Chairil Anwar: "Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi!"

(Poster Kegiatan 'Kenang Chairil', Intro Payakumbuh)

Ketika diminta untuk mempresentasikan pikiran dalam acara 'Kenang Chairl' 
(28/4/2018) di Komunitas Intro Payakumbuh, saya mencoba 
untuk mencatatkan gagasan dalam tulisan sederhana ini..


(Irman Syah)


Chairil Anwar, lahir di Medan 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta 28 April 1948 dalam usia 26 tahun, (9 bulan, dan 6 hari) di Rumah Sakit CBZ (RS Cipto Mangunkusumo, sekarang).

Sastrawan dan tokoh utama pada deretan Angkatan '45 yang tercatat dalam periodisasi Kesusastraan Indonesia ini merupakan penyair fenomel yang memang tidak ada duanya.

Sampai hari ini pun di negeri ini tak ada yang dapat menandingi spirit karya, pembaruan, aktivitas, gaya, dan perannya dalam kancah kehidupan berbangsa masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Puisi Sebagai Senjata:

Karya sastra, juga karya lainnya, baik dalam bentuk dan apa pun genrenya tentu saja merupakan kekuatan yang dimiliki kreator sebagai alat yang dapat digunakannya menjadi sesuatu yang dia inginkan bagi jalan hidupnya.

Chairil Anwar, sebagai seorang penyair yang eksentrik dan cerdas telah menjadikan puisinya sebagai senjata. Dia adalah tokoh yang patut dikenang.

Selain meninggal dunia di usia muda, dia adalah seorang linguist yang cermat dan mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa.

Dengan modal kemampuan komunikasi yang luar biasa itu dia berhasil membaca dunia. Dia juga seorang penyiar (jurnalist) yang selalu mengikuti perkembangan zaman.

(Monumen Patung Tan Malaka di Pandam Gadang, 50 Kota ~ Sumatera Barat)

Sebagai seorang penyair, Chairil juga pengagum pejuang kemerdekaan Indonesia Tan Malaka. Tan, yang memang merupakan tokoh revolusioner ini pun menuliskan pemikirannya yang berhaluan kiri.

Chairil Anwar pun tak luput mengabadikannya lewat ungkapan puisinya, "Mampus kau dikoyak-koya sepi..":

Sajak Sia-sia (1943):
..
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Disinyalir, mata-puisi dan ungkapan Chairil ini ternyata memang ditujukan kepada Tan Malaka: Tokoh yang selalu dikaguminya, diburu oleh kolonial karena pikiran-pikirannya yang memang revolusioner.

Dan terbukti, bahkan hingga sampai meninggalnya pun, Tan Malaka tak pernah memiliki istri. Padahal dia adalah mahaguru bagi pemikir dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah mengembara ke berbagai belahan dunia.

Puisi adalah senjata bagi Chairil Anwar. Sajaknya yang berjudul 'Kerawang Bekasi' pun lahir dari aktivitas dan proses kreatifnya yang luar biasa dan tidak nain-main karena Chairil turut serta berjuang dan ikut memegang senjata.

Komunitas Seni Intro Kenang Chairil Anwar

PAYAKUMBUH - 'Mampus kau dikoyak-koyak sepi' adalah kutipan puisi dari seorang penyair yang berasal dari Taeh Baruah, Kabupaten Limapuluh Kota. Dialah Chairil Anwar yang juga dikenal lewat puisinya berjudul Aku.

Meskipun selama ini sosok Chairil Anwar dikenal sebagai penyair kelahiran Medan, ternyata Chairil Anwar berdarah Taeh Baruah, Kabupaten Limapuluh.

Memperingati wafatnya penyair Chairil ini, Komunitas Seni Intro akan melaksanakan Kenang Chairil pada 28 April 2018 mendatang.

Hal ini disampaikan Iyut Fitra didampingi Yudilfan Habib Dt. Monti usai rapat persiapan Kenang Chairil, Rabu 28 Maret 2018.

Iyut mengatakan, Kenang Chairil ini digelar untuk memperingati wafatnya penyair Chairil Anwar dan sekaligus memperkenalkan Chairil Anwar lebih mendalam.

(Rapat Kenang Chairil, Cafe Kawa Daun Payakumbuh ~ Sumatera Barat)

"Ini juga dalam rangka mengakrabkan Sastra dengan siswa, guru, masyarakat, dan seluruh stakeholder yang ada, baik di Kabupaten Limapuluh Kota maupun Kota Payakumbuh," kata penyair 'Lelaki dan Tangkai Sapu' ini.

Ia menjelaskan beberapa kegiatan yang akan digelar adalah Siswa Kenal Chairil, dimana penyair dan sastrawan akan terlibat terjun ke sekolah untuk memperkenalkan karya-karya Chairil Anwar. Kemudian Diskusi Chairil juga akan menghadirkan narasumber dari Padang dan Jakarta.

"Puncaknya nanti akan ada Panggung Chairil dengan penampilan Seni yang mengangkat karya-karya Chairil Anwar seperti musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, pembacaan puisi oleh siswa dan sastrawan serta kesenian lainnya," ujar Iyut Fitra bersama Dalu yang didaulat sebagai Ketua Panitia Kenang Chairil. (rel)

(Irman Syah dalam seuah acara Peringatan Chairil Anwar, Tim Jakarta)





Share:
spacer

No comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI