'Taman Ane Matahari'

Oleh Irman Syah

‘Silaturrahmi Batin’ adalah ungkapan popular Sastra Kalimalang. Komunitas Sastra yang didirikan Ane Matahari dan kawan-kawan kurang lebih 5 tahun lalu ini bermukim di Bantaran Kalimalang. Tepatnya, berlokasi di samping kampus Unisma, jalan Cut Meuthia 93 dan memiliki sebuah Saung Sastra yang dijadikan tempat bertemu, diskusi kecil dan sekaligus pustaka sastra. 

Mereka menamakan Perpustakaan Pinggir Kali. Di Saung inilah digodog segala program Sastra dan Pertunjukan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Di antaranya pedagang kaki lima, Tukang Ojek, Sekuriti, Pengamen, Mahasiswa, Seniman, Anak-anak jalanan, dan pengunjung perpustakaan. Semua terlibat dalam kegiatan sastra dan pertunjukan. Begitu pula dengan pedagang yang akhirnya membentuk sebuah Koperasi Mulia Sejahtera.

Sebelum Sastra Kalimalang ada, sebelum komunitas ini berdiri dan menghadirkan program-programnya, bantaran Kalimalang boleh dikatakan semrawut dan menjadi tempat pelarian para copet dan penodong dari jalan raya selepas memakan mangsanya di simpang atau di bus-bus yang mereka jarah. Terkadang bantaran kali ini menjadi sasaran empuk bagi para pendatang yang singgah untuk melakukan sesuatu sekehendak hati, termasuk berbuat mesum.

Dengan adanya Sastra Kalimalang, bantaran kali yang lakosinya dilingkup jalan Cut Meuthia dan Chairil Anwar ini langsung berubah. Kegiatan sastra, pertunjukan, dan diskusi lingkungan mengubahnya secara drastis. Focus telah menjadi magnet. Bantaran kali ini menjadi tempat bertemunya gagasan kreatif yang melibatkan masyarakat secara umum. Kebudayaan menjadi mengemuka dalam setiap program yang dirancang.

Konsep awal dari berdirinya Sastra Kalimalang adalah, mengubah ‘Ruang Publik’ menjadi ‘Ruang Kultur’. Semua kegiatan mengacu pada kebudayaan. Beberapa tokoh diundang untuk memberikan sumbangsihnya dalam mewujudkan bagaimana kebudayaan menjadi sentral pada setiap langkah apa pun di Bekasi, dan Indonesia secara umumnya. Kehadiran para tokoh, baik Budayawan, Seniman, Pemerintahan, Aparat Kepolisian, KPK, terasa amat mengukuhkan.

Event yang spektakuler dari Sastra Kalimalang ini selain Art Terapy, Kampanye Kebudayaan, dan pementasan Musikalisasi Puisi adalah Panggung Terapung. Panggung  yang ditata di tengah-tengah Kalimalang dengan arsitektur yang terpusat dan memakai pengapung ini dapat ditonton dari berbagai sisi. Para pengisi acara untuk menaiki panggung pun mesti naik sampan atau kano yang memang telah disiapkan termasuk pengamanannya.

Setelah 5 tahun berlalu, selagi marak-maraknya kegiatan, Ane Matahari berpulang karena sakit. Semua yang telah tercipta di bantaran kalimalang menjadi bukti. Bantaran Kalimalang yang memang indah dinikmati ketika sore menjelang senja dengan henpon di tangan atau laptop yang terkembang akan dapat menikmati dunia dan perkembangannya. Amat menyedihkan kiranya andai basis kesenian dan kebudayaan di Bekasi ini kalau lokasinya tidak lagi fungsional.

Ane Mattahari adalah tokoh seni dan budaya Bekasi yang tak kenal lelah. Dia tak pernah mengatakan tidak kepada siapa pun. Dengan begitu dia telah menjadi sentral tentang apasaja yang berhubungan dengan kegiatan social masyarakat. Dia dan komunitasnya telah membangun relasi secara baik dengan masyarakat, baik yang ada di lingkungan biasa atau pun yang tengah berada di penjara, panti jompo, dan kampung-kampung yang jarang dikunjungi.

‘Silaturrahmi Batin’, adalah ungkapan popular bagi Sastra Kalimalang yang didirikan Ane Matahari dan kawan-kawan kurang lebih 5 tahun lalu. Komunitas ini bermukim di Bantaran Kalimalang. Lokasinya di samping kampus Unisma, jalan Cut Meuthia 93 dan  memiliki Saung Sastra yang selalu dijadikan tempat bertemu, diskusi kecil dan sekaligus pustaka sastra. Mereka sempat menghadirkan Sutardji Calzoum Bachri, Agoes Jolly, dan para calon Walikota Bekasi. 

‘Ruang Publik’ menjadi ‘Ruang Kultural’ oleh sastra kalimalang akhirnya menemukan jawabannya secara dialektis, Silaturrahmi batin yang menjadi idiom komunitas menemukan akar yang sesungguhnya, yaitu: Sobat Tande. Sebagai Orang Minang dengan Suku Piliang, sebagai Bapak Sobat Tande, sebagai tokoh yang dinobatkan Raja Tarumanegara, sebagai Tokoh Seni-budaya Bekasi yang menjadikan Sastra tidak elitis, serta merangkul generasi muda dengan bahasa jiwa, maka layaklah Bantaran Kalimalang tempatnya berkiprah seama ini menjadi ‘Taman Ane Matahari’.

Ungkapan ini juga dilontarkan oleh Harun Alrasyid dan Abdul Choir serta disambut baik oleh segala elemen masyarakat yang tergabung dalam komunitas Sobat Tande yang hadir pada malam 7 hari-an Ane Matahari di Bantaran Kali yang posisinya tak jauh dari Saung Sastra. Hal baik ini tentu perlu perembukan bagi pihak terkait agar tidak ditimpa oleh hal yang buruk. Dengan begitu, bantaran Kalimalang akan selalu tertib, gagah dan penuh kreatifitas.
Sastra Kalimalang, 9 Desember 2016

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI