Prayer


God, this season gives rise to thousands of mistakes

I've chewed a lot of scattered rubbish

in the side slopes of poverty head: do not give it
ease when it's just growing up
the pity of the perfect poor brothers

If you still want your taste to visit me
come in the most lonely of the most painful situations

My eyes turned out to be a spy who investigated sincerity,
moreover dancer of beauty beauty curve of human body
A pair of normal eyes that are always hooked for
see the beautiful, much less tempting.


God, for some reason sometimes just arise my wish

replace it with other eyes of origin can feel and

know the luster of stars, of course you are the most know
God, because from my ancestors honed for sure!

My mouth is always chewing on silence
from time to time and are willing to pass unlimited words
All came out with a subtle turn
Words glide like rainfall, spewing floods
all flowed, all spilled, into the sea, even existed
which ascend the hills, to the mountains, to the clouds and the sun!
but still unable to dismantle the coral in the ocean

So I began to feel dissatisfied with just having a mouth
which is kind of because it is unable to change the act
through language of thought, longing for a mouth capable of cooking
food for the blighted and flood-stricken traveler!


God, why my heart is not ready to be careful in
translating regrets created by myself?

Probably because of the various problems he has to take

but the place is very small. If you can give me
a great heart in order to be heartened in spreading
the wisdom created by simple thoughts

Give me a heart that is always careful in business
weighing and sorting and formulating
something wisely: that way I will have
sharp eyes of heart for all corners of humanity!

God, if I had you to accept it, the smallness of meaning
self will be nurtured as deep as possible: be this prayer bud
life that will split eyes, mouth and heart, determinant
hand move to not as usual and simple course ..
Amen!


spacer

Pertunjukan 'Malin Kundang: Legenda Sumbang Laki-Laki Minangkabau


Image by Google

Sahabat Rohmantiks yang berbahagia, meski di mana pun anda berada, semoga tetap saja baik dan sehat serta dilancarkan segala aktivitasnya.

Saya akan berbagi kabar pada kita semua tentang 'Malin Kundang': sebuah legenda popular tentang seorang laki-laki Minangkabau.

Malin Kundang dalam Legenda:


Dikisahkanlah tentang Malin Kundang, seorang laki-laki di Minangkabau -- secara georafis, lokasinya adalah Pantai Air Manis, Provinsi Sumatera Barat - Indonesia -- yang pergi merantau dengan jalan berlayar menuju lautan luas.

Malin Kundang, tokoh legenda yang telah menjadi stigma 'anak durhaka' dikarenakan sepulang dari perantauan, kaya dan membawa istrinya yang cantik, dia tidak lagi mengakui dirinya  sebagai anak dari ibu kandungnya sendiri yang menjeputnya ke pelabuhan.

Akhirnya sang Ibu, karena rasa malunya yang teramat sangat dan tambahan lagi karena miskin, akhirnya dia manjatuhkan sumpahnya serta mengutuk anak kandungnya sendiri tersebab kecewanya yang teramat dalam.

Begitulah kisah Malin Kundang, akhirnya ia dikutuk oleh ibunya dan kemudian menjadi batu di pantai Air Manis. Tersebab kutukan itu, kisah legenda ini pun dijadikan edukasi dalam pendidikan anak di Miangkabau agar tidak durhaka kepada ibunya.

Malin Kundang, dalam Naskah Drama Wisran Hadi:


Pada Festival Nasional Wisran Hadi yang diadakan oleh Teater Langkah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang (23-29 April) lalu, tuan rumah Teater Langkah Unand dengan sengaja mengangkat naskah drama Malin Kundang karya Wisran Hadi.

'Malin Kundang' versi Wisran Hadi ini, ceritanya bila dikerucutkan akan mengarah dan menjadi persoalan eksistensi laki-laki Minang yang diangkat melalui peran dan fungsinya di Minangkabau. Cerita bermula dari kepergian laki-laki (suami) yang merasa hak-haknya yang dirampas secara adat:

Dia mengajak istrinya untuk ikut meninggalkan rumah, pergi merantau.. tapi sang istri tidak sepakat dengan pendapat serta pilihan dan pikiran suaminya. Akhirnya dia memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan kecintaan sembari memelihara anak laki-laki satu-satunya, Malin Kundang.


Ketika si anak mulai besar dan kemudian mempertanyakan keberadaan Ayahnya, sang Ibu tidak mampu menjelaskannya secara kongkrit. Dia hanya mengatakan bahwa ayahnya cuma pergi merantau. Si Anak dengan sikapnya yang keras, ia ingin membuktikannya dan kemudian pergi mencarinya dengan jalan merantau.

Sang Ibu akhirnya tinggal sendiri, ia jadi sebatang kara, ditinggal oleh dua orang laki-laki, yakni: suami dan anaknya Malin Kundang yang berlayar mengayuh kehidupan dengan kata hatinya.

Dari perjalanan dan persinggahan waktu yang panjang, Malin Kundang ternyata kembali merapat di pantai yang sama, di pelabuhan keberangkatan, yakni pantai Air Manis: tempat di mana dulu Ibu kandungnya mengantar  ketika hendak berlayar.

Malin Kundang sesungguhnya bertemu dengan Ibunya ketika ia turun dari kapal dengan membimbing seorang  perempuan, istri yang ia bawa dari seberang lautan. Malin Kundang berdebat keras dengan Ibunya: baik tentang bapak, tentang kasih sayang, tentang tanggung-jawab, janji dan lain sebagainya.

Perdebatan itu ternyata tidak berujung mulus dan malah melahirkan peristiwa kutukan. Sebagai ending dari naskah ini: anak perempuan Malin Kundang pun mencari bapaknya sampai ke Pantai Air Manis.


Pertunjukan 'Malin Kundang' oleh Teater Langkah:


Pementasan teater Langkah yang mengangkat naskah Malin Kundang ini menarik ntuk disimak dan cukup berhasil penggarapannya. Sutradanya sengaja mengambil bahasa ungkap dengan menggunakan konsep melalui bahasa symbolik.

Pola randai (gerak seni teater tradisi) yang dikombinasikan dengan format pertunjukan modern dan kemudian  disematkan dalam pertunjukan ini cukup komunikatif. Pengucapan panggungnya berhasil memunculkan momentum puitik atas pola dramatik cerita yang memang kuat.


Sebagai pertunjukan apresiasi dari teater mahasiswa, yang menjadikan teater sebagai media ekspressi untuk melahirkan pengalaman empirik mahasiswa itu sendiri dalam berkreativitas, tentu ini amat berarti bagi mereka ketika nantinya mereka menuliskan pementasan karya orang lain. Pemahaman semacam itu pantas untuk dipujikan.

Padang, 25 April 2018
Note: Image Pertunjukan oleh Teater Langkah
spacer

‘Festival Nasional Wisran Hadi' | Teater Langkah: Gelar 7 Grup Teater Mahasiswa & Seminar Nasional Teater Indonesia.



Logo Teater Langkah, Unand

Sahabat Rohmantiks, dimana pun anda berada, simoga senantiasa baik dan sehat, serta dilancarkan segala aktivitas..

Kali ini, saya akan berbagi cerita tentang perjalanan kreativitas yang tengah saya lakukan di Sumatera Barat - Indonesia.

Jakarta-jakarti:

"kau kah itu lelaki bermata sayu berdiri di simpang, menatap gadis-gadis berseliweran: hai Upik, nomor berapa kutangmu?"

(Poem: Irman Syah, rohmantik)

Kerlip puisi diatas merupakan gambaran pertemuan dan penilaian saya tentang sebuah Kota Besar di Indonesia, yang kemudian, momen puitik itu saya abadikan ke dalam karya.

Judul puisi tentunya index yang mampu menggambarkan penilaian tentang apa yang dimaksud oleh karya tersebut.

Gambaran itu, setidaknya menyampaikan kondisi empirik yang dirasakan pendatang baru ketika menjejakkan kaki untuk hidup di Ibukota Indonesia.

Banner Taman Ismail Marzuki

Terhitung, telah lebih dari 16th saya berdomisili di Jakarta. Daerah Khusus Ibukota menjadi etape terakhir yang terpilih dari perjalanan aktivitas dan kebudayaan yang saya lakukan sendiri secara personal-individual: Sumatera, Jawa dan Bali.

Hidup dengan jalan menggelar karya dan memanggungkan puisi -- kadang mendirikan beberapa komunitas -- di kota-kota yang baru ditempati memang merupakan tantangan tersendiri yang mesti dinikmati.

Patung Ismail Marzuki, Tim Jakarta)

Poelang Kampoes:

Sebelum terbang ke Sumatera Barat, saya masih jumpa Steemians di @pojoksteemit, tongkrongan bersama yang sikalian difungsikan sebagai promo-steem. Sempat jumpa @musismail@willyana, dan @emongnovaostia, tapi mesti pulang cepet karena mau prepare untuk berangkat ke Padang.

Besoknya, langsung terbang ke Minangkabau Airport dari Bandara Soetta dengan tujuan menghadiri event Festival Nasional Wisran Hadi di FIB Unand Padang yang ditaja oleh Teater Langkah.

Poster Event: Festival Nasional Wisran Hadi, 
by Teater Langkah

Teater Langkah FIB Universitas Andalas:

'Teater Langkah' adalah grup Teater mahasiswa paling tua di Universitas Andalas. Sekarang usia grup tersebut sudah berumur 30th. Otomatis, di UKM FIB Unand, merekalah yang paling tua.

Dari puluhan tahun beraktifitas, tercatat beberapa kampus di Indonesia Wilayah Barat telah berpentas dan mengikuti Pertemuan Teater Mahasiswa yang eventnya dilaksanakan oleh Teater Langkah ini:

Antara lain, Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas Jambi, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, USU Medan, Unimed Medan, Tadulako Palu, dan Gsttf Unpad Bandung.

Itu dulu.. lama sekali.

Image by Teater Langkah

Teater Langkah, setelah melakukan anjangsana melalui pertunjukan ke beberapa kampus di Sumatera, kini grup ini sengaja mengadakan Festival untuk sebuah penghormatan kepada seorang 'Guru'/dosen, Tokoh Teater Indonesia, Pendiri Bumi Teater Padang, yaitu Wisran Hadi.

Festival Nasional Wisran hadi (FNWH):

Liflet FWNH langkah

Festival Nasional Wisran Hadi berlangsung dari tanggal 23 - 29 April 2018.
Dilaksanakan di Medan Nan Balinduang dan Parkiran Kampus Fib Universitas Andalas Padang.
FNWH diikuti oleh 7 peserta:, antara lain:
  1. Teater Langkah, Universitas Andalas
  2. Teater Basurek, Universitas Bengkulu
  3. Teater Batra, Universitas Riau
  4. ISI Padangpanjang
  5. Teater Nol, Universitas Syiah Kuala
  6. Teater Tirai STIK-P medan. Sumatera Utara
  7. Teater UI, Universitas Indonesia.
 
Liflet FWNH langkah

Sebagai tanda berkabar, maka jadilah postingan ini. Semoga kelanjutannya, nanti masih bisa saya postingkan. Dan ini beberapa adegan pada pertunjukan malam pertama (23/4):




Not | Foto-foto hari pertama pertunjukan teater dari teater Langkah

Salam Rohmantik
(Diupdate dari Steemit @mpugondrong)




spacer