Bagaimana mungkin mengacungkan
nilai yang sempurna
Sementara ibu-jarimu tengah terluka

Bekasi, 5 Juli 2017



Peresmian ‘Tan Malaka House & Galery’ ditandai dengan penyibakan atas balutan selubung kain hitam yang menutupi patung Tan Malaka oleh FadliZon, didampingi oleh Wabup Kabupaten Limapluh Kota, Ferizal Ridwan, Hengki Dt. Tan Malaka dan Wali Nagari Padam Gadang Khairul Apid.

Rangkaian prosesi haul sakral Tan Malaka ini juga diawali dengan upacara penyambutan para tamu secara adat Minangkabau, doa dan tabur bunga di makam Tan Malaka, serta dimeriahkan pula dengan pertunjukan reog, tari piriang badantiang, pertunjukan puisi Negeri Bayang-bayang, juga penampilan monolog Tan Malaka; Saya, Rusa Berbulu Merah.

Upacara yang digelar pada Jumat (14/4)) di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan  Gunung Emas, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat ini berjalan dengan khidmat. Hadir dalam acara itu Wakil Ketua DPR RI, Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Pimpinan DPRD Kabupaten Limapulu Kota serta para Ninik Mamak, para Datuk se Kabupaten LimapuluhKota.

Selama 63 tahun, pencarian panjang keberadaan Ibrahim Datuk Tan Malaka oleh pihak keluarga menemukan titik terang. Seorang peneliti sejarah asal Belanda, Herry Poeze, menemukan lokasi makamnya tahun 2007 silam. Akhirnya, “pinang pulang ke tampuk, sirih pulang ke gagang”; keluarga menyambut baik hasil temuan makam Tan Malaka untuk sebuah keyakinan tentang keberadaan jasad tokoh pergerakan nasional itu di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Ferizal Ridwan, Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat mengungkapkan, pada tahun 2009 pihak keluarga telah melakukan tes DNA terhadap tulang yang ada di makam itu. Rangkaian prosesi penjemputan dan pemulangan ini berdasar mandat dari pihak keluarga yang menginginkan jasad Tan Malaka kembali dan pulang ke kampung halamannya. 

“Prosesi penjemputan dan pemulangan jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka dimulai sejak tgl 16 Februari 2017. Tim delegasi mengambil beberapa genggam tanah dari makam Tan Malaka secara simbolik. Adapun pengakuan pemerintah masih menunggu keputusan Kementerian Sosial,” ujarnya.

Selain peresmian makam Tan Malaka secara adat, juga dilaksanakan peresmian Monumen Patung Tan Malaka karya perupa Bambang Win yang berkolaborasi dengan Fadli Zon. Patung perunggu ini bobotnya mencapai 120 kilogram. Acara lainnya juga peluncuran Tan Malaka House and Library sebagai museum, taman bacaan, dan pusat kajian ekonomi kerakyatan.

Fadli Zon menyebut Tan Malaka adalah tokoh penting dalam pendirian Republik Indonesia. Karena itu dia menegaskan kembali bahwa Tan Malaka adalah Bapak Republik, bukan hanya pahlawan nasional berdasar pada Keputusan Presiden RI No 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 saja. Tan Malaka adalah manusia multidimensi, seorang pejuang, pemikir dan visioner. Ia pernah berjuang di garis kiri, namun tetap sangat nasionalis dan Muslim yang taat.  “Tan Malaka merupakan pemikir awal sebelum kemerdekaan Indonesia  memiliki konsep tentang negara republik,” kata Politikus Partai Gerindra itu.

Pemikiran Tan Malaka Merdeka 100 persen sangat relevan sampai hari ini, bagaimana kondisi Indonesia yang harus mengedepankan kedaulatan agar bisa sepenuhnya berdaulat. Kedaulatan dalam hal ini adalah kedaulatan pangan, kedaulatan energi serta kedaulatan di darat, laut dan udara. “Yang tak kalah penting adalah berdaulat dalam pemikiran sebagai bangsa yang merdeka, bukan inlander,” tutup Fadli. (tim)



‘Rohmantik Performance’ merupakan ramuan panggung puisi secara modern yang materialnya berangkat dari kekuatan tradisi seperti dendang, randai, kaba, gerak silat, serta tiupan bansi. Semua dikemas dalam pemanggungan yang unik dan komunikatif. Kadang penonton pun ikut hanyut dengan aliran pertunjukan dan bahkan terlibat mencipta nada sambil mengikuti tempo musikal melalui rampak tepuk tangan. Begitu kata Irman Syah saat ditanya tentang apa itu Rohmantik Performance.

Setelah dibuka dengan tari-tarian penuh kegembiraan oleh penari yang didominasi ibu-ibu yang masih kental dengan liukan tubuhnya itu, beberapa penyair mulai membacakan puisi-puisi mereka. Syarifuddin Arifin, Alwi Karmena, Irman Syah, Joind Bayuwinanda, Heranof Firdaus, dan sederet penyair lain memulai aksi panggung mereka.

JAKARTA ---Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI)  menggelar "Roadshow Workshop Musikalisasi Puisi" di sejumlah kota di Indonesia. Workshop diawali di Jakarta pada 7-9 April 2017 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, selanjutnya di Bogor pada 28-30 April, dan Bekasi pada 5-7 Mei 2017.
Cermin Negeri Para Bangsa


Oleh Irman Syah

Zamrut Khatulistiwa, sebuah mata rantai kehidupan yang indah dan kaya. Keindahan yang tiada tara yang memang diakui dunia. Inilah negeri kita, inilah nusantara. Ungkapan ini pulalah yang membuat negeri ini menjadi incaran kolonial dari dahulu kala hingga kini. Penjajahan demi penjajahan dalam berbagai rupa dan bentuknya akan selalu dialami negeri ini jika ungkapan itu hanya cuma pemanis kata tetapi rasa tidak lagi pernah dimiliki bangsanya.

Oleh Irman Syah

Ketika seseorang menyebut ‘puisi’, maka yang pertama sekali muncul dan melintas di pikiran adalah rangkaian kalimat-kalimat indah dengan kata-katanya yang menarik serta ditambah lagi dengan ikatan bait-baitnya yang mengelompok. Pandangan ini tidaklah salah, karena memang demikianlah puisi bagi yang baru terlibat dengan apresiasi intrinsic karya. Tapi, puisi bukanlah  sesimpel itu, baik format mau pun kandungannya.


Oleh Irman Syah)*

“Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira, bintara, atau tamtama
Tetap tentara..”


Tak terduga, lagu itu riuh bergema di ruangan panjang yang bangunannya terletak tidak begitu jauh dari sebuah Asrama Tentara di Jakarta. Tepuk tangan dan sorak-sorai serta ketukan-ketukan pada dipan kayu dan besi oleh para Veteran pasukan khusus yang cidera akibat perang itu pun lahir begitu saja karena riangnya.
DENTING NADA DI UJUNG KATA


Oleh Irman Syah )*

Suku Kulit Muka Berminyak.

Laki-laki berkulit gelap, berambut panjang, bewokan, dan tubuhnya yang sedikit besar dan  kekar itu pernah duduk berlama-lama di terminal. Ini dilakukannya setiap hari dan berbulan-bulan lamanya. Dia datang dengan menyandang biola dan kemudian duduk berjam-jam hingga tengah malam, tentunya dengan sebotol bir yang setia menjadi teman di sampingnya. Gesekan biolanya membuat beberapa orang kawan di jalanan  bertanya-tanya. Siapakah dia?
Sebuah Apressiasi Puisi Dhenok Kristianti )*

Oleh Irman Syah 

Pendahuluan.

Sekedar menyamakan persepsi, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu kesatuan pandangan bahwa puisi adalah kristalisasi dari ungkapan penuh makna yang terlahir atas kedekatan yang intim antara diri penyairnya dengan ‘diri’ yang ia citrakan di dalam karya puisinya.