Kepala

Oleh Irman Syah

Dalam kenyataan keseharian, entah kenapa, setiap kita menemukan ragam manusia berbondong-bondong bergerak, melangkah dan menyuarakan sesuatu dengan pikirannya yang sempit. Menilai dan menuduh manusia lain dengan caranya sendiri tanpa mempertimbangkan banyak hal yang semestinya  diteliti atau ditelusuri dulu lebih jauh. Maka, wajar saja kita melihat parade-parade kepala yang kian menonjolkan dirinya sendiri sebagai sesuatu dan satu-satunya yang mesti dipandang benar.

Di jalan-jalan, di gedung-gedung, di parlemen, di rumah-rumah tangga, dan di media-media cetak atau elektronik, kita selalu dihadapkan dengan persoalan yang semacam ini. Selebihnya cuma iklan sabun mandi atau apa saja yang dengan sengaja menonjolkan persoalan angka dan harga. Menyimak dan mengikuti perkembangan kehidupan yang menjalar tak tentu ini manusia Indonesia telah dikepung oleh beragam persoalan yang datang dari luar dirnya. Kenyataan ini diserap tanpa disaring. Akhirnya, semua orang sibuk dengan persoalan baru dari luar diri yang tanpa sengaja telah begitu saja tumbuh mengakar.

Setiap hari kehidupan bergulir dengan kesibukan tak menentu. Mempersoalkan orang lain telah menjadi makanan setiap waktu tanpa menyadari diri sendiri juga terkurung dalam persoalan yang teramat sunyi di rongga hati, dan tak satu pun pula yang mampu keluar dari dindingannya. Anehnya, tak seorang pun mengaku dengan kesunyian yang dimilikinya. Semua sibuk membohongi diri sendiri dan seakan manusia lain tidak tahu persoalannya. Begitulah kebohongan dipelihara dengan rapi sambil menyalahkan orang lain yang sesungguhnya belum tentu salah.

Akhirnya semua menonjolkan kepala dengan mengatakan bahwa pikirannyalah sastu-satnya kebenaran. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diucapkan bahasa bagi kepala-kepala yang berjalan sambil berteriak-teriak tentang kesunyian dan penderitaannya sendiri yang selalu dibunuhnya dengan kepala yang selalu diasahnya di mana-mana. Dimanakah perasaan menyembunyikan dirinya? Pendidikan telah menajamkan pikiran, memandang pikiran orang lain adalah satu-satunya kebenaran. Mengungkapkan penilaian dengan dasar teori atau kebijakan nagara lain yang mereka sendiri juga belum pernah ke sana.  

Ketika agama sering dipersalahkan pikiran dan para ahli yang nota bene berpendidikan atas kepentingan tertentu, saat itulah Pendidikan mesti bangkit: mengevaluasi hasil, menilai kekurangan serta menambal sulam sobekan budi pekerti berdasarkan keasaman tanah dari ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan. Sekularisasi menjalar tak berbatas, nafas manusia kian tersengal digiring ke pembantaian kemanusiaan. Kepala-kepala kian mengutuhkan dirinya menjadi sesuatu yang paling lengkap dengan kesombongan pikiran. Begitu jauh jarak diri dengan Diri sebagai pencipta langit dan bumi.

Rohani? Ya, begitulah kesepian menjalar ketika manusia tak lagi menikmati makanan batin itu. Sementara kuliner-kuliner lainnya pun menjarah rasa dan lidah manusia Indonesia hingga ke ujungnya melalui gaya hidup keduniawian. Begitu pun kesenian kita telah pula diusiknya lewat industri yang merajakan  kembali Singgasanya Luth dengan kehedonisannya. Karenanya, kepalkan bahasa rasa dan periksa bagi keutuhan, kembalikan budaya pada singgasananya yang tepat dengan usaha. Hadapi!

Jakarta, 16 Mei 2013

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI