Gunung Wilis di Selopanggung
Gunung Emas di Limapuluh Kota.

Jarak menghampar di dua gunung

Demikianlah rantau Tan Malaka

Oleh Irman Syah


Gundukan tanah yang memanjang dengan sebongkah batu sungai sebagai penanda di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis itu kini telah berganti nisan berpondasi semen segi empat yang memanjang dengan bendera merah putih berbahan plat logam menancap diatasnya.

Sepanjang Sumarrecon 
Jalanan dan mall berpisah ikatan
Teralis dan tiang-tiang tegap mengukuhkan listrik dan telepon;
laki-laki penggengam henpon mondar-mandir.

Dipanggilnya sepucuk suara..
Suara yang menghadang masadepan, tentang kilau-bantah
yang tak berkesudahan. 
Mobil polisi, marka jalan, pohon-pohon dan daun muda seberang jalan 
setia mengampungkan sisa racun yang kemarin

Di pekat malam, suara panggilan telah dihunus panggilan tak terjawab tiga kali
Hidup mesti melawan. Jabat dan lepas cuma permainan telapak tangan
Ada garis menegaskan.

Sumarrecon, angin dan rumput-rumput baru, gelinjangnya melenakan.
Habis kitab pun takkan terlupakan.


Oleh Irman Syah

Judul ini didapatkan ketika berlangsungnya diskusi dengan kawan-kawan tentang rencana untuk mewujudkan penamaan ‘Taman Ane Matahari’ di bantaran Kalimalang. Ada beberapa elemen dan kelompok komunitas yang hadir pada malam itu. Dikarenakan tidak mungkin untuk  menjabarkannya waktu itu maka jadilah ia berupa tulisan semacam ini.
Oleh Irman Syah

‘Silaturrahmi Batin’ adalah ungkapan popular Sastra Kalimalang. Komunitas Sastra yang didirikan Ane Matahari dan kawan-kawan kurang lebih 5 tahun lalu ini bermukim di Bantaran Kalimalang. Tepatnya, berlokasi di samping kampus Unisma, jalan Cut Meuthia 93 dan memiliki sebuah Saung Sastra yang dijadikan tempat bertemu, diskusi kecil dan sekaligus pustaka sastra. 
: Sikap dan Konsep Berkesenian
Oleh: Sahrul N

A.     Perkembangan Teater di Sumatra Barat

Melihat teater modern Sumatra Barat, mau tidak mau akan melihat sosok yang bernama Wisran Hadi dengan kelompoknya yang bernama Bumi Teater yang dianggap sebagai tonggak teater modern yang berkembang di Sumatra Barat. Hampir seratus persen seniman-seniman teater di Sumatra Barat merupakan alumni grup teater Bumi yang dipimpin oleh Wisran Hadi. Membicarakan sejarah teater modern Sumatra Barat berarti sama dengan membicarakan Bumi Teater yang didirikan tahun 1976. Pendirian grup ini merupakan jawaban atas keprihatinan seniman Sumatera Barat terhadap perkembangan teater modern di daerah. Ketika Taman Ismail Marzuki Jakarta dibangun dan Pusat Kesenian Jakarta mulai menjadi pusat kesenian Indonesia, Sumatera Barat belum termasuk dalam peta kesenian Indonesia. Kegiatan yang ramai baru pada persoalan kepenyairan serta diskusi-diskusi sastra. Pada saat itu di bidang sastra, seni rupa dan tari sudah ada individu-individu yang menonjol secara nasional, seperti A.A. Navis, Wakidi, dan Hoeriyah Adam.
Oleh Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Teater lahir dari urbanisasi tak terkecuali teater di Sumatera Barat. Teater adalah gaya hidup “orang kota” dan tumbuh dengan cara orang kota pula. Teateradalah ruang-ruang yang melangsungkan perpindahan terusmenerus dari ruang yang disebut kampung menuju perkotaan, yang diusung dengan tertatih-tatih oleh orang kampung.
(BESKA: ‘Tubuh Air Tanah’ di FTP Bekasi)


Oleh Irman Syah


Bengkel Seni Kartini, dengan Grup Teater BESKA-nya menyuguhkan pertunjukan yang memukau kemarin malam, Minggu (27/11) pukul 19:00 Wib . Mereka adalah penampil terakhir FTP pada hari kedua yang hadir dengan balutan durasi kurang lebih satu jam.

Oleh Syafril (Prel T) *)

Latar Belakang:

1.   Tidak atau belum ada grup teater sebelumnya (sebelumnya kegiatan teater pernah ada tetapi tidak berada dalam sebuah grup) di FS terutama di Jurusan Sasindo.

Oleh Zelfeni Wimra[2]

Di balik kreativitas seni, tersembunyi aspek ideologi. Potensi gambar, visualisasi ide kreatif, dan eksplorasi bunyi selalu bias dipakai untuk melakukan propaganda. Pertempuran sejati yang berlangsung saat ini terjadi karena memperebutkan siapa yang akan berkuasa mengontrol otoritas dan citra dunia, yang dengan itu akan dapat menjual gaya hidup tertentu, budaya tertentu, produk-produk tertentu, Dan gagasan-gagasan tertentu. (Barber, 1996: 82).

(Mengucapkan Tradisi dengan)  
Bahasa “kekinian”

Dengan Bismillah aku mulaikan 
Ya ini majlis hamba hormatkan
Para hadirin coba dengarkan
Ya ini pantun kami bacakan