1 SYAWAL 1434 H

Oleh Irman Syah

Adalah sebuah peristiwa besar yang tercipta di dalam diri seorang muslim bila puasanya sampai pada keutuhan sikap dan keimanan yang tak cuma sekedar: alangkah bahagia dan berarti rasanya sebuah komitmen atas keyakinan yang selalu terpupuk dan terpelihara dalam peperangan hati dan nafsu ketika menjalankan sebulan penuh puasa Ramadhan.

Apa pun lah kericuhan yang terjadi di republik ini dan termasuk persoalan hilal, yang mempertengkarkan tentang kapan awal puasa menjadi tidak begitu penting bagi jiwa yang bersih. Untuk apa meributkan gajah berkelahi dengan gajah sementara kita cuma semut analoginya. Biarlah nasib dan takdir yang menentukan karena yang terpenting hanya ikhtiar dan tawakal yang mesti bertegur sapa.

Usaha keras dan lepas dari jeratan serta godaan atau pun tipuan tentu telah mendewaskan diri manusia itu dalam segala hal. Tak ada lagi yang lain lebih dewasa selain mereka yang lulus pada bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Merekalah yang pantas menganggap dirinya sebagai umat yang beriman, bukankah panggilan itu hanya ada bagi mereka yang beriman. Jadi, selamat dan sucilah mereka memasuki Syawal.

Bagi yang belum, apa pun risikonya tentu mesti dilaksanakan. Jalanilah hidup lewat usaha keras dengan jalan menyadari kekurangan yang dimiliki. Bagi yang berhasil janganlah pula merasa sombong bahwa kitalah yang paling, karena tak ada yang paling kecuali Pencipta alam semesta. Kerendah-hatianlah yang mesti dipupuk sedalam mungkin. Hadirkanlah tingkah-laku yang benar-benar menunjukkan ketaqwaan. Bukankah capaian itu adalah prestasi gemilang yang mesti dipertanggung-jawabkan ke depannya.

Sebagaimana Ramadhan, sebagaimana pembakaran dosa-dosa yang telah terlewati maka pahalalah yang mesti diperbanyak lewat usaha dan niat baik kemanusiaan yang sempurna. Berikanlah sumbangsih akan nilai-nilai hidup pada diri, keluarga dan masyarakat secara umum. Semoga saja akan banyak manusia lain dapat tertolong tentang kerohanian yag maha penting itu. Ya, selamatlah. Selamatkan kehidupan ke depan yang bukan hanya untuk diri sendiri.

Dalam gemuruh dan gema takbir serta diiringi beduk bertalu-talu, atau keriangan anak-anak dengan baju baru yang menyimbolkan kesucian, atau letusan petasan dan kembang api maka terucaplah: selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, maafkan lahir dan batin. Kiriman di dinding Facebok, Twitter dan sosmed lainnya, atau telpon dan sms yang bersambut kata adalah ragam ucapan dan ungkapan, kata-kata atau pun gambar telah menyampaikan ucapan kemenangan.

Demikian pula halaman ini, Sastra Kalimalang dengan segenap Keluarga Besar 99 Terminal tak lupa mengucapkan pula bahasa yang sama: semoga di bulan-bulan mendatang, sikap dan keimana kita tetap terjaga. Mari ujudkan kenyataan dengan kreatifitas yang makin bermakna. Semoga  saja apa yang telah dimenangkan dalam bulan suci tetap mampu dipertahankan dalam keseharian hidup kita selanjutnya.

Bekasi, 7 Agustus 2013

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI