Irman yah: Ketika Ex-Patriat Membaca Puisi

Entah sudah berapa ribu atau ratusan ribu kali puisi ‘Aku’-nya Chairil Anwar dibacakan di panggung, sekolah atau pesantren, bahkan menjadi materi iklan rokok di televisi. Tapi saat di acara Sastra Reboan #7, yang seperti biasa berlangsung di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta 29/10 ketika seorang lelaki berkulit putih menyebut akan membacakan puisi itu, segera pecah tepuk tangan pengunjung.


Meski sudah menyebutkan namanya, tapi sebagian besar pengunjung tak mengenalnya. Saat membawakan puisi ‘Aku’ juga biasa saja, kadang pada beberapa kata terdengar agak lain lafalnya. Tapi usai membaca, tepuk tangan kembali diberikan untuknya. “Nama saya Mike dari Slowakia”, begitu ia memperkenalkan dirinya.

Mike atau aselinya Michal tidak sendirian sebagai bule yang membaca puisi malam itu. Ia hadir dan membaca bersama 6 rekannya dari berbagai negara. Ada Anna dari Perancis yang tampil pertama kalinya dalam “Ekspatariat Baca Puisi Indonesia” membawakan puisi “Tuhan Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi WM. Lalu Lee Woo Jea, Park Enn Kyang dan Kim So Yeon yang semuanya dari Korea Selatan, Katsuya (Jepang), Saran (Mongolia) dan Dasya (Ukraina). Mereka adalah mahasiswa program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) STBA LIA Jakarta yang tampil bersama Teater Pintu 310 pimpinan Iwan Sulistiawan alias Bung Kelinci. Teater yang berdiri tahun 2002 lalu ini tampil mengapresiasikan puisi “Sepisaupi” karya Sutardji Calzoum Bachri secara teaterikal.

Mengambil tajuk “Aku dan Bahasa”, Sastra Reboan kali ini terasa lain dengan
tampilnya para ekspatariat itu, yang membaca dengan kepercayaan diri tinggi dalam bahasa Indonesia. Seperti ditunjukkan Lee Woo Jea ketika hendak membaca puisi, yang diawalinya dengan ucapan “Assalammualaikum. Selamat malam. Saya akan membacakan puisi berjudul Mata Bening karya Sapardi Djoko Damono”.

Acara Sastra Reboan dimulai agak molor, jam 20.10. “Banyak penampil yang terlambat akibat kemacetan yang merebak di berbagai sudut Jakarta” kata sang MC, Budhi Setyawan yang didampingi oleh Wiwiek (Ketua FLP Bekasi) dan Nurul (mahasiswi) saat memandu acara. Namun seperti acara sebelumnya, makin malam pengunjung makin menyesaki ruang Wapres yang baru direnovasi bulan lalu. Awaludin, penyair muda dari Depok mengawali dengan membacakan puisinya, diikuti oleh Nadia Ayuningyas, siswi kelas 3 SMA 5 Bekasi membaca sebuah puisi Johannes Sugianto.

Tak adanya grup musik juga mewarnai Reboan, yang menurut penanggungjawab acara, Dedy Tri Riyadi tetap membuat acara berjalan lancar, apalagi dengan lebih banyaknya penyair dari sebelumnya.

Pudwianto Arisanto, Fatin Hamama, Endang Supriadi, Heri Maja Kelana, Giyanto Subagyo, Imam Maarif, Dian Hartati, Ashar Junandar dan Irman Syah tampil dengan menarik. Selain itu juga tampil Alan Stein, mahasiswa Universitas Bung Karno membawakan monolog sambil membawa lentera diiringi lagu Indonesia Raya.

Namun adanya gangguan sound system pada salah satu mic turut mempengaruhi keluaran suara para penyair, di tengah pengunjung yang asyik menyimak, ada yang ngobrol dan tertawa. “Ini perlu jadi catatan tersendiri” ujar cerpenis Agus Noor yang sedang berada di Jakarta.

Imam Maarif membawakan puisi dengan gitar dan Irmansyah dengan serulingnya cukup memukau pengunjung. Bahkan Fatin Hamama, penyair cantik kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat yang hendak beranjak pulang tergelitik juga ketika Irmansyah membawakan syair bahasa urang awak Ia segera ke panggung dan bersama membaca, sehingga tampil duet dadakan yang mengundang applause.

“Lirik etnik saya bawakan dalam bunyi. Biarlah bunyi ini yang bicara kepada mereka yang mendengarkannya, agar tergugah untuk memaknaikya” ujar Irman Syah usai turun panggung. Salah satu tokoh Komunitas Planet Senen ini juga berbicara tentang sastra dan komunitas yang telah menelorkan puluhan seniman dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Bincang-bincang bertajuk “Bincang Sastra Komunitas”, yang merupakan salah satu mata acara Sastra Reboan ini dipandu oleh Zai Lawanglangit.

Tak terasa waktu telah menunjuk pukul 22.00 lewat. Budhi Setyawan menutup acara yang tetap mampu mengikat puluhan pengunjung di kursinya. Lamat-lamat masih terngiang ucapan Iwan Sulistiawan menjelang tampilnya para ekspatariat “Banyak tenaga kerja asing yang datang jauh-jauh dari negaranya masing-masing mau belajar bahasa Indonesia. Seharusnya kita yang orang Indonesia lebih mencintai bahasa Indonesia”. (http://blue4gie.multiply.com)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI