Lengkapi Hati


Oleh Irman Syah

Ungkapan dari hati, rasa yang tulus itu, mestilah dinikmati dengan kecerdasan intelektual yang mengakar. Betapa hidup telah melahirkan pernyataan-pernyataannya yang sangat berarti bagi perkembangan akal dan budi pekerti manusia dalam menjalani sebuah perjalanan panjang, penuh liku serta simpang-simpang yang menakjubkan. Di sinilah ilmu bersemayam. Penawar keresahan dan kemarahan.


Pernyataan kehidupan lewat apa yang dialami manusia kadang tak segan-segan menuding dirinya sendiri untuk membangun dendam dan sakit hati dengan isian bumbu tak terduga yang kemudian menebarkan  berkelumit-kelumit benci. Ketakberarahan hidup yang dinikmati berubah labirin dan sesak nafas yang tak berujung: Sengsara berkepanjangan. Derita yang begitu akrab karena tersesat. Beragam kemungkinan pun akan muncul pula sebagai penyebab dan kemudian hadir lewat bayangan, menyeruak satu-satu di depan mata.

Mungkin karena resah, gegabah, atau sombong, merasa diri yang paling diri telah menjadikan beberapa tindakan muncul begitu saja dengan kelakuan yang tak terduga. Ketimpangan dan persoalan akhirnya membangun konflik tersendiri sehingga banyak hal bisa terlupakan begitu saja. Tak pandang bulu, siapakah manusianya: baik rakyat biasa sampai ke petinggi, itu sama saja. Kekhilafan adalah sifat manusia. Ya, manusiawi tentu. Tapi, bila kekhilafan dijadikan tumbal untuk itu tentu tidak tepat pula penempatannya.

Banyak hal memang di dunia ini yang membuat diri teralun oleh gelombang tak menentu. Permainan hidup kadang tak terimani. Terlebih lagi tawaran datang ganti-berganti dangan kegairahan yang tak bertepi. Perangkap  permainan semacam inilah yang membuat manusia terayun-ayun laju oleh kesalahan dan kemaksiatan. Karenanya dunia hanya dipandang seakan selama-lamanya, padahal semua fatamorgaha. Tak ada yang baqa, semua fana.

Begitulah hidup, begitulah pula ia kalau berubah jadi ungkapan hati yang penuh kedekatan pada-Nya. Biasanya akan merupa dalam tatakrama: petuah dan petatah-petitih, mengalir menjadi syair, puisi, pantun, gurindam, dan beberapa petik melodi mengantarkannya dengan nada ke khalayaknya di sebuah pesta atau pun upacara.

Kandungan dari tuntunannya itulah yang jadi tontonan, edukasi kreatif dan kearifan budilah yang berhasil melahirkan pekerti: terbang bak kupu-kupu  yang bakal menyejukkan tindak tanduk manusia dari ungkapan hatinya yang akan selalu menjalar di kemudian. Generasi yang dilahirkan syair yang penuh dengan kandungan nilai-nilai hidup dan mati ini tentulah akan mampu menyelamatkan alam dengan ilmunya yang selalu mnyertakan ‘Penguasa Alam Semesta’ dalam do’a-doanya.

Dialah generasi syair yang selalu meujudkan taqwa di lubuk cinta-Nya yang akan selalu direnanginya  sepanjang waktu di aliran sungai zaman kecerdasan intelektual yang selalu mengakar ke bumi tercinta.  Wahai sebuah syair di bulan suci ini mengelanalah engkau di ragam musim: Tumbuhkan kuncup menjadi bunga, wangi hidup berketulusan..
RoKe’S, 26Juli 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI