Kata, Mufakat, dan Kita di Dalamnya

Oleh Irman Syah
Memberangkatkan rasa dan periksa dari sebuah peristiwa kehidupan agar sampai pada tujuan tentulah akan berubah kata dalam ucapan, tingkah-laku, tindak-tanduk, serta berbagai  rupa dengan  segala cara pengungkapannya. Semua itu akan menjadi bahasa kehidupan yang dapat ditangkap sebagai butir-butir komunikasinya.


Kenyataan kehidupan yang beragam dengan segala aktivitas manusianya telah membangun bahasa yang beragam pula dalam komunikasinya. Semua itu terpapar sesuai dengan tinggi-rendah, besar-kecil, hitam-putih, gelap-terang, benar-salah, serta pasangan kenyataan lainnya yang dapat dilihat dalam keseharian manusia.

Pendapat, keputusan dan kebijaksanaanlah yang mampu mengungkungnya untuk dijadikan patokan dalam menentukan langkah agar leluasa bergerak kemana suka. Biasanya, manusia akan mampu memilih dengan tepat mana yang pantas dipilihnya meski kemungkinan begitu banyak bertebaran untuk turut serta.

Pilihan tentulah pada yang patut bukan karena pada yang mungkin saja karena hal itu belum tentu pantas bagi kenyataan keseharian hidup yang berarti. Di sinilah muncul ‘kata’ sebagai sesuatu yang bisa mengantarkan ucapan, tingkah laku serta sikap yang mesti dipertahankan dalam mempertahankan kebenaran dan keyakinan.

“Bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat’, demikian petuah dari ungkapan lama yang masih berlaku sampai nanti. Karena ada pembuluh bambu atau polongan semen dan pasir dengan terowongannya yang bulat akan menjadikan air bisa mengalir sesuai arahnya. Dia akan mampu bergerak kemana yang dikendaki. Kalau pembuluh itu tidak ada tentu air itu akan menyebar ke mana saja dan membuat lembab, becek dan banjir tempat yang dia kunjungi.

Dengan adanya pembuluh itu air telah bisa diarahkan ke tempat dimana dia lebih berfungsi. Terserah, apakah dia akan mengairi sawah atau mengalir ke selokan, kali dan kemudian terus ke muara dan membaur di laut.
Demikian pula kata, dia akan menjadi bermakna dan kukuh bila telah terlebih dahulu dibicarakan dan dibincangkan secara bersama: dikaji baik-buruknya, hitam-putihnya, atau salah dan benarnya. Dengan begitu kata akan menjadi bangunan kebersamaan yang begitu kuat dan sulit untuk diungkai secara sepihak. Di sinilah persatuan menjadi kesatuan dalam harkatnya berdasarkan kebulatan pendapat.

Bila hal semacam ini mampu dengan kerendahan hati disepakati, makna perbedaan akan menjadi kekuatan nyang mahasempurna. Dengan kata lain, kata telah menjadi kita. Keragagaman budaya dan suku bangsa yang dimiliki negeri ini telah dibuktikan oleh ‘Sumpah Pemuda’ dengan kata: semua menjadi satu membangun spirit perjuangan. Kalau hal semacam ini mampu dipertahankan sebagai suatu kebenaran dengan dasar musyawarah dan mufakat serta kebulatan pendapat tentulah kesatuan kata tentu akan mampu mengukuhkan persatuan bangsa.
Lhu, 12 Juli 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI