JAKARTA, KOMPAS.com – Minimnya kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia, bahkan belum menjadi perhatian utama penyelenggara negara, membuat seniman, artis, dan entertainer bersatu dan menghasilkan mufakat budaya yang mereka sebut Maklumat Juli.
Para seniman menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elite bangsa, maupun masyarakat luas.

“Menyadari kenyataan mutakhir kita sebagai bangsa juga sebagai negara yang kian dekaden, karena ketidakmampuannya memelihara dan mempertinggi harga diri, potensi, kemajuan serta kekuatan nasionalnya yang penuh sejarah, kami menganggap perlu dilakukan perubahan yang substansial oleh semua pihak, baik penyelenggara negara, elit bangsa, maupun masyarakat luas,” kata budayawan Radhar Panca Dahana, Kamis (30/7) di Jakarta.

Para seniman yang menggelar pertemuan dan merumuskan Maklumat Juli 2009 antara lain terdiri dari Sys Ns, Radhar Panca Dahana, Yockie Soeryo Prayogo, Eros Djarot, Ray Sahetapy, Embie C Noer, Alex Komang, Aspar Paturusi, dan Adi Kurdi. Di kalangan artis/entertainer tercatat antara lain Yana Julio, Slank, Glen Fredly, Maya Hasan, Ratih Sang, Iwan Fals, dan Aning Katamsi.

Menurut Radhar, kesatuan yang unik dan belum pernah terjadi ini berhasil mencapai sebuah kesimpulan, baik dalam visi, gagasan maupun tindakan. Dalam maklumat dinyatakan, perlu memperkuat daya pikir yang sehat dan jernih melawan masih kuatnya feodalisme dan mentalitas destruktif yang menciptakan kemalasan, peniruan, atau konflik sektarian.

Perlu mengeksplorasi dan mendayagunakan khasanah tradisi dan kearifan lokal yang sudah dikembangkan ribuan tahun demi menegakkan kekuatan-kultural, bukan hanya untuk mempertegas eksistensi-diri dan memperkuat kemampuan in tegrasi-diri, tapi juga sebagai posisi tawar dalam pergaulan dunia.

Berlandaskan hal itu, lanjut dia, perlu dikoreksi kembali dasar-dasar materialisme yang melahirkan liberalisme dan pada akhirnya kapitalisme yang menjerat rakyat dalam krisis hingga runtuhnya sikap keber samaan di hampir seluruh dimensi. Untuk itu, perlu menyiasati percepatan perubahan yang terjadi melalui globalisasi dan teknologi tinggi dengan disiplin, kerja keras, ketekunan, ketangguhan kompetitif, dan kerelaan berkorban.

Maka, tak terelakkan perlunya penyelenggara negara, memperkokoh dirinya dengan kepribadian yang kuat berlandaskan pada dinamika kebudayaan, dalam membuat pilihan-pilihan yang berpihak pada rakyat dan kejayaan generasi mendatang serta menjadi contoh terbaik bagi rakyat yang dipimpinnya.

Sebagai alat
Budayawan Yockie Soeryo Prayogo menambahkan, sejak digulirkannya acara debat capres-cawapres dengan para budayawan dan seniman beberapa waktu lalu, persoalan pentingnya kebudayaan dalam politik, pemerintahan atau cara kita berbangsa/bernegara kini mengisi perbincangan banyak kalangan.

Namun, keramaian itu masih bersifat kasak-kusuk. Belum menjadi fokus atau perhatian utama, apalagi oleh penyelenggara negara. “Delapan program utama pasangan Mega-Prabowo atau 15 prioritas utama kabinet SBY mendatang, satu pun tidak menyebut kata kebudayaan,” paparnya.

Yockie menjelaskan, semua memperlihatkan bagaimana kesadaran akan penting dan kuatnya peran kebudayaan dalam turut memecahkan berbagai masalah bahkan krisis kita belakangan ini, masih sangat kecil.  Kebudayaan masih saja dianggap sebagai klangenan, hiburan murahan, bahkan mungkin gangguan bagi urusan politik dan ekonomi.

Dalam banyak hal, kesenian sebagai salah satu produk utama kebudayaan diposisikan hanya sebagai alat atau sumber eksploatasi kepentingan ideologi, politik, atau industri. “Karena itu, perlu bagi kita, para pelaku dan produsen kebudayaan, seperti seniman, budayawan juga para entertainer, sebagai garda-depan (avant-garde ), melakukan usaha untuk membuat kebudayaan tidak disepelekan dan dipinggirkan secara sembrono. Ini jadi genting, karena risiko jauh lebih besar menghadang kita dan generasi penerus kita, jika kita lalai, sungkan, dan mungkin sibuk dengan urusan atau sukses kita masing-masing,” katanya.

Di tempat terpisah, penyair Irman Syah menyambut baik adanya Maklumat Juli 2009 tersebut. Satu hal yang perlu disadari, kita sebagai pelaku budaya, sebagai orang yang hidup dalam dan menghidupi kebudayaan, mungkin tidak punya kekuatan alias powerless.

“Walaupun demikian bukan berarti kebudayaan menjadi tak penting dalam peradaban bangsa ini. Ke depan, wakil rakyat dan penyelenggara negara, diharapkan lebih peduli kebudayaan, sebagaimana yang dimaksudkan dalam Maklumat Juli,” ujarnya.(Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi)