Serdadu



Oleh Irman Syah)*

“Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira, bintara, atau tamtama
Tetap tentara..”


Tak terduga, lagu itu riuh bergema di ruangan panjang yang bangunannya terletak tidak begitu jauh dari sebuah Asrama Tentara di Jakarta. Tepuk tangan dan sorak-sorai serta ketukan-ketukan pada dipan kayu dan besi oleh para Veteran pasukan khusus yang cidera akibat perang itu pun lahir begitu saja karena riangnya.

Padahal, sebelumya Ane Matahari ragu untuk memilih tekhnik muncul ketika dia memenuhi  permintaan untuk memberikan Art Terapy kepada para veteran tentara yang luka fisik, cacat, dan gangguan psikis permanen akibat perang.  Selain hatinya terenyuh melihat kondisi mereka, tapi tatapan mata para tentara itu, apalagi korban perang, tajamnya aneh dan membuat rikuh.

Untung saja dia adalah sosok yang selalu menebarkan senyum dan gampang akrab dengan siapa pun walau dalam kondisi bagaimana pun. Dengan sedikit kata dan kemudian mengeluarkan gitar yang tadi dia sandang dari sarungnya, matanya selalu was-was dan menilai. Dari sekian veteran yang ada di ruangan itu ternyata ada yang mulai mendekat. Tentu saja kedua kakinya utuh, hanya tangan kirinya yang tidak ada.

Dengan berbicara satu-dua, ketahuanlah bahwa dia suka Iwan Fals. Berdasarkan permintaan akhirnya  lagu ‘Serdadu’ karya Iwan Fals pun bergema. Plong! Beres sudah. Ane Matahari dengan gaya petikan gitarnya yang khas dan para veteran yang bergam derita itu kemudian menyatu dalam nada. Mulai dari lagu yang satu kemudian susul-menyusul ke lagu berikutnya sambil diselingi canda-tawa.

Sesuatu datang memang kadang tak bisa disangka-sangka. Lagu Serdadu yang biasanya dimainkan kawan-kawan di jalanan untuk meledek tentara itu tapi malah disukai oleh tentara. Hehe. Benar saja, ruangan yang tadinya sunyi dan mencekam berubah sudah menjadi suasana yang meriah dan menyenangkan. Lagu demi lagi dilantunkan. Suasana semakin riang.

Barulah selepas itu Ane Matahari menghadirkan komposisi musical yang memang telah dia siapkan sebelumnya. Beberapa judul Komposisi Musikalisasi Puisi pun mengalir melalui puisi-puisi penyair terpilih dan berlantunan mengisi ‘ruang sunyi’ para veteran itu. Suasana berubah khusyuk dan kedamaian hati menyelinap melalui untaian-untaian puisi yang sengaja dihadirkan.

Petikan tulisan ini merupakan sesuatu yang tercecer dari ingatan tentang bagaimana perjalanan seorang tokoh dalam mengemban tugasnya dengan tulus dan penuh keikhlasan. Semoga saja petikan dari rangkaian tulisan ini menjadi semangat bagi kita semua, khusus bagi Sastra Kalimalang agar tetap optimis dan kreatif melangkahkan komunitas ini ke depan.
RoKe’S, 16 Februari 2017

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI