(BESKA: ‘Tubuh Air Tanah’ di FTP Bekasi)


Oleh Irman Syah


Bengkel Seni Kartini, dengan Grup Teater BESKA-nya menyuguhkan pertunjukan yang memukau kemarin malam, Minggu (27/11) pukul 19:00 Wib . Mereka adalah penampil terakhir FTP pada hari kedua yang hadir dengan balutan durasi kurang lebih satu jam.

(Mengucapkan Tradisi dengan)  
Bahasa “kekinian”

Dengan Bismillah aku mulaikan 
Ya ini majlis hamba hormatkan
Para hadirin coba dengarkan
Ya ini pantun kami bacakan
: Ane Matahari


Oleh Irman Syah

Berperahu hidup melabuhkan kematian. Sementara mati adalah hidup yang kekal. Dari pulau ke pulau tak lain laut kemudian tanah lagi. Pergantian tak ubahnya saling dekap. Dan permusuhan adalah perkenalan yang teramat akrab. Perahu berlayar. Hidup memancar. Menggetarkan kematian.
: Ane Matahari
Oleh Irman Syah

Ya! Dialah Sosok yang tak pernah mengatakan tidak kepada siapa pun meski dalam keadaan apa dan bagaimana pun juga dia waktu itu. Ya! Bagi  siapa pun itu hal ini akan selalu berlaku, karena memang begitulah sifat dan sikap kesehariannya. Maka, wajar saja kepadanya banyak bahasa yang tercurah.





Bekasi kehilangan sosok budayawan penting. Adalah Andrie Syahnila Putra Siregar atau akrab disapa Ane Matahari. Ia meninggal pada Senin siang menjelang pukul 12.00, 31 Oktober 2016, di usia 45 tahun, karena sakit.


Di Bekasi, Ane Matahari tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan anak jalanan. Ketika ada yang sakit, dialah yang sibuk untuk mengurus. Ketika ada yang bertengkar, dialah yang mendamaikan. Ketika ada yang murung, dialah yang menceriakan.

Singkatnya, Ane Matahari adalah kawan, guru, sekaligus bapak bagi anak jalanan. Puluhan tahun berkecimpung di dunia yang terkesan keras itu justru membuatnya lembut dalam mengedukasi anak-anak jalanan.

Melihat rambutnya yang ikal panjang, berjambang tak beraturan, berkulit gelap, berkalung batu akik besar di lehernya, dan selalu tertawa lebar-lebar, siapa pun boleh mengira Ane Matahari preman jalanan.

“Padahal dia masuk ke jalanan bukan karena dia preman. Memang badannya besar dan gagah. Tapi melihat jarum suntik saja dia takut kok,” kata Irman Syah, penyair yang sering bersamanya, sambil tersenyum.

Ane Matahari menceburkan diri ke jalanan bermodalkan musik dan sastra–ilmu yang dipertajamnya selama beberapa tahun di Institut Kesenian Jakarta. Dengan ilmu itulah ia mampu mewarnai kehidupan jalanan.

Lama berkiprah di Jakarta, Bekasi akhirnya menjadi pilihan tempat tinggal Ane bersama sang istri, Khadijah Ali Zahra. Mereka membesarkan empat anak: Gema, Genta, Gaung dan Nada.


Mengalir darah seniman

Ane Matahari kecil tumbuh dalam keluarga yang berdarah seni kental. Ibunya, Rosnilla Djalal, pandai menari. Ayahnya, Amirsyah Siregar atau dikenal Fredie Arsi, merupakan pencetus Musikalisasi Puisi–sebuah genre baru pengungkapan puisi dengan iringan musik.


Binjai, Sumatera Utara, tanah kelahirannya. Lahir pada 4 Januari 1971, Ane Matahari anak kedua dari enam bersaudara: Dedie Syahnila Putra, Devie Komala Syahni, Denie Syahnila Putra, Herie Syahnila Putra dan Irma Komala Syahni.


Fredie Arsi seorang seniman petualang: hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghidupi seni melalui sanggar. Matahari adalah nama sanggar yang didirikan Fredie Arsi pada tahun 1980 di Jakarta.


Sejak duduk di bangku kelas 5 SD, Ane Matahari sudah terbiasa tampil di panggung. Sang ayah membuatkan wadah bernama Deavies Group Matahari yang beranggotakan Dedie, Ane dan Devie–kemudian semakin bertambah personel.


“Waktu kecil, Ane pernah masuk TVRI di program siaran bernama Anak Ajaib. Ia tampil sebagai anak kecil yang pandai memainkan banyak alat musik. Ia juga pernah mendapat anugerah Pemuda Pelopor DKI Jakarta pada 1994 dari kementerian,” cerita Dedie, yang menekuni seni teater.


Bertahun-tahun, bersama Sanggar Matahari, Ane berkeliling nusantara–bahkan sampai mancanegara–untuk mementaskan musikalisasi puisi. Pemerintah merasa apa yang dilakukan Sanggar Matahari sejalan dengan program pemasyarakatan bahasa Indonesia.


Sanggar Matahari akhirnya berhasil membangun jejaring yang kuat dan melahirkan banyak sanggar atau bengkel sastra. Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia pun menjadi wadah besarnya yang diketuai langsung Fredie Arsi sejak 2008.


Setelah Fredie Arsi meninggal pada 2011, Ane Matahari menggantikan peran sang ayah untuk datang ke berbagai daerah di Indonesia. Dialah yang berpanjang-lebar menularkan ilmunya kepada banyak anak-anak muda.


“Nama Fredie Arsi dengan Sanggar Matahari muncul tidak hanya gagasan dan ide-idenya, tetapi langsung menampilkan garapan musikalisasi puisi di panggung yang dikemas dengan sangat apik bersama putra-putrinya,” kata Dendy Sugono, Mantan Kepala Pusat Bahasa, dalam pembuka buku ‘Mengenang Bapak Musikalisasi Puisi’.


Mendirikan Sastra Kalimalang


Ane Matahari bukan seniman yang mudah berpuas diri. Tahun 2011, ia merangkul mahasiswa dan anak-anak muda untuk mendirikan Komunitas Sastra Kalimalang. Mengapa Kalimalang? Karena di sanalah, tepatnya di samping Universitas Islam 45 Bekasi, banyak kalangan berbaur.


Dimulai dengan memanfaatkan jejaring sosial, Komunitas Sastra Kalimalang mempublikasikan puisi-puisi yang sudah mereka kumpulkan dari banyak orang: anak jalanan, tukang ojek, dosen, satpam, mahasiswa, dan sebagainya.


Melihat aktivitas itu, sejumlah pihak bersimpatik. Koran Radar Bekasi, misalnya, memberikan halaman khusus seminggu sekali untuk menampilkan karya yang telah dihimpun Komunitas Sastra Kalimalang.


Ane Matahari juga menginisiasi pembangunan Perpustakaan Pinggir Kali Sastra Kalimalang. Di tempat kecil inilah lahir diskusi-diskusi menarik tentang kebudayaan. Orang-orang, dari lintas bidang, tak segan datang kemari.


Ane Matahari berhasil mengembangkan model komunitas inklusif–lawan kata eksklusif–sehingga memungkinkan banyak komunitas lain bisa bersahabat. Ia sering menyebutnya dengan istilah Silaturahmi Batin.


Dari Bekasi, Sastra Kalimalang membangun jejaring komunitas se-Indonesia. Sebagai delegasi atau utusan, grup musik khusus yang berperan menghibur pun dibentuk. Anggotanya adalah anak-anak jalanan. Ane Matahari dengan tekun melatih mereka.


Beberapa bulan sekali, Ane Matahari menghelat pentas seni panggung terapung di Kalimalang–sementara penontonnya duduk santai di pinggir kali. Belum lama, ia mengadakan perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Bali.


Saung Kalimalang memang telah menginspirasi Ane Matahari untuk mencetuskan ide-ide liar. Ia juga sering mengadakan acara yang tak terduga, seperti sastra masuk kampung, bersih-bersih kali, atau bersih-bersih masjid.


Terakhir, ia mewujudkan kegiatan yang mungkin tak pernah dilakukan komunitas seni lain: bersih-bersih kuburan. (Res/KlikBekasi[dot]co)








Oleh Irman Syah



Hambar rasanya kebahagiaan jika diri tiada pernah lagi mendapatkan butir-butir bahasa yang elok dan indah, serta penuh dengan  keberartian – kadang mengingatkan, menuntun, dan mengutuhkan cara pandang dan sikap hidup manusia dengan warna-warninya persoalan -- laksana cahaya yang membentangkan kehidupan bagi tegaknya nilai kemanusiaan yang begitu agung dalam memandang sesama sesuai kehendak-Nya.


Peluh keringat nasib yang mendera siapa saja tetap akan mengeringkan isi tubuh, termasuk mempengaruhi fungsi syaraf yang ada di dalamnya. Proses dan cara berpikir bisa berubah begitu saja menjadi hamparan gurun-gurun yang melambaikan debu. Rutinitas atau keseringan,  karena itu ke itu saja yang dilakukan dalam setiap pekerjaan, akan membuat jiwa semakin aus. Di sinilah lembah kenyataan atas diri kehidupan itu yang membutuhkan kelembaban.


Satu-satunya jalan yang perlu ditilik dan teramat penting untuk dibangkitkan kembali adalah kesusastraan. Sastrawan itu adalah seorang linguis yang cermat. Dia mampu membahasakan yang tak mampu diungkapkan oleh sebuah berita. Mengingat hal yang semacam ini, pandangan kita tentu akan mengelana pada perkembangan kesusastraan yang menggejala di republik ini. Nah. Kalau sudah sampai ke wilayah ini, jika dihubungkan dengan apa yang dialami manusia Indonesia pada kenyataannya, tentu saja menimbulkan stagnan dan diri akan selalu dikungkung oleh ragam persoalan tanpa pernah menemu jalan keluar.


Beragam karya membludak begitu saja dan terbit menjadi buku – terserahlah, apakah ‘buku’ itu memiliki ‘ruas’ atau pun tidak – yang kesemuanya itu ternyata menimbulkan persoalan baru pula jika dihubungkan dengan nilai yang wajib diembannya sebagai sebuah karya. Sejauh mana karya itu dapat memberikan rangsangan kehidupan yang lebih baik serta jalan keluar atas konflik yang dialami pembacanya. Tentu saja ini dapat diperkirakan, karena karya yang tidak bermutu, karya yang cuma berita personal pengarangnya, karya yang menyobek baju di dada itu, hanyalah bacaan yang sia-sia.


Membayangkan kekeringan jiwa sebagaimana disebutkan di atas, hal ini bisa dibuktikan dalam keseharian, bagaimana pergerakan bahasa kehidupan yang diucapkan warga di negeri ini. Terserah, apakah dia seorang Pejabat, Sastrawan, Guru, Ulama, Pendeta, para ahli dan Pakar lainnya; akan bisa dilihat dari butir-butir bahasa dalam ungkapan keseharian yang mereka ucapkan. Tentu saja kapasitas masing-masing akan berbeda ukuran sesuai beban fungsi yang diemban masing-masing di dalam kehidupan. Inilah kaca kehidupan yang dapat dilirik setiap saat bagi siapa saja. Sejauh mana bahasa mampu menyirami hati manusia?


Hambar rasanya kebahagiaan itu jika diri tiada pernah lagi mendapatkan butir-butir bahasa yang elok dan indah, serta penuh dengan  keberartian – kadang mengingatkan, menuntun, dan mengutuhkan cara pandang dan sikap hidup manusia dengan warna-warninya persoalan -- laksana cahaya yang membentangkan kehidupan bagi tegaknya nilai kemanusiaan yang begitu agung dalam memandang sesama sesuai kehendak-Nya.


Dengan munculnya sastrawan-sastrawan “makmum”, yang telah dibaptis melalui event-event kesusastraan tertentu, serta dilegitimasi oleh kelompok-kelompok tertentu dan demi kepentingan-kepentingan tertentu pula maka situasi ini amatlah meresahkan. Jangankan Sastra diharapkan mampu untuk mengurangi kekeringan jiwa manusia di negeri ini malah kenyataan akan menjadi terbalik dan bisa-bisa menjerumuskan sejarah kesusastraan Indonesia pada hal yang sepele dalam hal keberartian. Bukankah event dan pertemuan selalu mengkultuskan tokoh berdasarkan ego personal dan ego kelompoknya.


Gairah kegiatan kesusastraan akhir-akhir ini memang bermunculan di mana-mana. Pesta-pesti dan ephoria tercipta begitu saja. Kesusastraan menjadi berita dan pembicaraan di mana-mana, tapi sastrawannya terjungkal numpang nebeng dan menginap di tempat teman. Kalaulah seperti itu yang terjadi, untuk apa berlomba-lomba memasang potret di akun Sosial Media? Entahlah, mungkin saat ini adalah zamannya “Sastrawan Makmum”, menyiksa diri untuk kebahagiaan sesaat dan bangga pula untuk menyatakan diri telah berkiprah dalam meluruskan bahasa bagi kehidupan.


Jakarta, 21 Oktober 2016



Oleh Irman Syah

Tulisan ini sengaja dihadirkan ke hadapan pembaca karena memang pada bulan-bulan terakhir ini banyak sekali peringatan yang terjadi dan membuat bangsa Indonesia mesti menoleh ke belakang agar dapat menyiapkan pijakan pasti serta ideal bagi bangsa dan negeri ini. Apalagi dengan mem-bahnya aliran komunikasi yang terbuka dan tak bersaringan  di segala bidang. Hal semacam ini sangat membutuhkan kesadaran, kecerdasan, dan kedewasaan pikiran.
Oleh Irman Syah

PENDAHULUAN
Tulisan ini hanya catatan personal saja, berisikan beberapa hal yang selintas pintas tentang  butir-butir kenangan yang berhubungan dengan perjalanan kreatif saya waktu kuliah di Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Ketika hendak menuliskannya lagi, bayangan dan gairah masalalu itu pun bangkit begitu saja. Sastra dan teater memang begitu menggoda.
Oleh Irman Syah

Dengan meyakini sastra, khususya puisi, mampu membangun gairah kehidupan manusia untuk lebih berwarna dan bermanfaat, Sastra Kalimalang mencari jalan baru untuk menemukan masyarakatnya secara alami. Untuk mewujudkan maksud tersebut diperlukan kreativitas yang lebih serta gaya cukup unik.

Suatu saat kalian 'kan tau siapa diri
Seakan bersama, cuma bibit kesepian
yang hanya dimanfaatkan
oleh orang-orang yang lemah.