‘Kekaisaran’ Seni Senen Hidup Kembali

Kawasan Senen, Jakarta Pusat, pernah menjadi ‘kekaisaran’ seni di Jakarta. Dari sana lahir seniman besar dari Harmoko, Gerson Pyok, Misbach Yusack Biran, Tati Malyati, Wahyu Sihombing, Soekarno M Noor, Mardali Syarif. Muslim Taher hingga Toga Tambunan.

‘Kekaisaran’ itu dicoba dihidupkan lagi oleh Komunitas Seniman Senen bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta dengan menggelar pentas seni bertajuk Lampion Sastra Planet, Senin (28/7) malam. Acara yang digelar di pelataran depan gelanggang olahraga dan stasiun kereta api itu didukung Pos Kota dan Harian Terbit.

Selain menampilkan puisi karya seniman Planet Senen, Irman Syah, Widodo, Imam Ma’arif, Arumdono,
Giyanto Subagyo dan Ahmad Sekhu, acara itu juga menyajikan musikalisasi puisi dan pameran karikatur karya Hidayat. Pentas ini bahkan menampilkan Anne, warga Jerman, Sarah, WN Kanada, ikut memusikalisasi puisi.

Anne bersama ketiga temannya dari Australia dan Inggris mengetahui akan ada pergelaran seni di Jakarta dari surat elektronik (email) yang dikirim temannya, Vivi, yang tinggal di Bali. “Katanya di Planet Senen ini dahulu banyak melahirkan seniman dan musisi hebat dan terkenal,” tutur Anne.

SEMANGAT KERAKYATAN
Harmoko yang memberikan sambutan kenangannya tentang Senen, mengatakan bahwa Senen merupakan pusat kebudayaan sejak dulu sebelum Taman Ismail Marjuki dibangun. “Semangat Senen adalah semangat kebudayaan. Semangat kerakyatan,” ujar mantan ketua MPR/DPR-RI ini.

Dalam acara yang dihadiri juga Dedy Mizwar dan Misbach Yusack Biran tersebut, Harmoko mengingatkan semua detak kehidupan rakyat ada di Senen, termasuk pelacuran, narkoba (madat) hingga usaha kecil rakyat. “Karena itulah, seniman mesti bisa memotret geliat kehidupan rakyat. Saya ingatkan, jangan pernah jauh dari rakyat,” tandasnya.(mia/anggara:Harian POSKOTA)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI