Batavia Begitu Tua



Kalau ada ranting yang patah
Kuncup puisi kan jadi buah..

Irman Syah

spacer

CITRA: Identitas Budaya Bangsa



S’NENAN: Komunitas Planet Senen Jakarta

Membahasakan sejarah peradaban manusia melalui media kesenian, dalam hal pertunjukan musikalisasi puisi, tentulah akan terasa lembut dan menyentuh. Komunikasi ini akan jauh berbeda denagn kegiatan seremonial biasa yang sering dilakukan selama ini. Wacana yang tercipta akan lebih cepat mengalir serta terserap ke ruang-ruang di dasar jiwa manusia.
spacer

Sastra Reboan, Oase Hati Nurani yang Terus Menggeliat

 


Hanya dengan slogan: Banyak Pintu Menuju Sastra, Sastra Reboan yang merupakan kiprah Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan, bagai magnet bagi sastrawan dan masyarakat luas.

Tiap Rabu malam pada akhir bulan, Wapress Bulungan selalu padat pengunjung. Seperti terlihat pada Rabu ( 28/1) malam. Ketika sastrawan Malaysia peraih SEA Write Award 1986, Dato Kemala, tampil pada acara Muhibah Sastra dan Baca Puisi, Sastra Reboan bagai jembatan budaya Indonesia-Malaysia.

Juga tampil baca puisi Ikranegara, penyair, dramawan dan pemain film yang sempat tinggal delapan tahun di Amerika Serikat. Perempuan penyair Diah Hadaning dan Kirana Kejora, tak ketinggalan pula. Pembacaan puisinya memberi warna tersediri. Juga ada dialog pencerahan dari cerpenis Agus Noor dan Kurnia Effendi, yang mengusung wacana fiksi mini. Cerita pendek bukan, puisi juga bukan.

Kurnia menilai fiksi mini sebagai absurd, seperti humor yang ada pada buku teka teki silang. Memaksakan diri bercerita dalam satu kalimat dan atau satu alinea. Namun Agus bersikukuh, fiksi mini ke depan akan menjadi genre tersendiri dalam sastra. Menariknya, selain dialog sastra dan baca puisi, juga ditampilkan anak-anak muda dengan kelompok bandnya.

Malam itu, kelompok yang tampil adalah November band dan Tom n Roy. Sejumlah kelompok band dari Surabaya, Serang, Bekasi, Jombang, dan Bandung, pernah tampil dan tak dibayar. Sastra Reboan dengan slogannya ingin memperkenalkan sastra dengan wajah yang ramah, enak disapa, mencerahkan, dan diharapkan menjadi bagian dari lelahnya kehidupan, kata Ketua Paguyuban Sastra Rabu Malam, Johannes Sugianto.

Menurut sejumlah pengunjung, pada Sastra Reboan, sastra ditampilkan bukan sebagai sesuatu yang berat atau berwajah bengis, dengan keseriusan atau kesakralan yang membuat jerih untuk mengenalnya.

Kolaborasi sastra dan seni menjadi sajian yang menarik bagi pengunjung. Perpaduan para sastrawan yang telah malang melintang di dunia sastra, serta mereka yang baru belajar menulis, menjadi sesuatu yang baru dan mencerahkan bagi pengunjung, kata penyair dan pembaca puisi kondang Irman Syah.

Jenis kegiatan yang ditampilkan sangat beragam. Kadang juga ada pementasan teater, gending, dan mungkin apa saja, yang bisa menjadi oase bagi pengunjung. Sastra Reboan, sejak kehadirannya, seperti menjadi alternatif suatu pertunjukan sastra dan seni yang menarik.

Rendra yang sempat datang dan memberikan sambutan Rabu, 26 November 2008 lalu, setelah membaca slogan: Banyak Pintu Menuju Sastra, yang menjadi latar panggung, mengatakan, "Ini yang menarik perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup hingga sekarang," ujar penyair berjuluk si Burung Merak itu.

Mulai berkiprah sejak 30 April 2008, Sastra Reboan yang tampil dengan format campur aduk atau gado-gado itu ternyata mendapat respon yang baik dan membuatpengunjung merasa betah. Bahkan, Duta Besar Hongaria untuk Indonesia, Mihaly Illes, juga pernah datang  dan menikmati acara Sastra Reboan, jelas Johannes.

Yang unik, yang tidak ditemukan di tempat-tempat berkesenian lainnya, Sastra Reboan bisa jalan karena pengunjung saweran, menyumbang sukarela, sebagai wujud kebersamaan dan rasa memiliki. Karena itu, pengunjung bisa menikmati cemilan berupa jajanan pasar, kopi, dan teh secara cuma-cuma.(YURNALDI)

spacer

MANUSIAWI

maaf, kepala
sering kebentur
jadi
lupa
jalan pulang

KoSmIk/2006
spacer

KARENA KAYA

hoi...
malaikat, jin, setan, iblis,
pocong, kuntilanak,
kuntil bapak
siampa, bigau
datanglah
silahkan bertegur sapa
negeri ini
rawan rencana
musang berbulu ayam

KoP’S/04/2008
spacer

LOKAL

tak usah
ragu-ragu
reggae
aja

megamendung, 09/01/09
spacer

CINTA

cincin
salah pasang
!

TIM, 2007
spacer

PASAR

ayo, ayolah…
copet mendapat
lowbatt
ketinggalan!

LHU, 2006
spacer

SALAM

tengkiu
ailapyu
betmen
poreper

25/06/05
spacer

DIRI

kalau resah
pulanglah!

25/06/05
spacer

PEPATAH

kalau
ada ranting yang
patah
kuncup
puisi kan jadi
buah

2004
spacer

PESAN

jangan
terlalu jauh
hilang diri
dekat
pun
masih ada
resah

02/10/04
spacer

JINGGA

sore menangkup
cahaya
lintasan demi lintasan
mengabur
waktu
berkejaran
gelap menikam terang
butir makna
kandungannya

18/05/03
spacer

LARUT

ditikamnya lagi malam
tak sepercik darah
di jemari
di
hati
entah…?

TIM, agust’02
spacer

K-BA

ini sajak
tak sembarang
alunan bansi
tikaman jejak
kitab
hidup
ragam hikayat
cermin hakikat
di lariknya

27/06/05
spacer

TITIK

Malah puisi pun
bukan
aku
yang
punya!

Aku pun Do’i

LHU, 14/07/05
spacer

DO’A

sebagaimana
telah
kau adakan
sesuatu yang pantas ada
maka
tuntunlah jiwaku
sesuai
kehendak-Mu
amin

(Juli 2003)
spacer

KEPADA GUS TF (Brewok, Ode & Media)

ini malam
aku belajar batuk
:prakepulangan
untuk
pulang
yang sesungguh
Nya!

28/06/05
spacer

RANTAU

malam kian tua
sepi isian lorong jiwa
kenangan perjalanan
membunga
dan
tumbuh
bertangkai-tangkai

petik nada di tulusmu
biar jemari
berbuah makna

2005
spacer

SURAT RINDU

malam meninggal
resah menjalar sudah
sampaikan
surat
ke jantung sukma

KomTim’03
spacer

ARSIP

kesepian apalagi
yang kau titipkan
kemungkinan apalagi
mencipta rindu
dan
mati!

02/10/02
spacer

SMS

kalau bukan karena jarak
semayamkan bintang
di ujung raih
tak rindu
bentangi dada..

Menteng31, 2003
spacer

INDONESIA ¾

kura-kura dalam perahu
kura-kura ikut berlayar
ditikamnya lambung
kapal
:sebuah sajak
buat COLOMBUS
yess!
kalau ditindik pusatnya
patent
X-lah

(2005)
spacer

TEMPO

jangan tergesa
banyak
yang tertinggal

(Mei, 2005)
spacer

BUTTING (Bukan Bunting)

ctrl
alt
del
!

(2005)
spacer

BOSAN

kesal dan rindu berceceran
sepanjang malam
dan melati
hanyalah parfum impian
di taman kehidupan

TIM, 10/06/04
spacer

PEMIMPI

terlalu banyak
yang di tangan
tak
satu pun
dalam
genggaman

26/06/05
spacer

SANGKAR DAGING; Gus tf

puisi
rahim bumi
dan
langit!

13/07/05
spacer

KEPADA CHAIRIL ANWAR

hidup kenikmatan!

empedu di telapak
meletup
ujung jari
tikaman darah

awas
jangan sampai percik
di gaun
beribu perempuan

Menteng31, 06/04/03
spacer

PAREWA-PAKARENA

jangan ribut
ini kapal siap tempur
kabut, karang dan
cuaca
tumpah di geladak
akulah nakhoda
batin Mahagala

Menteng31, 06/04/03
spacer

HIJRAH

maka berangkat
kesunyian itu menuju sunyi
berikutnya
di rongga kehidupan

embun rimbun, bintang
muncul
dan pagi
mengantarkan
berkuntum-kuntum puisi

21/06/04
spacer

INDONESIA

hentikan
belajar
bernafas
hidup!
:bumi dan langit
merestui

Kembang IX, 24/07/05
spacer

KASIH

sentuhlah tirai nadi
yang kuisyaratkan
biar wangi keringatmu
kutimba
sehabis-habis pagi
sehabis lelah
membunuh sepi

02/06/03
spacer

INDAU

bagai kehidupan
kenikmatan bertabur tanda
risau bumi menerjemahkan
langit-langit dunia
yang enggan bertegur-sapa
tersebab kalbu
tak menerima
mawar api yang tertukar

19/05/03
spacer

KEPADA LUBIS

Ketika politik berbalik
bintang
cerlang

revolusi bubur!

13/07/05
spacer

RITUAL

yuk,
tulis maut dalam hidup
untuk pulang
mencinta…
Dia abadikan
masadepan

26/06/06
spacer

LAMUN

meski
berhadapan
dan malah
bersentuhan
tapi
matamu, lain!

31/08/03
spacer

KAUSAL

di Bandung yang badung
itulah
rindu berkaca
pisah
dan pisah
lengkapi rindu

2003
spacer

KEARIFAN

resah
berhamburan
siapa pun
merajutnya
jadi intan

Menteng31,
2003
spacer

CIKAGO (Cikini, Kalipasir, Gondangdia)

awas!
tak laporan polisi, Lu
tak tangkap Lu, ya…
anak-anak berhamburan
“Hidup Negeriku!”

X-Pasir, 16/10/04
spacer

IDIOM

den lakak ‘ang siko
sori kece’ang beko…

“di mana ada kemauan
di situ ada jalan!”

25/06/05
spacer

GELORA

asmara apalagi
yang lebih menggila
dari ujud percintaan
rindu gebubu
pada Zat
pencipta gelora
itu
sendiri!

31/08/03
spacer

K-CUNK

ganja tinggal finishing
cak, bahasa apalagi?
hanya 1/3 lintingan
kehidupan

semua mabuk
hitung-menghitung
untung
jual-beli
tanah kuburan

Menteng31
28/03/03
spacer

BUNDA


meski beragam bunga
tumbuh, mekar dan wangi
takkan mampu
menandingi rasa
di jiwanya
karena taman yang abadi
juga memelihara
kumbang-kumbang
di altar Nurani

Medan, 07/01
spacer

DUNIA

kalau tak hidup
pancarkan bintang
dalam impian
tak mati aliri duka
ke lembah
dan
sungai
airmata…

X-pasir, 16/10/03
spacer

SAYANG

sayang, kalau kau tau
nikmatnya cinta
takkan hati bertukar kasih
padanya
berjuta sungai mengaliri
jantung
kehidupan

02/06/03
spacer

ISTRI

setangkai mawar putih
tebari wangi jantung
hidup kian lengkap
di taman
masadepan
doa-doa
macam air surga
menyiram dan membelainya

07/09/2003

spacer

HAYO

lakak!
agiah taruang

25/06/05
spacer

BUNGA TANJUNG

sampai kapan pun
tetap kubisikkan
di relung sukmamu
gumpalan puisi kehidupan
bahwa di pelukmu
yang teduh
bermekaran bunga tanjung
penuh wangi kasih-sayang
kenikmatan
hidup
dari yang Maha-segala

11/08/03
spacer

SIKAP

jadi apa pun
kuterima
aku yakin
itu berarti

22/01/05
spacer

KLIP

sepenyayang Isa
seberani Daud, secerdas Sulaiman,
searif Ibrahim,
selengkap Muhammad
atau
setampan Yusuf
aku hanya kilau…

27/06/05
spacer

DEMI

demi keagungan langit
dan kekacauan bumi
kuwarnai matahari
bulan dan bintang-bintang
dengan
samudera kata-kata
menenggelamkan benua-benua
dan pulau-pulau
menghidupkan semesta

TIM, 2003
spacer

AKU

aku bintang
berkelip di angkara
menyinari
semua jiwa…

2005
spacer

RoHmAnTik KREDO

“Bila proses penciptaan puisi
sampai pada pucuk-Nya
niscaya akan berbuah Petuah, Tamsil-ibarat,
Ungkapan,
Pepatah, Petatah-petitih…
atau
PATAH
dan
PITIH!

(IrmanSyah/2005)

spacer

‘Kekaisaran’ Seni Senen Hidup Kembali

Kawasan Senen, Jakarta Pusat, pernah menjadi ‘kekaisaran’ seni di Jakarta. Dari sana lahir seniman besar dari Harmoko, Gerson Pyok, Misbach Yusack Biran, Tati Malyati, Wahyu Sihombing, Soekarno M Noor, Mardali Syarif. Muslim Taher hingga Toga Tambunan.

‘Kekaisaran’ itu dicoba dihidupkan lagi oleh Komunitas Seniman Senen bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta dengan menggelar pentas seni bertajuk Lampion Sastra Planet, Senin (28/7) malam. Acara yang digelar di pelataran depan gelanggang olahraga dan stasiun kereta api itu didukung Pos Kota dan Harian Terbit.

Selain menampilkan puisi karya seniman Planet Senen, Irman Syah, Widodo, Imam Ma’arif, Arumdono,
spacer

Revitalisasi Panet Senen sebagai Markas Seniman

Komunitas Planet Senen (KoP’S) akan mengenang kepergian Chairil Anwar tanggal 28 April 1949 di Rumah Sakit CBZ (Rs. Cipto Mangunkusumo sekarang) dalam usia 26 tahun, 9 bulan dan 11hari itu, di Tugu Tekad Merdeka Planet Senen dan Karet dengan cara sederhana dan apa adanya..

Untuk mengenang Chairil Anwar, KoP’S menyiapkan acara pembacaan biografi singkat Chairil Anwar (Endo Senggono), pembacaan puisi dan musikalisasi Puisi karya Chairil serta Orasi Budaya IrmanSyah yang bertajuk “Planet Senen dan Chairil Anwar”, serta baca puisi oleh penyair-penyair Jakarta seperti Ahmadun Yossi Herfanda,Viddy AD Daery, Budhy Setyawan, Sihar Ramses Simatupang, Rara Gendis,Miranda Putri, Slamet Rahardjo Rais, Anya Rompas, Imam Ma’arif dan banyak lagi, pada 28 April 2008, bertempat di Kuburan Karet dan Planet Senen, dekat Pasar Senen, Jakarta Pusat.
spacer

Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa

Oleh: Ahmadun Yosi Herfanda (Wartawan Republika)

Irman Syah, Agus R. Sasrjono, dan Helvi Tiana Rosa
Meski bergerak ke arah perbaikan, negeri ini masih banyak menyisakan potret buram. Dan, itulah yang disorot oleh sastrawan Taufiq Ismail pada orasi sastranya dalam acara Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka di plasa Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di Planet Senen, Jumat, 29 Agustus 2008, yang lalu.

“Sesudah enam puluh tiga tahun merdeka, apabila kita berharap akan keadilan, masih bisakah saudaraku menemukan keadilan di Indonesia hari ini, setelah pincang, tersaruk digebrak krisis, dihantam bencana, dan kehabisan angka kita menghitungnya,” katanya.Ungkapan Taufiq itu tentu bukan untuk membuat kita pesimis, tapi menyadarkan kita betapa masih banyaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan untuk mengisi kemerdekaan, betapa masih banyak tugas para pemimpin bangsa untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan, keadilan dan kemakmuran.
spacer

Sastra Urban dan Problem Manusia Urban

OlehIrman Syah*) 
Awalnya, saya beranggapan sastrawan adalah seorang linguis yang cermat. Sebab, merekalah yang mampu menguraikan pikiran ke dalam analisis bunyi, sintaksis, dan pragmatis.Sastrawan juga dibebani tanggung jawab sosial dan sejarah yang tidak ringan. Sebab, melalui karya dan totalitas kediriannya, sastrawan adalah arsitektur kemanusiaan.

Namun, sejarah yang kusut, yang ditu]is hanya untuk mengukuhkan kaum terhormat dari kalangan penguasa, telah membuat bahasa hanya sebagai 'rumah' bagi sastrawan rumah yang menyimpan kisah pertikaian dan dendam kesumat yang tidak berkesudahan. Perjalanan kesusastraan kita memperlihatkan kenyataan semacam itu. Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan angkatan sesudahnya seperti mata rantai generasi dengan warisan 'dendam tak berkesudahan', dengan konsekuensi tiadanya satu pun yang tuntas dan rampung.
spacer

SAMPAI KAPAN PUN



Tetap kubisikkan di relung sukmamu
Gumpalan puisi
Kehidupan
Bahwa di pelukmu yang teduh
Bermekaran bunga tanjung
Penuh wangi kasih sayang
Kenikmatan hidup dari yang MahaSegala

                                                                                                                                 Agustus, 2003  
spacer

Irman yah: Ketika Ex-Patriat Membaca Puisi


Entah sudah berapa ribu atau ratusan ribu kali puisi ‘Aku’-nya Chairil Anwar dibacakan di panggung, sekolah atau pesantren, bahkan menjadi materi iklan rokok di televisi. Tapi saat di acara Sastra Reboan #7, yang seperti biasa berlangsung di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta 29/10 ketika seorang lelaki berkulit putih menyebut akan membacakan puisi itu, segera pecah tepuk tangan pengunjung.

Meski sudah menyebutkan namanya, tapi sebagian besar pengunjung tak mengenalnya. Saat membawakan puisi ‘Aku’ juga biasa saja, kadang pada beberapa kata terdengar agak lain lafalnya. Tapi usai membaca, tepuk tangan kembali diberikan untuknya. “Nama saya Mike dari Slowakia”, begitu ia memperkenalkan dirinya.

Mike atau aselinya Michal tidak sendirian sebagai bule yang membaca puisi malam itu. Ia hadir dan membaca bersama 6 rekannya dari berbagai negara. Ada Anna dari Perancis yang tampil pertama kalinya dalam “Ekspatariat Baca Puisi Indonesia” membawakan puisi “Tuhan Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi WM. Lalu Lee Woo Jea, Park Enn Kyang dan Kim So Yeon yang semuanya dari Korea Selatan, Katsuya (Jepang), Saran (Mongolia) dan Dasya (Ukraina). Mereka adalah mahasiswa program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) STBA LIA Jakarta yang tampil bersama Teater Pintu 310 pimpinan Iwan Sulistiawan alias Bung Kelinci. Teater yang berdiri tahun 2002 lalu ini tampil mengapresiasikan puisi “Sepisaupi” karya Sutardji Calzoum Bachri secara teaterikal.

Mengambil tajuk “Aku dan Bahasa”, Sastra Reboan kali ini terasa lain dengan
tampilnya para ekspatariat itu, yang membaca dengan kepercayaan diri tinggi dalam bahasa Indonesia. Seperti ditunjukkan Lee Woo Jea ketika hendak membaca puisi, yang diawalinya dengan ucapan “Assalammualaikum. Selamat malam. Saya akan membacakan puisi berjudul Mata Bening karya Sapardi Djoko Damono”.

Acara Sastra Reboan dimulai agak molor, jam 20.10. “Banyak penampil yang terlambat akibat kemacetan yang merebak di berbagai sudut Jakarta” kata sang MC, Budhi Setyawan yang didampingi oleh Wiwiek (Ketua FLP Bekasi) dan Nurul (mahasiswi) saat memandu acara. Namun seperti acara sebelumnya, makin malam pengunjung makin menyesaki ruang Wapres yang baru direnovasi bulan lalu. Awaludin, penyair muda dari Depok mengawali dengan membacakan puisinya, diikuti oleh Nadia Ayuningyas, siswi kelas 3 SMA 5 Bekasi membaca sebuah puisi Johannes Sugianto.

Tak adanya grup musik juga mewarnai Reboan, yang menurut penanggungjawab acara, Dedy Tri Riyadi tetap membuat acara berjalan lancar, apalagi dengan lebih banyaknya penyair dari sebelumnya.

Pudwianto Arisanto, Fatin Hamama, Endang Supriadi, Heri Maja Kelana, Giyanto Subagyo, Imam Maarif, Dian Hartati, Ashar Junandar dan Irman Syah tampil dengan menarik. Selain itu juga tampil Alan Stein, mahasiswa Universitas Bung Karno membawakan monolog sambil membawa lentera diiringi lagu Indonesia Raya.

Namun adanya gangguan sound system pada salah satu mic turut mempengaruhi keluaran suara para penyair, di tengah pengunjung yang asyik menyimak, ada yang ngobrol dan tertawa. “Ini perlu jadi catatan tersendiri” ujar cerpenis Agus Noor yang sedang berada di Jakarta.

Imam Maarif membawakan puisi dengan gitar dan Irmansyah dengan serulingnya cukup memukau pengunjung. Bahkan Fatin Hamama, penyair cantik kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat yang hendak beranjak pulang tergelitik juga ketika Irmansyah membawakan syair bahasa urang awak Ia segera ke panggung dan bersama membaca, sehingga tampil duet dadakan yang mengundang applause.

“Lirik etnik saya bawakan dalam bunyi. Biarlah bunyi ini yang bicara kepada mereka yang mendengarkannya, agar tergugah untuk memaknaikya” ujar Irman Syah usai turun panggung. Salah satu tokoh Komunitas Planet Senen ini juga berbicara tentang sastra dan komunitas yang telah menelorkan puluhan seniman dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Bincang-bincang bertajuk “Bincang Sastra Komunitas”, yang merupakan salah satu mata acara Sastra Reboan ini dipandu oleh Zai Lawanglangit.

Tak terasa waktu telah menunjuk pukul 22.00 lewat. Budhi Setyawan menutup acara yang tetap mampu mengikat puluhan pengunjung di kursinya. Lamat-lamat masih terngiang ucapan Iwan Sulistiawan menjelang tampilnya para ekspatariat “Banyak tenaga kerja asing yang datang jauh-jauh dari negaranya masing-masing mau belajar bahasa Indonesia. Seharusnya kita yang orang Indonesia lebih mencintai bahasa Indonesia”. 
(http://blue4gie.multiply.com)
spacer

Komunitas Planet Senen Kenang Chairil Anwar


Laporan: Wartawan Kompas Yurnaldi



JAKARTA, MINGGU - Komunitas Planet Senen (KoP'S) akan menggelar pembacaan dan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar untuk mengenang penyair terkemuka Indonesia tersebut, Senin (28/4) di Gelanggang Planet Senen, Jalan Stasiun Senen, Jakarta Pusat.
spacer

SASTRA INDONESIA:“SEBUAH SAMPIRAN TANPA ISI, FRASE TANYA TAK KUNJUNG JAWAB..”

Prolog
Awalnya, saya beranggapan Sastrawan adalah seorang linguis yang cermat. Sebab, merekalah (segelintir manusia) yang mampu menguraikan pikiran dan pendapat manusia ke dalam analisis bunyi (fonem dan morfem), sintaksis, dan pragmatis. Selain itu, sastrawan juga dibebani oleh tanggung jawab sosial dan sejarah yang sungguh tidak ringan. Sebab, sebagaimana diyakini selama ini, sastrawan-melalui karya dan totalitas kediriannya--adalah sesosok “arsitektur kemanusiaan”.

Pendapat di atas, saya ketengahkan untuk dijadikan patokan dalam upaya memahami posisi dan peran historis sesosok “sastrawan” (dengan S capital). Bagaimana mereka menjalani hidup, menjadi bagian dari hidup—“hidup” dan “manusia”: manusia dengan segala kemanusiaannya, hidup dengan segala kehidupannya—sekaligus melalui karyanya mereka menjadi “arsitek” atas hidup dan manusia itu sendiri.
spacer