Cermin Negeri Para Bangsa


Oleh Irman Syah

Zamrut Khatulistiwa, sebuah mata rantai kehidupan yang indah dan kaya. Keindahan yang tiada tara yang memang diakui dunia. Inilah negeri kita, inilah nusantara. Ungkapan ini pulalah yang membuat negeri ini menjadi incaran kolonial dari dahulu kala hingga kini. Penjajahan demi penjajahan dalam berbagai rupa dan bentuknya akan selalu dialami negeri ini jika ungkapan itu hanya cuma pemanis kata tetapi rasa tidak lagi pernah dimiliki bangsanya.

Oleh Irman Syah

Ketika seseorang menyebut ‘puisi’, maka yang pertama sekali muncul dan melintas di pikiran adalah rangkaian kalimat-kalimat indah dengan kata-katanya yang menarik serta ditambah lagi dengan ikatan bait-baitnya yang mengelompok. Pandangan ini tidaklah salah, karena memang demikianlah puisi bagi yang baru terlibat dengan apresiasi intrinsic karya. Tapi, puisi bukanlah  sesimpel itu, baik format mau pun kandungannya.


Oleh Irman Syah)*

“Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira, bintara, atau tamtama
Tetap tentara..”


Tak terduga, lagu itu riuh bergema di ruangan panjang yang bangunannya terletak tidak begitu jauh dari sebuah Asrama Tentara di Jakarta. Tepuk tangan dan sorak-sorai serta ketukan-ketukan pada dipan kayu dan besi oleh para Veteran pasukan khusus yang cidera akibat perang itu pun lahir begitu saja karena riangnya.
DENTING NADA DI UJUNG KATA


Oleh Irman Syah )*

Suku Kulit Muka Berminyak.

Laki-laki berkulit gelap, berambut panjang, bewokan, dan tubuhnya yang sedikit besar dan  kekar itu pernah duduk berlama-lama di terminal. Ini dilakukannya setiap hari dan berbulan-bulan lamanya. Dia datang dengan menyandang biola dan kemudian duduk berjam-jam hingga tengah malam, tentunya dengan sebotol bir yang setia menjadi teman di sampingnya. Gesekan biolanya membuat beberapa orang kawan di jalanan  bertanya-tanya. Siapakah dia?
Sebuah Apressiasi Puisi Dhenok Kristianti )*

Oleh Irman Syah 

Pendahuluan.

Sekedar menyamakan persepsi, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu kesatuan pandangan bahwa puisi adalah kristalisasi dari ungkapan penuh makna yang terlahir atas kedekatan yang intim antara diri penyairnya dengan ‘diri’ yang ia citrakan di dalam karya puisinya.
Gunung Wilis di Selopanggung
Gunung Emas di Limapuluh Kota.

Jarak menghampar di dua gunung

Demikianlah rantau Tan Malaka

Oleh Irman Syah


Gundukan tanah yang memanjang dengan sebongkah batu sungai sebagai penanda di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis itu kini telah berganti nisan berpondasi semen segi empat yang memanjang dengan bendera merah putih berbahan plat logam menancap diatasnya.

Sepanjang Sumarrecon 
Jalanan dan mall berpisah ikatan
Teralis dan tiang-tiang tegap mengukuhkan listrik dan telepon;
laki-laki penggengam henpon mondar-mandir.

Dipanggilnya sepucuk suara..
Suara yang menghadang masadepan, tentang kilau-bantah
yang tak berkesudahan. 
Mobil polisi, marka jalan, pohon-pohon dan daun muda seberang jalan 
setia mengampungkan sisa racun yang kemarin

Di pekat malam, suara panggilan telah dihunus panggilan tak terjawab tiga kali
Hidup mesti melawan. Jabat dan lepas cuma permainan telapak tangan
Ada garis menegaskan.

Sumarrecon, angin dan rumput-rumput baru, gelinjangnya melenakan.
Habis kitab pun takkan terlupakan.


Oleh Irman Syah

Judul ini didapatkan ketika berlangsungnya diskusi dengan kawan-kawan tentang rencana untuk mewujudkan penamaan ‘Taman Ane Matahari’ di bantaran Kalimalang. Ada beberapa elemen dan kelompok komunitas yang hadir pada malam itu. Dikarenakan tidak mungkin untuk  menjabarkannya waktu itu maka jadilah ia berupa tulisan semacam ini.
Oleh Irman Syah

‘Silaturrahmi Batin’ adalah ungkapan popular Sastra Kalimalang. Komunitas Sastra yang didirikan Ane Matahari dan kawan-kawan kurang lebih 5 tahun lalu ini bermukim di Bantaran Kalimalang. Tepatnya, berlokasi di samping kampus Unisma, jalan Cut Meuthia 93 dan memiliki sebuah Saung Sastra yang dijadikan tempat bertemu, diskusi kecil dan sekaligus pustaka sastra. 
: Sikap dan Konsep Berkesenian
Oleh: Sahrul N

A.     Perkembangan Teater di Sumatra Barat

Melihat teater modern Sumatra Barat, mau tidak mau akan melihat sosok yang bernama Wisran Hadi dengan kelompoknya yang bernama Bumi Teater yang dianggap sebagai tonggak teater modern yang berkembang di Sumatra Barat. Hampir seratus persen seniman-seniman teater di Sumatra Barat merupakan alumni grup teater Bumi yang dipimpin oleh Wisran Hadi. Membicarakan sejarah teater modern Sumatra Barat berarti sama dengan membicarakan Bumi Teater yang didirikan tahun 1976. Pendirian grup ini merupakan jawaban atas keprihatinan seniman Sumatera Barat terhadap perkembangan teater modern di daerah. Ketika Taman Ismail Marzuki Jakarta dibangun dan Pusat Kesenian Jakarta mulai menjadi pusat kesenian Indonesia, Sumatera Barat belum termasuk dalam peta kesenian Indonesia. Kegiatan yang ramai baru pada persoalan kepenyairan serta diskusi-diskusi sastra. Pada saat itu di bidang sastra, seni rupa dan tari sudah ada individu-individu yang menonjol secara nasional, seperti A.A. Navis, Wakidi, dan Hoeriyah Adam.