Ruang Puitik dalam Musikalisasi Puisi

Sebuah Catatan Materi Workshop:
Oleh Irman Syah *)

Ruang puitik adalah kelayakan posisi kemunikasi pertunjukan puisi dengan penempatan makna yang tepat atas kandungan karya puisi oleh penampil (grup Musikalisasi Puisi) dalam usaha mendapatkan hasil pementasan yang menarik dan maksimal serta menyatu dengan khalayak (audience) yang hadir. Kelayakan atau kesesuaian ini akan akan sangat berhubungan dengan hakikat muatan karya puisi itu berdasarkan perangkat komunikasi yang dipergunakan oleh grup Musikalisasi Puisi ketika mempertunjukan karya puisi yang tetunya amat puitik.

Sebuah puisi adalah sebuah dunia, jadi keberadaan panggung sebagai salah satu ruang di luar tubuh penampil akan melengkapkan dunia rekaan penyair. Dunia semacam inilah yang semestinya dihidupkan oleh penanpil dalam konsep, bentuk dan rupa pertunjukan. Dengan begitu, Musikalisasi Puisi yang sesungguhnya merupakan komposisi musikal dari puisi akan mampu membius penontonnya.  Begitulah kekuatan panggung dengan misterina ditaklukkan puisi sebagaimana kata diucapkan nada. Penampil yang akan membawakan musikalisasi puisi semestinyalah mampu menciptakan ruang yang puitik dan sesuai dengan dengan kandungan intrinsic dan ekstrinsik dari karya yang dipilihnya. Dengan begitu ruang puitik dengan pernak-perniknya mengutuhkan makna puisi.

Penyatuan ruang atau komposisi panggung dengan ruh puisi inilah yang sesungguhnya usaha kreatif dari sebuah proses artistic yang perlu dicermati grup secara matang. Andai usaha yang dilakukan untuk mengkomposisi elemen-elemen artistiknya maksimal tentulah hasil yang dimunculkan dalam komunikasi puisinya melalui Musikalisasi puisi akan jadi menarik, indah,  dan komunikatif. Dengan begitu, Musikalisasi puisi boleh disebut berhasil dalam kreasinya serta mampu menjadi penyambung lidah penyair melalui karya yang ditulisnya.

MENGHIDUPKAN RUANG PUITIK
Ada beberapa proses yang perlu diperhatikan Penampil (Grup Musikalisasi Puisi) agar mampu membangun pemaknaan puisi melalui komposisi dengan ruang puitik atas karya puisi yang dipentaskan. Proses ini meliputi pemahaman karya puisi secara matang, menciptakan komposisi musical berdasarkah ruh puisi, dan kemudian membangun dunia kemungkinan (horizon harapan atau pandangan dunia) yang didamba penyair berdasarkan isian teks karyanya.

Ketika proses ini selesai, karya muskalisasi puisi akan bisa berbicara melalui kemasannya melalui ruang  puitik yang mendukungnya. Keberhasilan ruang puitik akan terlihat apabila grup Musikalisasi Puisi mampu lebur secara komunikatif dalam mengkomunikasikan momen puitik dari puisi yang ditampilkan. Ada beberapa factor pendukung dalam menghidupkan ruang puitik ini, antara lain:

1.      Panggung, selain tempat pertunjukan, ruang kosong yang netral ini akan memiliki makna   baru bila diisi oleh teks dan peristiwa di ruang variabel yang dimilikinya.
2.  Perangkat Artistik, apakah itu benda-benda atau alat yang dibutuhkan dalam pertunjukan akan   melengkapkan bahasa komunikasi.
3.      Komposisi ruang dengan susunan personil yang tertata dan saling dialogis.
4.      Komposisi ruang yang minimalis dan penyesuaian tematik.
5.      Penciptaan komunikasi yang harmonis baik teks mau pun nada.
6.      Membangun keutuhan yang sempurna dan sublim

Dari semua itu, akan terciptalah peleburan kata, makna, nada dan ruang yang puitik dan kemudian menyatu dengan keharmonisan komunikasi yang panggungkan. Inilah kekuatan yang mesti diciptakan oleh sebuah grup musikalisasi dan dengan begitu pertunjukan akan mampu menjadi magnit yang mengikat penonton  untuk menikmati Musikalisasi Puisi. Kalaulah demikian, apa yang diinginkan karya puisi yang tulis penyair akan menjadi nyata dan sampai ke khalayak dengan sempurna.


*) Pengurus KOMPI Pusat, Penyair


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI