Korupsi!


Oleh Irman Syah
Ludah Untuk Koruptor

Bahasa-bahasa yang berseliweran di telinga publik tentang prilaku korup itu terdengar bagai gunjingan tiada henti, kadang menderu dengan dentuman yang mengagetkan, laksana laju  kendraan bermotor yang terus berlalu-lalang di jalanan. Ya, kemudian tersendat di lampu merah dengan ragam jenis dan ukuran serta tingkah polah pengendaranya yang menyita perhatian pejalan kaki dan masyarakat sekitarnya agar selalu siaga dan waspada, meski kadang sering memunculkan umpatan karena kaget atas laju-kebut-nya yang tak menentu. 

Begitulah analogi sederhana yang dapat diambil untuk menyatakan sikap tentang kenyataan yang kini hangat dan bergulir terus dengan update-annya pada setiap detik waktu. Berita-berita mengabarkannya dengan penuh bumbu dan olahan ungkapan yang silih berganti. Berganti peristiwa, berganti pula gaya bahasa ungkapnya. Apalagi dengan ragam peristiwa telah membuat semua orang membelalakkan mata, marah, kaget, benci, atau bersimpati dengan alasan tertentu. Persis korupsi yang terjadi di lampu merah. Tiba-tiba saja muncul tabrakan beruntun yang begitu mengerikan. Ya, begitulah..

Kurupsi di lampu merah memang jarang disebutkan dengan kata ‘korupsi’, palingan kecerobohan atau ketergesaan, atau bisa juga dibilang tidak tertib. Entahlah, padahal itu juga termasuk perilaku korupsi sesungguhnya. Laku ini memang telah terjadi di segala lini kehidupan manusia. Di mana saja. Semua itu akan selalu membuat pelakunya bermasalah dengan dirinya  serta melibatkan orang lain sebagai dampak persoalannya. Bedanya, takaran korupsinya saja yang berbeda, ini sesuai dengan tempat dan prilaku koruptor itu sendiri. 

Kalau di lampu merah, korupsi yang terjadi disebabkan pengendaral sebagai pelakuya. Contoh yang bisa diambil antara lain, yaitu,  peristiwa ketika seorang pengendara menyerobot padahal lampu belum hijau. Nah, ini akan menimbulkan peristiwa sendiri sesudahnya: kecelakaan dan dampak kematian bagi orang lain. Memang, mengambil hak yang bukan milik kita, apalagi dengan rakus dan tamak adalah sesuatu yang mesti dibumi-hanguskan di negeri ini karena mengabibatkan banyak dampak yang menyita perhatian serta melanggar hak-hak manusia lain. Lebih buruk lagi, hal ini akan merusak sumber-daya alam yang dijadikan bahan untuk bisa menuai itu. Padahal, kehancuran alam akan membunuh semua yang hidup di negeri ini.

Baru-baru ini, dan masih hangat diperbincangkan, KPK telah menangkap Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) yang baru Akil Muckhtar di rumah dinasnya (2/10) malam disebabkan tertangkap tangan menerima suap senilai Rp 3 miliar. Selain dia, berentetan pula dengan pejabat terkait dan pegusaha yang terlibat di dalamnya pun ditangkap. Duh, informasi ini tentulah membuat publik menjadi kehilangan arah untuk membangun rasa percaya terhadap negeri ini. Wah, begitu hinanya perbuatan itu tapi kok masih saja ada orang melakukan perbuatan semacam ini. Apa sesungguhnya kini yang telah terjadi di negeri ini? Kenapa begitu banyak peristiwa yang tak masuk akal bisa muncul begitu saja. Artinya, ada hal yang mesti ditanamkan ke dalam diri dan ruhani manusianya. Ternyata, ilmu dan pengetahuan serta titel yang disandang  ternyata tidak menjamin manusianya bisa tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai yang hakiki.

Politik yang telah dijadikan sumber dari segala sumber dengan dasar yang tidak mendasar itu memang telah mengantarkan manusia Indonesia pada kekeringan hati nurani. Kehilangan rasa semacam ini tidak bisa ditawar-tawar karena memang tujuannya yang telah jauh menyimpang. Menyebut kemakmuran rakyat dengan kepentingan dan tujuan pribadi dan kelompok adalah sesuatu yang telah biasa di dengar masyarakat saban waktu. Kenyataan ini telah membunuh budaya sebagai tonggak yang sesungguhnya mesti dajadikan patokan. 

Kenyataan pun malah jadi  terbalik, budaya pun akhirnya dipolitisir atas kepentingan ekonomi dan kekuasaan, sehingga kepedihan hidup pun meruyak serta membuat menusia Indonesia jadi kehilangan diri serta rasa percaya pada yang namanya kebersamaan serta kecintaan akan  negeri sendiri. Apa mesti dikata, semua terjadi begitu saja. Korupsi merajalela. Tak ada lagi selain kita yang mesti melawannya. Asah kata dan nyaringkan nada, ucapkan pada semua agar selalu menjaga bahasa, memelihara dan selalu menghidupkannya sepanjang masa. Bukankah bahasa telah terlebih dahulu dikorupsi mereka untuk kemudian melancarkan tindak korupsi sesudahnya?
Rokes, 3 Oktober 2013




0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI