Tatanan Kalimalang

Oleh: Irman Syah
Perjalanan kehidupan manusia sepertinya selalu dipenuhi kesibukan dan persoalan yang kadang memunculkan ribuan tanda tanya. Di jalan raya, kenyataan itu berubah menjadi kerisauan. Beragam bunyi kendraan dengan deru dan klaksonnya yang berisik sepertinya menandakan betapa pengendaranya itu betul-betul sedang sibuk mengejar tujuan.  Kemanakah?


Begitulah hamparan kenyataan yang tiap hari memenuhi jalan raya, terkadang membuahkan kemacetan. Kadang terdengar pula beragam umpatan yang keluar dari mulut yang bercampur debu itu, baik dari si pengendara ataupun yang tengah berjalan kaki karena hampir keserempet kendraan. Pemandangan semacam ini akan terasa lebih jelas bila kita melihatnya dari pinggiran Kalimalang: ketika menikmati aliran sungai sembari merokok dan meneguk segelas kopi yang diambil dari warung Mang Uuk samping Unisma.

Aliran kali yang beriak pun tanpa disadari ternyata memunculkan bayangan-bayangan lampu kendaraan yang beragam: cahaya yang bergoyang di dalam air itu seakan mengikuti denting gitar-kecil yang dimainkan MLK, sebuah grup musik anak-anak dari pengamen lampu merah yang  tengah latian. Kalau dicari sumber cahaya, ternyata berasal dari lampu-lampu kendraan yang melintasi Jalan Chairil Anwar Bekasi yang terkadang macet, kendraan terhenti karena lampu merah menyala di depannya.

Begitulah pemandangan tentang lingkungan yang selalu menjadi perhatian bagi sekelompok seniman yang mengepit buku dari ‘Perpustakaan Peinggir Kali’ di Kalimalang. Memang, semenjak kegiatan dan program Sastra Kalimalang bergerak kadang banyak saja yang singgah ke sini, ke Kalimalang, mereka merasa nyaman dan seakan mendapatkan tempat yang damai untuk berkreasi. Apalagi beragam buku telah menunggu untuk dibaca.

Lepas dari itu semua, yang disebut dengan lingkungan tentu bukanlah sesempit itu. Bila dibincangkan secara dalam banyak hal lain lagi yang melingkupinya. Ada dua sudut titik pandang yang mesti dirujuk untuk membahasakannya secara jelas: internal dan eksternal. Dengan kata lain, ada sisi dalam dan sisi luar yang mesti ditelusuri secara jelas dan nyata. Dari kedua sisi ini akan terlihatlah kehidupan yang menggeliat dan menggerakkan kenyataan sosial masyarakatnya. Keduanya sama-sama penting, sama-ama-sama berarti.

Dari sisi dalam, tentulah kita akan bicara persoalan manusianya. Bicara tentang ruang batin dari diri manusia ini memanglah suatu yang sulit untuk diungkapkan secara gamblang, tapi hal ini bukan berarti pula tidak bisa untuk ditelusuri. Semua akan tercermin dari tindakan dan tingkah lakunya. Bila sisi dalam manusia itu bersih dan tertata, maka prilaku dan budi pekerti manusianya akan menarik perhatian karena kelemah-lembutan bahasanya. Dengan begitu magnit ini akan dapat mempengaruhi budi-bahasa manusia lainnya.

Lain pula halnya dengan sisi luar dari lingkungan tersebut, semua berasal dari kenyataan yang berada di luar diri manusia itu sendiri. Apakah itu alam, bangunan, kondisi lalu-lintas (baik darat atau pun air), atau pun kenyataan cuaca dan iklim yang melingkupinya. Barangkali kenyataan luar berupa lingkungan itu sudah begitu banyak yang mengetahui, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga dan merawatnya.

Menjaga lingkungan sangatlah penting agar tidak semua orang dan aktivitas baru yang datang kemudian bisa mempengaruhi kehidupan yang telah tertata, apalagi dalam artian merusak kenyamanan kehidupan. Dalam hal merawat, penting pula dipikir dan dilakukan agar apa yang telah dibangun dan ditata  oleh kegiatan kebersamaan melalui persaudaraan dan kesenian sebelumnya tetap berjalan kelangsungannya. Tinggal merapikan, agar fungsinya menjadi lebih bermakna.

Untuk hal yang demikian, jalanan adalah urat nadi yang mempertalikannya. Kenyataan jalanan yang rapi dan tertib adalah kebersihan jantung kehidupan. Untuk itu, perlu adanya kesadaran lingkungan, baik pengendara di jalanan atau manusia yang berada di seputarnya. Tak dapat dibayangkan, bila ada pembrsihan di jalanan Jakarta maka jalanan Bekasi akan menerima limpahannya. Begitu pula setiap UN berakhir, jalanan akan menerima siswa baru pula dengan beragam tingkah dan polahnya. Untuk hal itu, tatanan Kalimalang merupakan sumber yang nantinya bisa bekerja sama dengan segenap pihak agar apa yang dicemaskan tentang lingkungan bisa untuk dibincangkan.
RoKe’S, 19 April 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI