Selamat Jalan, Ane Matahari..






Bekasi kehilangan sosok budayawan penting. Adalah Andrie Syahnila Putra Siregar atau akrab disapa Ane Matahari. Ia meninggal pada Senin siang menjelang pukul 12.00, 31 Oktober 2016, di usia 45 tahun, karena sakit.


Di Bekasi, Ane Matahari tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan anak jalanan. Ketika ada yang sakit, dialah yang sibuk untuk mengurus. Ketika ada yang bertengkar, dialah yang mendamaikan. Ketika ada yang murung, dialah yang menceriakan.

Singkatnya, Ane Matahari adalah kawan, guru, sekaligus bapak bagi anak jalanan. Puluhan tahun berkecimpung di dunia yang terkesan keras itu justru membuatnya lembut dalam mengedukasi anak-anak jalanan.

Melihat rambutnya yang ikal panjang, berjambang tak beraturan, berkulit gelap, berkalung batu akik besar di lehernya, dan selalu tertawa lebar-lebar, siapa pun boleh mengira Ane Matahari preman jalanan.

“Padahal dia masuk ke jalanan bukan karena dia preman. Memang badannya besar dan gagah. Tapi melihat jarum suntik saja dia takut kok,” kata Irman Syah, penyair yang sering bersamanya, sambil tersenyum.

Ane Matahari menceburkan diri ke jalanan bermodalkan musik dan sastra–ilmu yang dipertajamnya selama beberapa tahun di Institut Kesenian Jakarta. Dengan ilmu itulah ia mampu mewarnai kehidupan jalanan.

Lama berkiprah di Jakarta, Bekasi akhirnya menjadi pilihan tempat tinggal Ane bersama sang istri, Khadijah Ali Zahra. Mereka membesarkan empat anak: Gema, Genta, Gaung dan Nada.


Mengalir darah seniman

Ane Matahari kecil tumbuh dalam keluarga yang berdarah seni kental. Ibunya, Rosnilla Djalal, pandai menari. Ayahnya, Amirsyah Siregar atau dikenal Fredie Arsi, merupakan pencetus Musikalisasi Puisi–sebuah genre baru pengungkapan puisi dengan iringan musik.


Binjai, Sumatera Utara, tanah kelahirannya. Lahir pada 4 Januari 1971, Ane Matahari anak kedua dari enam bersaudara: Dedie Syahnila Putra, Devie Komala Syahni, Denie Syahnila Putra, Herie Syahnila Putra dan Irma Komala Syahni.


Fredie Arsi seorang seniman petualang: hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghidupi seni melalui sanggar. Matahari adalah nama sanggar yang didirikan Fredie Arsi pada tahun 1980 di Jakarta.


Sejak duduk di bangku kelas 5 SD, Ane Matahari sudah terbiasa tampil di panggung. Sang ayah membuatkan wadah bernama Deavies Group Matahari yang beranggotakan Dedie, Ane dan Devie–kemudian semakin bertambah personel.


“Waktu kecil, Ane pernah masuk TVRI di program siaran bernama Anak Ajaib. Ia tampil sebagai anak kecil yang pandai memainkan banyak alat musik. Ia juga pernah mendapat anugerah Pemuda Pelopor DKI Jakarta pada 1994 dari kementerian,” cerita Dedie, yang menekuni seni teater.


Bertahun-tahun, bersama Sanggar Matahari, Ane berkeliling nusantara–bahkan sampai mancanegara–untuk mementaskan musikalisasi puisi. Pemerintah merasa apa yang dilakukan Sanggar Matahari sejalan dengan program pemasyarakatan bahasa Indonesia.


Sanggar Matahari akhirnya berhasil membangun jejaring yang kuat dan melahirkan banyak sanggar atau bengkel sastra. Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia pun menjadi wadah besarnya yang diketuai langsung Fredie Arsi sejak 2008.


Setelah Fredie Arsi meninggal pada 2011, Ane Matahari menggantikan peran sang ayah untuk datang ke berbagai daerah di Indonesia. Dialah yang berpanjang-lebar menularkan ilmunya kepada banyak anak-anak muda.


“Nama Fredie Arsi dengan Sanggar Matahari muncul tidak hanya gagasan dan ide-idenya, tetapi langsung menampilkan garapan musikalisasi puisi di panggung yang dikemas dengan sangat apik bersama putra-putrinya,” kata Dendy Sugono, Mantan Kepala Pusat Bahasa, dalam pembuka buku ‘Mengenang Bapak Musikalisasi Puisi’.


Mendirikan Sastra Kalimalang


Ane Matahari bukan seniman yang mudah berpuas diri. Tahun 2011, ia merangkul mahasiswa dan anak-anak muda untuk mendirikan Komunitas Sastra Kalimalang. Mengapa Kalimalang? Karena di sanalah, tepatnya di samping Universitas Islam 45 Bekasi, banyak kalangan berbaur.


Dimulai dengan memanfaatkan jejaring sosial, Komunitas Sastra Kalimalang mempublikasikan puisi-puisi yang sudah mereka kumpulkan dari banyak orang: anak jalanan, tukang ojek, dosen, satpam, mahasiswa, dan sebagainya.


Melihat aktivitas itu, sejumlah pihak bersimpatik. Koran Radar Bekasi, misalnya, memberikan halaman khusus seminggu sekali untuk menampilkan karya yang telah dihimpun Komunitas Sastra Kalimalang.


Ane Matahari juga menginisiasi pembangunan Perpustakaan Pinggir Kali Sastra Kalimalang. Di tempat kecil inilah lahir diskusi-diskusi menarik tentang kebudayaan. Orang-orang, dari lintas bidang, tak segan datang kemari.


Ane Matahari berhasil mengembangkan model komunitas inklusif–lawan kata eksklusif–sehingga memungkinkan banyak komunitas lain bisa bersahabat. Ia sering menyebutnya dengan istilah Silaturahmi Batin.


Dari Bekasi, Sastra Kalimalang membangun jejaring komunitas se-Indonesia. Sebagai delegasi atau utusan, grup musik khusus yang berperan menghibur pun dibentuk. Anggotanya adalah anak-anak jalanan. Ane Matahari dengan tekun melatih mereka.


Beberapa bulan sekali, Ane Matahari menghelat pentas seni panggung terapung di Kalimalang–sementara penontonnya duduk santai di pinggir kali. Belum lama, ia mengadakan perjalanan ke beberapa kota di Jawa dan Bali.


Saung Kalimalang memang telah menginspirasi Ane Matahari untuk mencetuskan ide-ide liar. Ia juga sering mengadakan acara yang tak terduga, seperti sastra masuk kampung, bersih-bersih kali, atau bersih-bersih masjid.


Terakhir, ia mewujudkan kegiatan yang mungkin tak pernah dilakukan komunitas seni lain: bersih-bersih kuburan. (Res/KlikBekasi[dot]co)





0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI