Gong Kebudayaan


Oleh Irman Syah

SETIAP WARGA kota Bekasi pastilah merindukan kehidupan kotanya yang bersahabat: maju, jaya, damai dan mulia. Harapan ini bukanlah keinginan sepihak, tapi semua masyarakat yang bernaung di dalamnya.  Bukankah tegur-sapa, saling perhatian serta bangunan kenyamanan semacam itu adalah kebutuan rohani manusia. Karenanya, menjelang pemilihan Kepala Daerah biasanya bahasa-bahasa yang berseliweran  akan muncul dan kian bermunculan.

Semoga saja suara yang berakar dari kedalaman jiwalah yang dominan: yakni suara dari bahasa batin yang telah mempertemukan rasa dan pikiran. Dengan begitu, sikap dari kedawasaan berpikir dan bertindak akan menjadi cerminan kehidupan masa datang. Bayangan dan rayuan pasti menjelang dan minta diparenai dengan seksama. Tinggal bangunan kesadaran dan hakikat tujuan hidup warga kota yang perlu dipertimbangkan serta diluruskan.

Pelurusan ini tentulah tidak segampang membalik telapak-tangan. Beragam kepentingan akan muncul dan membiakkan pendapatnya untuk mendukung calon yang dia inginkan. Mereka akan datang dengan kemanisan kata-kata atau iming-iming yang melenakan. Hal semacam ini memang merupakan rutinitas masyarakat ketika mau memilih calon pemimpinnya. Mungkin ada hal penting yang tak boleh diabaikan. Bangunan komunikasi yang baik, tepat, dan harmoni perlu dihadirkan. Dengan begitu takkan pernah ada lagi yang merasa tertipu kareanya.

Ketika jaringan komunikasi kian merambah kehidupan masyarakat, dan semua telah diantarkan oleh beragam perangkatnya,  tentu masyarakat perlu jeli dalam menyimak dan menganalisa wacana serta pendapat perseorangan  atau kelompok yang memeriahkan pesta demokrasi. Salah sedikit saja akan membuat kemuraman kota satu periode kepemimpinan. Muram tentulah akrab dengan buram, kekaburan, kelam dan pada akhirnya gelap yang mengungkung. Penyesalan hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.

Pendapat ini bukanlah mengada-ada: politik yang saat ini terus bergejolak dan bergairah serta empuk di mata kapital telah menjadi ajang sentral bagi segenap penjuru. Manusia atau pun institusi dan elemen sosial kian bergolak dengan lenggangnya yang aduhai sesuai skenario dan kecanggihan aktornya. Semoga saja suara hati nurani untuk Bekasi tetap terbit dari kedalaman hati yang putih, sesuci asal yang menciptakannya.

Mengingat dan mengapungkan kembali ‘Dialog dan Bincang Santai’ yang dilakukan Sastra Kalimalang lebih kurang sebulan yang lalu perihal kebudayaan tentulah akan ada dampaknya bagi kecerdasan masyarakat: masukan pula bagi para calon itu sendiri. Kehadiran ke-5 pasangan calon secara bergiliran di Bantaran Kalimalang dan dihadiri oleh beragam lapisan masyarakat tentulah sebuah sejarah baru bagi kota ini. Pada waktu itulah didapatkan semacam kesepakan pandangan tentang pentingnya kebudayaan sebagai tonggak peradaban.

Cara pandang ini mesti selalu diapungkan ke permukaan. Dengan begitu, usaha untuk kembali pada bangunan kesadaran bahwa kelebihan dan kekuatan adalah jalan terbaik dalam  mengungkapkan komunikasi.  Bukankah dengan begitu kekurangan dan kelemahan juga akan muncul sendirinya. Untuk apa mendahulukan pembeberan kesalahan dan kekurangan, karena akan melahirkan sakit hati, dendam, dan perpecahan sesudahnya. Para Jurnalis yang baik dan jujur serta memiliki kemampuan yang komplekslah yang dibutuhkan kota ini dalam membangun harmoni masyarakat patriotik degan segala seluk- beluknya.**

Bekasi, 15 November 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI