setelah berjarak dan waktu itu ia ditempatkan di sel yang sunyi senyap, tak bercampur. Tepatnya di penjara Magelang. Maka lahirlah Dari Penjara ke Penjara.

Buku ini merupakan memoar perjalanan, ditulis pada tahun 1947 dan baru bisa terbit pada 1948 dalam bentuk stensilan. Berkisah ketika masih bersekolah di Kweekschool (Sekolah Guru) Bukit Tinggi. Kemudian berlanjut ke Belanda, bekerja di Deli, tinggal di Semarang dan bersinggungan dengan Sarekat Islam. Terus ditangkap di Bandung dan diasingkan ke Belanda. Kemudian bertualang ke Jerman, Rusia, China, Filipina, Hongkong, Birma, Singapura dan kembali lagi ke Indonesia pada zaman penjajahan Jepang,

Melalui buku Dari Penjara ke Penjara ini banyak yang tersibak. Prosa ini terasa kuat menuntun dan memperjelas kedirian, asal dan perjalanan hidup Tan Malaka. Riwayat atau otobiografi Dari Penjara ke Penjara ini terasa mencerahkan dan mampu menghubungkan sejumlah mata rantai perjalanan. Buku ini pun dapat dijadikan sebagai indeks dalam menelusuri seluk-beluk kehidupan dan perjuangan Tan Malaka.

“Buku ini saya beri nama Dari Penjara ke Penjara. Memang saya rasa ada hubungannya antara penjara dengan kemerdekaan sejati. Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri.” Demikian ungkapnya. Dan Tan Malaka pun menuturkan pergulatannya bagaimana ketika ia di penjara Hindia-Belanda dan Filipina. Meski berada di balik jeruji, Tan Malaka tetap berusaha mendobrak semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang diri Tan Malaka, tapi juga meluas pada sejarah dunia serta pergolakan yang terjadi saat itu. Dan di dalamnya, Tan Malaka adalah salah satu dari orang yang ikut menggerakkannya. Membacanya kita seakan disajikan tentang bagaimana kondisi Tanah Minang, kota Leiden Belanda, Komintern di Rusia, hingga penyerangan Jepang ke Semenanjung Malaya. Paparan dan gaya bahasa yang digunakan merupakan tuturan ringan, dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini tentu saja merupakan suatu kemampuan susastra yang tak sekedar.

 

KEKAYAAN BAHASA

Gaya ungkap dan kekayaan bahasa yang dimiliki Tan Malaka dalam menggambarkan peristiwa terasa memukau. Kelembutan, ketepatan, dan keindahan berbahasa dalam penggambaran suasananya membuat karya ini menjadi memikat. Dapat kita lihat narasi yang dihadirkan Tan dalam menggambarkan suasana ketika pulang dari Belanda menuju Indonesia, seperti di bawah ini:

Hawa mulai sejuk, hujan rintik-rintik, angin bertiup sepoi-sepoi basah, November 1919. Kapal Samudra mengangkat jangkarnya dengan gemuruh, memutarkan mesin sayap di buritan, mengombak gelorakan air, lebih hebat daripada rodanya ikan paus mengacaukan lautan sekelilingnya, waktu mulai berenang. Perlahan-lahan kota Amsterdam ditinggalkan sampai hanya kelihatan kelompokan rumah yang kabur, sayup-sayup dipandang mata..

Gejolak dan peristiwa serta muatan dalam kandungan prosa melalui narasi ini seakan tersejukkan, padahal duka derita dan gejolak perjuangan serta unggunan api pemberontakan berkecamuk begitu tajam.

Kita simak pula narasi berikutnya lewat bahasanya  :

Negara Belanda sudah di belakang, dan kapal kita sekarang berada di Noordzee menuju ke Indonesia melalui Samudra Atlantika. Selat Gibraltar, Lautan Tengah, lautan Merah, dan akhirnya Samudra Hindia. Lebih kurang 6 tahun lampau melalui tempat ini juga tetapi dengan arah sebaliknya, ialah dari Timur ke Barat. Alangkah banyaknya perubahan yang kualami dalam diriku sendiri..

Menghadirkan sebuah narasi untuk dua peristiwa (pergi dan pulang) semacam di atas tentulah sebuah kecerdasan berbahasa yang bukan tanpa sengaja.

Meski penulisan kisah ini ditulis di dalam jeruji penjara, Tan Malaka yang memiliki daya ingat  tinggi akhirnya mampu dengan gamblang melukiskan jalinan peristiwa dan Riwayat hidupnya tanpa ketinggalan akar budayanya. Hal ini dapat tercermin dalam narasi ini:

Akhirnya Sabang Indonesia. Di tepi pantai, dari atas bukit mengagumi matahari terbenam! Aneka warna yang bertukar setiap menit! Saksikanlah sendiri! Sampailah sekarangke ujung pelajaran! Lautan Hindialah yang penghabisan dilayari dari pantai Afrika-Arabia sampai ke pantai Sumatera. Inilah samudra yang yang diarungi oleh moyang bangsa Indonesia sekarang, di jaman gelap-gulita.

Itulah bangsa perantau. Semangat pertahananlah yang mendorong mereka mencari tempat kediaman baru, apabila alam tidak memungkinkan bagi mereka untuk hidup. Pada masyarakat Minangkabau dan Batak. ‘Berpedoman bulan dan bintang, dilayarkan perahu ramping, di jamin oleh alat cerdik bersemangat bertoboh, bergotong-royong atau tolong menolong dimasa bahagia “hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicacah” dan bahaya “telentang sama minum air, terlungkup sama makan tanah”.. samuderapun cuma danau saja dimata mereka

 

AKHIRAN

Demikian uraian sederhana dan pembahasan singkat tentang bagaimana Tan Malaka menghasilkan sebuah karya dan merumuskan pandangan dunianya. Sosoknya yang idealis, tahan pada kondisi sulit dan jenius terlihat pada kemampuan analisanya yang tajam tentang kondisi sosial-politik-ekonomi dari keluasan  ilmu yang ia kuasai. Semua tertuang lewat tulisan-tulisannya yang terang.  

Dengan menelusuri prosa Dari Penjara ke Penjara serta menikmati pengembaraan, kejaran dan pelariannya terasa betul perjuangannya sebagai arsitektur kemanusiaan. Semua ini lahir dan mengalir nyata melalui mahkota-mahkota bahasa yang ia tuliskan.  Begitu pun sastrawan-sastrawan lain dan dengan segala apa yang dialami oleh Tan Malaka telah menjadikannya pros aitu sendiri.

Magek-Payakumbuh, 3 Desember 2020

spacer

Dari Bahasa Toilet ke Negeri Batu, Suatu Dunia yang Terbalik




Oleh  Dr. Fadlillah *)


Abstrak
Topik bahasan adalah salah satu faset (sisi) kumpulan puisi Rohmantik, dengan fokus sastra dunia terbalik, pada dunia bahasa toilet negeri Malin Kundang. Adapun pokok permasalahan tentang puitika dunia terbalik. Dalam bahasan ini digunakan teori sastra dunia terbalik. Kemudian ditemukan, tentang hakekat estetika toilet.

Kata kunci: estetika toilet, negeri batu, dunia terbalik.


Pendahuluan
Sajak Grafiti Toilet (1994, Singgalang) jauh lebih dahulu hadir daripada cerpen Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan  (1999, di Media Indonesia) dan diterjemahkan ke bahasa Inggris Graffiti in the Toilet oleh Benedict Anderson (f-nya dua, dan Irman Syah f-nya satu, grafiti dalam adaptasi bahasa Indonesia), yang pada akhirnya dibukukan jadi kumpulan cerpen dengan judul Corat-coret di Toilet. Adapun isi atau tema kedua karya ini nyaris selaras, namun gaya, visi, paradigma keduanya berbeda. Hal ini suatu peluang untuk pengkajian intertekstual, namun saya tidak melakukannya, silahkan peneliti berikutnya untuk melakukannya.

Dari Bahasa Toilet ke Negeri Batu, “Rohmantik” yang Hilang
Dalam hal ini saya hanya membahas tentang hadirnya suatu paradigma dunia terbalik secara diam-diam, mungkin tersembunyi.  Sebagaimana pada penampakan resensi penerbit Mizan terhadap cerpen Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan, dengan ungkapan, “Tahukah kamu bahwa toilet yang kotor, kumuh, bau yang kamu bayangkan itu dapat menjadi inspirasi bagi seorang penulis besar seperti Eka Kurniawan”. Hal ini juga pernah diungkapkan A.A. Navis bahwa toilet tempat inspirasi karya. Tesisnya bahwa hal-hal yang baik, luhur, besar, mulia, lahir diinspirasi dari yang kotor. Sama dengan suatu iklan yang ditayangkan secara terus menerus dan tentu akan  lekat selekat2nya dalam benak setiap orang, bahwa “bermain kotor itu baik atau berbuat kotorlah karena ia akan mendatangkan kebaikan”. Sementara tesis ini jelas terbalik dengan dunia nilai-nilai agama, adat dan tradisi budaya.

Selanjutnya pada cerpen Eka dihadirkan tesis “suara rakyat di coretan toilet umum”, bolanya melanting kepada bola salju (bukan bola salju api menurut BSM), kebenaran itu datang dari dunia kotor, profan, bukan dari dunia suci (agama), bukankah banyak orang memperalat agama, dan pemuka agama juga banyak bermain kotor, inilah yang harus dipegang. Maka disumpulkan; “Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet.” Dengan demikian dunia sudah terbalik, orang lebih percaya pada tempat kotor. Lahirlah demokrasi toilet, pertama kali terduduk di DPR maka yang dilakukan perbaikan dengan anggaran besar adalah toilet (Tempo, Rabu, 7 November 2012). Sehingga banyak juga yang mengemukakan persoalan demokrasi kaum penjahat, demokrasi preman, demokrasi kaum toilet.

Berbeda dengan Eka, Irman Syah tidak menghadirkan tesis itu, dan tidak ada menyatakan toilet tempat inspirasi dan kebenaran lahir dari tempat kotor, atau suara rakyat lahir dari tempat kotor. Mengapa begitu, karena hal itu dinyatakan oleh  puisi bahasa Negeri Kaki Lima, Negeri Batu. Puisi Negeri Kaki Lima menjelaskan  atau menafsirkan puisi  Grafiti Toilet (dalam hal ini saya memakai metode puisi yang satu ditafsirkan atau dijelaskan oleh puisi yang lain). Pada Grafiti Toilet diungkapkan, Irman Syah membaca realitas bahwa dunia pendidikan anak bangsa sudah dihadirkan dengan sistem, struktur, cara dan tempat yang kotor (suatu kritik tajam dan satir terhadap dunia pendidikan; memusuhi agama dalam tanda kutip). Maka menurut Irman Syah nanti para pemimpin dan bangsa akan lahir dan hadir dengan cara kotor, Irman Syah menyebut dengan istilah bahasa (hal ini merujuk kepada bahasa menunjukkan bangsa) pasar pedagang kaki lima, bahasa ini penuh dengan bahasa kasar, kotor, sekarang orang menyebutnya dengan budaya bahasa toilet.

Sehingga seorang pejabat dari daerah nomor satu, dalam bergelangang mata orang banyak, pada siaran lansung televisi, dengan padat dan kamek bersabda dengan  bahasa toilet untuk menyatakan kesucian dia dan buruknya lawan dan musuhnya, atau ada yang mengakhiri jabatannya dengan bahasa toilet (su-ul Khatimah). Kemudian diikuti banyak orang atau pengikutnya sampai kepada  tokoh-tokoh proxy war dan asimetris, semua orang terkagum-kagum dan bersorak gembira dan membelanya sebela-belanya (bela bahasa Minang). Mencaci maki etnis bangsa sendiri. Kemudian di masyarakat mulai hadir  bentuk cara makan dengan wadah toilet di kafe mewah, dan sesudah itu berhamburan nama-nama kafe sampai ke puncak gunung dan pantai dengan nama bahasa toilet. Konon salah satu interprenuer muda bahasa toilet terkemuka itu dilahirkan oleh Universitas tertua di Sumatra.

Hal itu menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang hanya di“dibekas” daerah Minangkabau permaian bahasa toilet di tidak laku, karena mungkin masih ada sisa-sisa tradisi bermain dengan kata-kata tetapi harus sadar dan tidak mau dipermainkan oleh kata-kata (silek kato). Masih ada sisa-sisa kesadaran terhadap kato pusako, bagaimana “bergelut” dengan matan. mantik dan makna sampai pada iman. Masih mangkus juga sisa-sisa itu dari penghancuran linguistik struktural modern, kononlah bila itu bukan sisa.

Grafiti Toilet selanjutnya ditafsirkan oleh puisi Negeri Batu. Dengan pengertian ketika suatu negeri sudah berbahasa dan berbudaya toilet maka Irman Syah menyebut itu negeri Malin Kundang, semua sudah jadi batu. Ini dunia yang terbalik, kondisi terbalik, secara nilai-nilai, bahasa dan budaya, dalam bahasa agamanya negeri yang sudah dibalik Tuhan, maka jadilah negeri batu. Selanjutnya dapat ditasirkan oleh puisi Air Mata Negeri dan Di Negeri Penuh Luka.

Lantas, dimana keindahan atau estetika puisi Irman Syah, itulah pada konsep roh. Konsep keindahan pada Irman Syah pada jiwa, roh, pada iman, bukan pada estetika tubuh. Konsep estetika  raso jo pareso, raso dibawo naik pareso di bawo turun. Puitika sastra berakar pada puitika Minangkabauistik dan itu hadir pada performance-nya. Bagi Irman Syah  estetika sastra atau puitika puisinya bukan estetika tubuh, bukan estetika strukturalisme yang begitu digemari oleh kelompok Ahmad Sahal, Ulil dan Salihara. Estetika tubuh atau puitika strukturalisme adalah estetika modern atau ada juga yang menyebut estetika moderat, yang pada intinya merupakan estetika materialisme, dengan dasar filosofi materialisme.

Jika Tan Malaka dengan tesis Madilog-nya (Meterialis. Dialektika dan Logika) maka mungkin dapat dikatakan bahwa Irman Syah menghadirkan diri dengan tesis Rohmantik (iman dan akal). Untuk menyatakan puitika sastra-nya, Irman Syah tidak seperti Sutardji-an dengan istilah kredo (syahadat), Irman Syah menyebutnya konsep dan panggung puisinya ‘rohmantik performance’ pada puisinya Rohmantik. Hal ini juga yang membedakannya dengan Chairil-lian dengan puitika materialisme, yang menolak keras konsep “berketulusan”, yang bagi Charil-an dengan murid penganut teguhnya Goenawan Mohamad menyatakan dengan tegas sebagai sesuatu yang bernama duka maha tuan bertahta.
Simpulan Sementara

Irman Syah menjawab seluruh persoalan itu dengan satu patah kata, yakni rohmantik. Dengan pengertian, kembali-lah kepada nurani, jiwa, roh, iman di dada dan yang ke-dua kembalilah kepada  mantik, logika, akal budi, akal sehat (hal ini berhubungan dengan kaji di surau; tentang matan, mantik dan makna. Hal ini mungkin ada dasarnya pada ungkapan Minang-nya raso dibawo naik, pareso dibawo turun, bersatunya raso jo pareso (jiwa dan akal, iman dan pikiran). Dengan demikian rohmantik merupakan sebuah capaian konsep dari pergulatan yang panjang dari puitika sastra yang digeluti oleh Irman Syah, dan ini bukanlah sebuah rumusan yang hadir begitu saja. Wasalam.

                                                                                    Wisma Berbintang, 24-02-2020

NB: Draf makalah belum diedit.



Rujukan

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak. Jakarta: Sinar Harapan.
Eneste. Pamusuk. 1983. Proses Kreatif, Mengapa dan bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: PT. Gramedia.
Kurniawan, Eka. 2014. Corat-coret di Toilet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Linz, Juan José.  2001. Menjauhi demokrasi kaum penjahat: belajar dari kekeliruan negara-negara lain. Bandung: Mizan.
Malaka, Tan. 2000. Madilog (Materialisme Dialektika Logika). Jakarta: Teplok Press.
Mohamad, Goenawan. 2011. debu, duka. dsb. Sebuah Pertimbangan Antftheodise.  Jakarta: Tempo dan PT. Grafitipers.
Syah, Irman, 2019. Rohmantik, Kitab Puisi Irman Syah. Yogyakarta: Penerbit Jual Buku Sastra.


*) Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Andalas, 
fadlillah@gmail.com

spacer

KETIKA PENYAIR ROHMANTIK LIVE STREAMING DI AKUN INSTAGRAM




Kumpulan Puisi Rohmantik

Hari ini tepatlah satu tahun lahirya kumpulan puisi Rohmantik, sebuah kitab puisi tunggal pertama Penyair  Irman Syah yang diterbitkan oleh penerbit JBS Yogyakarta, April 2019. Kumpulan puisi yang merupakan abstraksi dan kesaksian dari perjalanan karya ini memang merupakan citraan dan berupa garis ingatan kehidupan yang dialami penyairnya.

Kesemua itu dia kristalkan ke dalam Bahasa personal kepenyairan yang sarat dipengaruhi budaya tutur yang memang telah mendarah-daging dalam keseharian. Kekuatan diplomasi yang dimiliki masyarakat Minangkabau yang memang dipelihara alam, tradisi dan budaya tetap menjadi rumah siput bagi alam lapang karya akan pandangan dunianya.

Perjalanan Karya

Semua puisi yang termaktub di dalam Kitab Rohmantik ini pada umumnya telah dipanggungkan oleh penyairnya yang memang seorang Street Poet; baik di jalanan, taman kota, destinasi wisata, komunitas, pinggir kali, gang-gang kota, bus, penjara, panti jompo, bus dan juga pesawat terbang Jakarta-Surabaya. Barulah selepas itu karya ini dibukukan.

Pertama kali buku ini diluncurkan, penyair Irman Syah memilih Sumatera Barat dan rencananya akan tour rohmantik ke berbagai kota lain di Indonesia, seperti; Medan, Jakarta, Jogja dan Bali. Dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan, maka perhelatan buku rohmantik, baik diskusi maupun Rohmantik Performance terhenti di Sumatera Barat.

Tepat pada 22 April – 5 Maret, Kitab Puisi Irman Syah ini baru tuntas dilaksanakan di Payakumbuh di dua tempat, yakni Komunitas Intro dan Lawang Café. Selanjutnya Kayutatanam, tempat dimana Penyair Irman Syah pernah mengabdi selama 5 setengah tahun sebagai Pendidik di SMA Plus INS Kayutanam. Kemudian di Padang yang antara lain, Kedai Teroka, FIB Unand dan Kubik Koffie Padang.

LiVE Instagram 19 April Pukul 21.00

Atas gagasan penerbit Jual Buku Sastra, penyair Irman Syah pun menyambut hangat tawaran untuk Live IG  @jualbukusastra dan @rohmantik dengan tema; ‘Ngobrol Buku Rohmantik’ atau ‘Ngerohman’ Kitab Puisi Irman Syah. Di sini akan ada Pembacaan puisi rohmantik oleh Irman Syah pada awal dan penutupnya. Ditengahnya akan ada pembicaraan karya dan proses kreatif karya sekaligus.

“Semoga saja acara ini dapat menyambung silaturrahmi dan memperdekat jarak diantara kita. Bukankah dengan mengupas dan mendiskusikan proses kreatif ini dapat mem buat para penulis muda terpancing dalam menghasilkan karya yang bekualitas.” Ungkap Irman Syah menutup pembicaraan. (Majid Gindo)

spacer