Catatan Kepergian, 'Piliang' Kalimalang

: Ane Matahari


Oleh Irman Syah

Berperahu hidup melabuhkan kematian. Sementara mati adalah hidup yang kekal. Dari pulau ke pulau tak lain laut kemudian tanah lagi. Pergantian tak ubahnya saling dekap. Dan permusuhan adalah perkenalan yang teramat akrab. Perahu berlayar. Hidup memancar. Menggetarkan kematian.

Langit Bekasi pun dirundung duka. Seseorang telah pergi untuk selamanya. Ditinggalkannya bahasa kehidupan atas prilaku yang nyata. Ya. Dia. Laki-laki itu menyempurnakan namanya sebagai seorang tokoh yang diidolakan warga. Kalimalang menjadi bukti. Kampus Universitas Islam 45 Bekasi menjadi saksi.

Menyadari kesendirian menyikapi perkawinan. Percintaan yang kekal adalah perpisahan. Perahu berlayar hidup memancar menggetarkan kematian. Dalam hidup, kematian dikandung entah berapa lama. Di dada musuh perkenalan terjalin amat setia. Dan perkawinan tak ubahnya memenjarakan kesendirian. Menyamakan bulu untuk terbang beriringan. Mengepakkan sayap ke batas perpisahan.

Ane Matahari. Ya. Dia telah pergi. Telah dibacanya alam untuk menyibak badai dalam kemelut negeri.  Diselesaikannya tugas kehidupan dengan sempurnya: menjadikan bantaran ruang public Kalimalang sebagai ruang cultural. Dan diisinya bangunan aktivitas generasi muda dengan kreativitas berbasis seni-budaya. 

Tulisan ini sesungguhnya sebuah pertinggal dalam diri. Relung yang menyimpan berjuta kenangan bersama. Tepat pada ulangtahun ke-5 Komunitas Sastra Kalimalang dia berucap: “Setelah ini Sastra Kalimalang akan mulai lagi dari nol.” Demikian ungkapan itu dan ternyata  lebih kepada kandungan isyaratnya. Setelah itu ‘Sobat Tande’ bergerak ke Solo, Jogja dan Bali. 

Selamat jalan Ane Matahari, Andri Syahnila Putra nama lengkapnya. Siregar marga ayahnya dan Piliang Suku dari pihak ibunya. Dia laki-laki yang lengkap. Lengkap sebagai seorang Batak yang bermarga dan Sebagai seorang Minangkabau yang bersuku. Marga ia peroleh dari Bapak yang menganut paham Patrilinial, dan Suku dia peroleh dari ibunya secara Matrilinial.

Kawan, halaman ini, halaman Budaya Sastra Kalimalang di Radar Bekasi ini akan selalu berjalan hingga kapan pun. Apa yang telah kita lakukan bersama akan tetap berlanjut ke ujungnya. Meski hidup dan mati ada, ia takkan jadi penghalang. Hidup ke mati adalah kehidupan yang baru. Kematian yang melahirkan hidup tanpa batas.

Gema, Genta, Gaung dan Nada, padamu tercurah darah perjuangan. Bunda Titin, yang semangat ya. Hidup telah mengajarkan jalannya sendiri-sendiri bagi manusia. Mengunyah kehidupan pasti meneguk kematian. Di ujungnya akan tercipta pertemuan, percintaan. Kitalah hamba yang tersimpul. Dibuhul-buhul kenyataan. Dialah Yang Kuasa menjalin keduanya atau  melepas hingga terurai. Dan kita hanya punya rindu.. rindu!

Meski begitu dalam tujuh petala bumi dan tingginya petala langit, hidup tetap tak semisal angka yang begitu saja bisa dibagi, kurang, tambah, atau dikalikan semau hati. Pelayaran takkan pernah usai. Devies Sanggar Matahari, Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia, Kawan-kawan di Sastra Kalimalang, kawan-kawan KPJ (Kelompok Penanyi Jalanan), Teater Korek, Kawan-kawan wartawan di Bekasi, kawan-kawan lintas komunitas, Keluarga Besar 99 Terminal, kita hendaknya selalu SaBar (Satu Barisan) untuk menyerahkan bunga karang, dari hati yang berlayar di kesemestaan. Salam.

Sastra Kalimalang, 11 November 2016

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI