Dari Nada ke Rintik Hujan

(BESKA: ‘Tubuh Air Tanah’ di FTP Bekasi)


Oleh Irman Syah


Bengkel Seni Kartini, dengan Grup Teater BESKA-nya menyuguhkan pertunjukan yang memukau kemarin malam, Minggu (27/11) pukul 19:00 Wib . Mereka adalah penampil terakhir FTP pada hari kedua yang hadir dengan balutan durasi kurang lebih satu jam.

Sebagai penampil pada Festifal Teater Pelajar Bekasi yang ditaja oleh Grup Teater Korek Unisma ini, SMK Bhakti Kartini secara special membawakan naskah T.A.T, atau Tubuh Air Tanah yang berpentas tepat  di pelataran belakang Labor Teater Korek Unisma.

Pertunjukan outdoor yang menggiring penontonnya dari Aula Unisma dan kemudian bergerak ke belakang Studio Teater Korek ini merupakan sebuah bentuk lain jika dibandingkan dengan penampilan peserta  sebelumnya. Mereka indoor. Panggung Festival disiapkan di Aula Unisma. Beda dengan Beska, mereka  melakukan Happening di depan Aula dan kemudian bergerak, semacam Mobilteater yang membangun ritual bagi pengunjung.

Sebuah lembah berlumpur berada tepat di depan para penonton. Artistik yang ditata semacam lingkaran berupa danau itu memunculkan pemain yang berlunau dengan melontarkan gerakan dan ungkapannya. Nada-nada dengan musikalitas, dalam bentuk Live-musik yang mengakar dari puisi itu mendukung bahasa pertunjukan yang mereka gelar.

“Just do it, don’t thinking..”

Danau bundar itu seakan kelihatan purba dengan para pemain yang sewarna lumpur, apalagi ketika muncul cipratan-cipratan kecil tersebab gerakan. Lingkaran sekeliling danau, berupa koor yang membutirkan peristiwa menyatu dengan artikulasi nada panggung. Mereka berpegangan tangan tak putus, ini seakan menunjukkan berlangsungnya ritual tentang cermin kenyataan; bahwa mereka yang berada di luar danau tak jauh beda kenyataannya dengan apa yang diungkapkan actor di panggung.

“Berperahu hidup melabuhkan kematian, sementara mati adalah hidup yang kekal..”

MEMBACA TERBALIK:

‘Tubuh, Air, Tanah’ adalah wacana material yang dipercayakan kepada Teater Beska untuk penampilan mereka di FTP-B tahun ini. Dan mereka, para pelajar SMK Bhakti Kartini ini pun berusaha mengunyah filosofi yang ditinggalkan Ane Matahari, seorang ‘Guru Besar’ (mereka) sebelum dia pergi. Sebagai adek bontot SKM, Beska tampil dengan intensitas yang terjaga dan kelihatan total.

Melalui tatanan artistic, makna kepurbaan terasa memunculkan ikatan: antara manusia dan tanah, serta manusia dan air, yang seakan menubuhkan peristiwa pada lumpur kehidupan. Andai dilihat secara terbalik, atau dengan membacanya secara lughtul’arabiyah maka yang diungkapkan peristiwa teater tersubut akan berubah menjadi: Tanah Air Tubuh.

Menariknya, pada ending pertunjukan ini, komposisi musical dengan inti puisi yang menuntun dari awal itu pun kemudian terhenti. Gerakan-gerakan pemain yang layaknya ungkapan purba dari ritual itu seakan pula mengungkapkan  tempo tentang kondisi kehidupan yang menghampar di negeri ini. Nada yang sudah berhenti itu berganti dengan rintik hujan yang gemericik; tapi seakan menuntun bahasa dalam sebuah ungkapan 'Tubuh Tanah Air'..

Dapat ditangkap sebuah ungkapan berupa respon puitik yang ditulis oleh Zaeni Boli (Insya Allah Penyair) 'Sastra Kalimalang' ini pada sebuah statusnya di akun Facebook Personalnya: 

“Seperti yang kaupinta 
akhirnya hujan turun jua 
Sekumpulan balon menepi di tepian kolam
hanya untuk berkabar pada sepi 

Lingkaran kami

Masih jua jalan sunyi yang kau pilih 
Gerimis turun seperti ingatanku padamu 
Kesetiaan itu mahal 
tapi kau ajarkan kami dengan jalan sederhana
“Silahturahmi batin guru:
terimalah doa kami..” 


(Zaeni Boli)

Selamat dan semangArt Beska:
“Semoga kuncup menjadi bunga, wangi hidup berketulusan. Tak ada yang tak ok sama kita: Ok Truss!!


Saung Sastra, 28/11/2016

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI