Irman Syah: KoP'S - Menghadirkan Aceh di Stasiun Senen


SEROMBONGAN seniman Aceh memperlihatkan beragam pertunjukan kesenian di halaman terbuka Tugu Merdeka Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Mei 2010. Atraksi yang berawal selepas Ashar dan berakhir selepas Isya tersebut menyedot perhatian masyarakat sekitar, termasuk pengguna jasa kereta api. Pertunjukan ini merupakan kerja bareng KaSUHA (Kampanye Seni dan Humaniora Aceh) dan KoPS (Komunitas Planet Senen).

Seniman Aceh membuka pertunjukan dengan tiupan seurunee kale oleh Teuku Karnosi yang dikenal dengan panggilan Dek Te. Lengking seurunee ditingkahi dentam rapa-i yang ditabuh Dek Gam dan Muhammad Taufik. Ketiganya sehari-hari bekerja sebagai pelatih tari Aceh di Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta melatih ratusan siswa di lebih 50 sekolah menengah di Jakarta.


Mereka ini merupakan tokoh di balik gegap gempita tari Aceh di ibu kota. Orang-orang Jakarta menyebut tarian tersebut dengan Saman, istilah yang enak didengar dan mudah diucapkan. Pertunjukan dengan mengambil tempat ruang terbuka itu sengaja dihadirkan agar tidak membuat jarak antara seni dan publik. Para penonton ratusan orang jumlahnya, duduk melingkar santai. Ada yang tiduran sambil menjulurkan kaki ada pula yang berdiri di balik pagar. Mereka tampak menikmati pertunjukan sore itu. Pedagang asongan menggelar dagangan di sisi tempat pertunjukan.

Ketika pertunjukan berlangsung, hujan baru saja mengguyur Jakarta tetapi tak membuat surut semangat para seniman Aceh dalam beraksi. Selang beberapa saat, muncul sepuluh bocah sambil membawa kipas. Anak-anak itu memainkan Tari Kipes, tari kreasi baru yang dilatih oleh Ati, juga binaan Anjungan Aceh TMII pimpinan Drs Syarifuddin AG.

Pertunjukan dilanjutkan dengan sebuku, seni meratap dari Gayo, dibawakan dengan sangat baik oleh Ilawati, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru kesenian di SMP Cawang. Ia mengisahkan derita hidup di Jakarta dalam irama ratapan yang menyayat. “Hidup keras di Jakarta, adalah perjuangan,” kata Ilawati, ibu tiga anak yang berdomisili di Narogong, Bekasi.

Suaminya, H Aramis, juga seorang seniman, pada hari itu tampil bersama kelompok Didong Ciputat bersama-sama dengan Ceh Aris Yakob dan Kamal Basri alias Item. Kelompok seni didong itu mendendangkan puisi tentang skandal Bank Century dan wakil rakyat yang duduk di kursi empuk DPR. Sebuah ungkapan kritik tajam dan menohok.

Pertunjukan itu juga menampilkan nyanyian puisi ‘Kapal Berangkat’ dengan vokalis Devie Koma Syahni. Syairnya berkisah tentang orang yang berangkat menuju Jakarta menumpang kapal laut. Suasana syahdu dilukiskan dengan begitu perih saat kapal perlahan meninggalkan pelabuhan Belawan di Medan, menjelang senja. Nyanyiannya diiringi seurunee kalee yang ditiup Dedi Kalle, anak muda asal Banda Aceh yang sekarang menempuh program S2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dedi tak cuma mahir menium seurunee, tapi juga terampil membuat alat musik tiup itu. Ciri seurunee buatan Dedi, berhiaskan ukiran ornamen Aceh dan Gayo.

Dedi datang secara khusus untuk tampil dalam pertunjukan itu. Ada lagi pemain keyboard dan penata musik Edi Milfaris, pria jangkung kelahiran Takengon yang hijrah dan beranak pinak di Bandung. Mengenakan t-shirt warna hitam bertuliskan ‘Seperti Belanda’, Edi Milfaris memadukan bunyi tradisi dan musik modern dengan dukungan pukulan perkusi oleh Herie dan gesekan biola Dediesputra. Puisi ‘Kapal Berangkat’ yang ditulis penyair Ibrahim Kadir itu muncul dengan nuansa pertunjukan kontemporer.

Penyair dan penulis cerita pendek (cerpen) kelahiran Aceh, Mustafa Ismail membacakan cerita pendek ‘Pencatat Kematian’. Berkisah tentang peristiwa kematian pada saat Aceh dilanda konflik. Pertunjukan cerpen itu dipadukan dengan guratan lukisan di arena pertunjukan oleh Ary Okta, alumni ISI Yogyakarta jurusan seni rupa. Ary melukis beberapa ‘lubang kematian’ di atas kanvas selama pembacaan cerita berlangsung.

Penyair Aceh, Fikar W Eda yang mengatur lakon pertunjukan itu membacakan puisi ‘Ini Zaman Jakarta’ bernada kritik sosial, menyorot perilaku korupsi, rentenir, dan pengelolaan kekayaan alam. Dia juga berlakon sebagai ‘Si Tukang Obat’ dibalut pakaian Aceh dan kupiah meukeutop.

Pertunjukan itu disempurnakan dengan penampilan tari Saman. Dibawakan siswa dari salah satu sekolah menengah di Jakarta. Penonton tampak terpesona dan menyimpan kekaguman menyaksikan gerak ritmisnya. Pertunjukan itu ditutup kolaborasi musik dan puisi secara spontan melibatakn sejumlah penyair, antara lain Irman Syah, penyair asal Padang.

Tukang obat
Pertunjukan bertajuk ‘Aceh Membaca Jakarta’ itu mengadopsi gaya pertunjukan tukang obat Aceh pada saat berjualan di kaki lima. Si tukang obat biasanya membumbui jualannya dengan menampilkan berbagai atraksi sulap dan akrobat untuk menarik penonton. Pemilihan lokasi pertunjukan di Stasiun Kereta Api Senen, dimaksudkan untuk menghadirkan Aceh dalam suasana lebih akrab dan hangat kepada publik. Pola pertunjukan non-gedung akan meruntuhkan sekatan antara penonton dan pemaain.

Hubungan penonton-pemain terjalin interaktif. Anggota DPR RI asal Aceh, Tgk H Mohd Faisal Amin saat menyampaikan sambutan sebelum pertunjukan dimulai, memuji langkah seniman Aceh itu menghadirkan Aceh dalam suasana akrab dan penuh persahabatan. “Barangkali boleh dipersembahkan lagi di ruang-ruang publik lain,” saran Tgk Faisal.

Perihal pemilihan tema ‘Membaca Jakarta’, Mustafa Ismail menyebut karena Jakarta adalah pusat perekonomian, politik, dan kekuasaan. Kebijakan-kebijakan di seluruh negeri diputuskan oleh Jakarta. Jakarta juga magnet bagi penduduk seluruh negeri. Berbondong-bondong semua menuju Jakarta. Karena Jakarta adalah gula-gula, kata Mustafa Ismail, salah seorang urbanis Aceh di ibu kota negara tersebut.(fik/Serambi Indonesia)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI