TEMU SASTRAWAN INDONESIA DI JAMBI, 2008

“Alhamdulillah kami sdh mulai mengikuti acara Temu Sastra di Jambi. Wass L.K.Ara.” Pesan singkat itu datang dari penyair senior LK Ara. Saya membalas pesan singkat itu: “Selamat datang di Jambi. Acr sdh dimulai. Menarik gak acrnya? Dari Aceh siapa saja yg datang?” Tak lama, LK Ara membalas pula dengan sangat singkat: “Ada Din Saja dan Doel CP. Acara biasa saja.” Din Saja dan Doel CP Allisah dimaksud adalah dua penyair dari Aceh.

Sungguh, saya baru ngeh acara sastra itu sudah dimulai. Acara itu berlangsung pada 7-11 Juli 2008. Menurut sebuah berita, sedikitnya 200 sastrawan Indonesia akan mengikuti acara itu. Acara itu diisi dengan dialog sastra, baca puisi, peluncuran antologi puisi dan cerpen sastrawan Indonesia, juga wisata budaya ke situs Candi Muaro. Berita-berita tentang ini silakan simak berikut ini. 
(Laporan: Yurnaldi & Irma Tambunan/Wartawan Kompas)
JAMBI, TRIBUN – Pertunjukan baca puisi, tarian dan lagu oleh anak-anak yang diiringi musik kolintang kayu, gendang, dan akordeon yang dimainkan anak-anak, Senin (7/7) malam, memukau sekitar 200 lebih sastrawan. Pertunjukan anak-anak itu mengawali prosesi pembukaan Temu Sastrawan Indonesia I di Kota Jambi, Provinsi Jambi.

Gubernur Jambi diwakili Staf Ahli Gubernur, Junaidi T Noor, mengatakan, Temu Sastrawan Indonesia ini membuka ruang interaksi pemikiran dari beragam etnis, kultur, yang sarat dengan akar budaya, warna budaya daerah masing-masing.

“Karya sastra yang digali dari subkultur yang ada di Indonesia akan memberi rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (Bhinneka Tunggal Ika). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi,” katanya.

Menurut dia, keberagaman itu dalam konteks keindonesiaan perlu mendapatkan ruang ekspresi seluas-luasnya untuk capaian estetis sastra Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Usai memberikan kata sambutan Staf Ahli Gubernur melanjutkan pembacaan puisi karya Dimas Arika Mihardja berjudul Pucuk Jambi Sembilan Lurah Batangnyo Alam Barajo.

Koreografer Tom Ibnur juga mempertunjukan koreografi terbarunya. Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia Sudaryono mengatakan, bahwa satrawan yang datang hampir dari seluruh pulau di Indonesia. Tampak hadir antara lain Putu Wijaya, Harris Effendi Tahar, Jose Rizal Manua, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, Afrizal Malna, Hamsad Rangkuti, Dinullah Rayes, Irman Syah, Asrizal Nur, dan Ahmadun Yosi Herfanda.

Temu Sastrawan yang berlangsung hingga 11 Juli mendatang, menggelar enam kegiatan, yaitu Dialog Sastra dan Musyawarah Sastrawan Indonesia, Workshop Penulisan Esai dan Kritik Sastra, Panggung Apresiasi, Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen dan Puisi, Pameran dan Bazar, dan Wisata Budaya ke Situs Candi Muaro.

Pembukaan sekaligus peluncuran buku puisi Tanah Pilih dan buku kumpulan cerpen Senarai Batanghari, yang diserahkan secara simbolis kepada Putu Wijaya dan Hamsad Rangkuti. “Temu Sastrawan Indonesia selain ajang silaturahmi, juga tukar pemikiran sastra Indonesia yang diharapkan berkembang dinamis untuk membenahi rumah tangga sastra Indonesia,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Mualimah Radhiana.(*)  (Tribun Pekan Baru Online [Senin 07/07/08, 22:30:19])
***
JAKARTA, MINGGU – Sedikitnya 200 sastrawan Indonesia, Senin sampai Jumat (7-11/7), bertemu di Kota Jambi. Mereka selain mengadakan dialog sastra dan musyawarah juga menggelar panggung apresiasi, wisata budaya ke situs Candi Muaro, serta peluncuran buku antologi puisi dan cerpen sastrawan Indonesia. 

Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia I Sakti Alam Watir mengatakan, perkembangan karya sastra Indonesia sepeninggal Paus Sastra HB Jassin tidak diiringi oleh kinerja sastra. Kritik sastra seperti kerakap di atas batu, hidup enggan mati tak mau. 

“Langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra membuat ekologi sastra tidak harmonis. Idealnya, kehidupan sastra menunjukkan ekologi sastra yang sehat, beragam, harmonis, dan dinamis,” kata Sakti Alam Watir, Minggu (6/7). 

Pada sesi dialog pembicara yang tampil di antaranya mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Ivan Adilla, guru besar satra Indonesia dari Universitas Negeri Padang Hasanuddin WS, sastrawan Sunartono Basuki, Acep Zamzam Noor, dan Abdul Bari Bazed. 

Panggung Apresiasi akan menampilkan pembacaan puisi, keragaman seni di setiap kota/kabupaten di Jambi. Panitia juga memamerkan aneka corak serta bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan. (Yurnaldi/Kompas, Minggu, 6 Juli 2008) 
***
Pemerintah Provinsi Jambi pada 7 hingga 11 Juli 2008, menggelar Temu Sastrawan Indonesia (TSI).Sejumlah sastrawan dari seluruh penjuru tanah air akan mengikuti hajatan tersebut. Lalu, siapakah sastrawan Sumatera Utara yang diundang?

Bocoran yang diperoleh dari panitia TSI, Sumatera Utara akan mengutus enam orang sastrawan. Yakni, (secara alfa-betis) Afrion, Hasan Al Banna, M. Raudah Jambak, S. Ratman Suras, Suyadi San, dan Thompson HS. 

Bagi saya, TSI ini perlu dijadikan forum rekonsiliasi. Ia (baca: TSI) diharapkan mampu menjadi perekat, ajang silaturahmi antarsastrawan, dan revitalisasi peran sastrawan itu sendiri. 

Jika kita lihat, kondisi kesusastraan Indonesia masih berada di persimpangan. Buram. Retak-retak menunggu pecah. Dan, serpihannya bakal menusuk-nusuk anak bangsa. 

Keberagaman sastra Indonesia jika tidak terpelihara, bakal menjadi kutub-kutub yang saling serang. Menjadi sekat-sekat yang saling sikut, saling sikat. Jika terbiarkan berlarut-larut, bakal menjadi bom waktu – yang ledakannya kemungkinan mengimbangi bom atom Hiroshima-Nagasaki.

Lihat saja, hampir dua dasawarsa belakangan, banyak hajatan sastra tergelar. Masing-masing membawa hegemoni sektoral. Ada Temu Sastrawan se-Jawa-Bali. Ada pula Temu Sastrawan Sumatera, Temu Penyair Sumatera, Kongres Cerpen, Kongres KSI. Dan sebagainya. Namun,tidak hanya menuntaskan kebuntuan, malah menghasilkan percekcokan. Semua berjalan pada rel masing-masing. Memang, kita selalu mempertentangkan keberagaman dan bukan mengunggulkan kesatuan?

Ada beberapa agenda penting yang perlu kita perhatikan terkait (TSI) 2008 di Jambi. Agenda itu secara fundamental berkaitan dengan beberapa persoalan yang mendesak dicarikan solusinya. Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, Cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, media, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran sebagai ekologi yang tidak sehat.

Artinya, masing-masing ranah sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terpisah oleh adanya jurang yang membatasi kebersamaan dan saling pengertian. Bahkan, ‘bentrok’ dan perselisihan paham di antara mereka melahirkan kegelisahan tersendiri.
Ingatlah perseteruan antar-komunitas sastra akhir-akhir ini, polemik yang melibatkan media massa, langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra, dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra. Tidak sehatnya

ekologi sastra Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang harus dijadikan wacana penting dalam mengurus rumah tangga sastra Indonesia mutakhir.
Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat, sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra pedalaman, sastra arus bawah. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. 

Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan. Nah, akankah TSI 2008 mampu mewadahi dan menyediakan fasilitas untuk membangun rumah tangga sastra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan sehingga tercipta ekologi sastra Indonesia yang kondusif.

Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra dan diangkat di atas panggung wacana dalam iklim yang demokratis. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (“Bhineka Tunggal Ika”). 

Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi. Dengan tampilnya identitas lokal yang beragam. sastra Indonesia mutakhir akan memberikan tawaran-tawaran tematis dan capaian estetis yang menyemarakkan denyut kehidupan sastra Indonesia. Identitas keindonesiaan dapat dibangun berdasarkan kekayaan tradisi lokal yang ada di Indonesia. Selain keberagaman, anggota rumah tangga sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, media, dan masyarakat) masing-masing perlu memiliki kedinamisan yang mandiri. 

Kedinamisan dan kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang ‘ditelikung’, diintimidasi, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media) memiliki kekuatan advokasi dan pembelaan secara adil dan berimbang. Kedinamisan dan kemandirian anggota rumah tangga sastra Indonesia akan memberikan iklim kondusif kedinamisan kehidupan sastra secara demokratis dan jauh dari sikap-sikap otoriter yang kelewat batas.

Lalu, apa yang bisa dicapai untuk menyatukan keberagaman sehingga menghasilkan kedinamisan dalam bersastra? Ya, mungkin saja akan muncul gagasan, para sastrawan bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki keharmonisan? Dengan keharmonisan, dimungkinkan sastrawan Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik.Mungkin para sastrawan perlu melakukan kongres untuk membicarakan “wadah” dan sekaligus menuntaskan ketidakharmonisan. 

Dalam kaitan ini, melalui TSI yang – konon – akan dihadiri para pelaku sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) minimal dapat disepakati perlunya agenda forum sastrawan secara kontinu. Ekologi sastra tidak sehat, antara lain disebabkan tidak berfungsinya kritik sastra. Realitas menunjukan bahwa kuantitas penerbitan karya sastra tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra hadir dalam bentuk catatan pengantar atau catatan penutup sebuah buku sastra.

Saat berada di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin 21 Mei lalu, penulis merasakan, sepeninggal H.B. Jassin kinerja kritik sastra belum menampilkan hasil maksimal. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu melaksanakan workshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.

Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra perlu dijembatani melalui Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazar. Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazar dapat menampilkan atraksi keberagaman, kemandirian, kedinamisan dan keharmonisan sastra Indonesia dalam paket performance. Lalu, apa saja agenda penting TSI 2008 itu? Bocoran yang didapat dari panitia TSI, agenda TSI 2008 di Jambi ada beberapa macam. 

Pertama, Kongres Sastrawan. Kongres? Ya. Agendanya membicarakan kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama (sastrawan, kritikus, media, penerbit, apresiator), pemetaan capaian estetik sastra Indonesia, keberagaman genre, gaya ungkap, dan kreativitas, dan regenerasi sastrawan. Pesertanya adalah sastrawan (3 generasi), Kritikus, media massa, penerbit, dan undangan khusus. 

Kedua, Workshop penulisan esai/kritik sastra: memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Menurut rekan dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi, workshop akan digelar di instansi bahasa malik pemerintah tersebut. orang. 

Ketiga, Panggung Apresiasi. Aacara ini akan menampilkan sastrawan undangan khusus (penyair dan cerpenis Indonesia terpilih), menampilkan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di kota Jambi. Selain itu, memberi ruang bagi olah kreativitas sastrawan kota lain (Medan, Padang, Riau, dll) yang dibatasi jumlahnya. 

Keempat, Wisata Budaya. Wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta. Mereka misalnya diajak ke situs Candi Muaro Jambi, Pusat batik/kerajinan, kawasan batanghari, Museum, Monumen, dsb. Penulis sendiri pernah melihat peninggalan candi Muaro tahun 2006 lalu.

Kelima, Penerbitan Buku Antologi. Pihak panitia akan : menerbitkan 2 buku, yakni: (1) Puisi, cerpen, dan esai sastrawan Indonesia yang dipilih berdasarkan seleksi dan (2) buku puisi sastrawan muda Sumatera. Buku-buku ini dijadikan cenderamata bagi seluruh peserta TSI.

Keenam, Pameran dan Bazar. Pameran dan bazar ini dimaksudkan untuk menampilkan keberagaman karya sastra didukung oleh penerbit-penerbit buku di Indonesia.
Jadi, begitulah. Mudah-mudahan TSI ini bisa menghasilkan formula jitu untuk menyelamatkan sastra Indonesia. (WASPADA ONLINE, Minggu, 29 Juni 2008 03:09 WIB) 

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI