Terlanjur Menyeberang

Oleh Irman Syah

Sejauh-jauh terbang bangau, pulangnya ke kubangan jua, demikian pepatah lama yang hari ini tak lagi terdengar. Bisa jadi saja, ‘bangau’ binatang jenis burung yang berkaki panjang dan sering berada di tengah sawah dan kadang berdiri di punggung kerbau itu tak lagi banyak diketahui anak-anak hari ini karena sawah telah menumbuhkan pabrik dan mall. Ke manakah burung-burung bangau itu kini? Entahlah. Ya. sama saja hal nya dengan kunang-kunang yang sekarang cuma berdiam dalam bait-bait puisi para penyair.


Hamparan gurun dan sawah, telah terjual dan tergadai begitu saja. sementara pemiliknya telah menjual dan menggadaikannya buat anak cucu mereka yang dengan kebanggan tersendiri yakni  untuk menjadi kaum intelektual. Demi sekolah anak, demi kuliah anak cucu semua dilipat menjadi kertas da angka-angka. Kebanggaan demi kebanggan telah membuat rasa menjadi terbang teramat jauh dan tak lagi kembali. Demikianlah analogi, demikianlah perumpamaan yang terjadi kini.

Hakikat perkembangan zaman, dinamika yang salah kaprah itu membuat negeri kehilangan rasa. Pikiran menjelma raksasa yang begitu buas dalam melipat bukit dan gunung dengan cengkramannya untuk menjadi angka-angka yang kemudian memuntahkan banjir, gunung api dan kesengsaraan masyarakat sekitar tanpa ada lagi yang bertangung jawab. Banyak sarjana, banyak intelektual muda, tapi mereka tak pernah pulang ke akar. Mereka terus berkutat dengan pikiran tanpa mengenal lagi sawah, ladang, atau gurun dan napar yang membesarkannya.

Setiap saat, selalu saja muncul pertanyaan. Kenapa di tanah yang subur ini para mahasiswa yang tamat itu tak lagi begitu sayang kepada tanah kelahirannya. Tak ingat lagi bagaiamana pipit bernyanyi, kerbau melenguh, atau uwir-uwir rima sore hari. Semua seakan lengkap dengan games yang beragam dan memunculkannya dalam genggaman. Insinyur pertanian kelihatan takut kotor kena lumpur, apalagi melihat cacing. Duh apa seungguhnya yang tengah terjadi.

Menjawab semua itu, kita dihadapkan dengan perkembangan yang salah kaprah. Mobil yang ribuan memadati jalan, lampu merah yang menundang macet, sepeda motor yang bergerombol dan kelihatan begitu buas dengan derumnya yang terus melaju mengelana pikiran dan rasa yang hampa. Tak terbayangkan, jika ada yang ingin menyeberang di jalanan, tau-tau mobil dan motor bersilangan dengan kecepatan tak terduga. Lampu merah pun telah berbuat sekehendaknya. Dia terapit di tengahnya. Apa hendak di kata?

Di tengah jalan, dengan serbuan mobil dan kendraan lainnya, dia tak tau lagi hendak bergerak kemana. Maju akan ditabrak, mundur akan tertabrak. Begitu banyak yang akan menggilas. Debar ketakutan kian merajam, jantung yang mendentung, atau kengerian yang tiba-tiba itu muncul membuat kalut. Demikianlah suasana negeri ini. Ya, terlanjur menyeberang: maju kena, mundur apalagi. Dari sini barulah diketahui, betapa pentingnya sikap, pilihan, serta terjemahan ragam kemungkinan dan kepentingan yang sesungguhnya.

Jika para intelektual berkiblat terus dengan referensi yang ada berdasarkan tatanan yang mereka pelajari tentang perkembangan dunia dengan Eropa-Amerika di dalam dada, maka kepulangan akan semakin juah dan tak berkira. Jika mereka ini yang terpilih memimpin bangsa, atau pejabat di pemerintahan, tentu akan mengukuhkan cengkraman dunia luar: sengsaralah niat tulus orang tua yang menyerahkan tanah, sawah, ladang dan gurun yang mengongkosi perkuliahan mereka. Sementara, kehidupan  membentang dengan ragamnya.

Ilmu itu bukan sekedar. Ada ukuran dan prioritasnya. Format dan konsep tak melulu bisa sama. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Jangan samakan begitu saja. negeri ini amat merindukan kalian agar kembali menata lingkungan sebagaimana akar menumbuhkan pohon. Sebagaimana sungai mengalirkan air. Sebagaimana kata dan petuahnya. Jangan terlalu jauh, hilang diri: dekat pun masih ada resah. Tapi, apa hendak dikata, prilaku sosial intelektual kita semakin tak mencerminkan akar budaya bangsa.

Di layar kaca, mereka berkata dengan seenaknya. Negeri ini seakan jadi bulan-bulanan kata-kata dengan ucapannya yang tak sesuai dengan kenyataan yang sesungguh: mereka seakan mementingkan hal yang tak penting dalam berbicara. Padahal, masyarakat yang menonton di layar kaca, bukanlah sigoblok belaka. Dengan begitu, nilai kebangsaan sudah tak berupa karena bopeng-bopeng. Hanya kebohongan yang merajalela. Semua terbius dengan angka-angka.

Terlanjur menyeberang, mengambil kiblat ke negeri orang, suka berpakaian orang luar, lupa budaya ketimuran telah merebakkan dampak yang tak sehat bagi nilai kebangsaan. Jika prilaku sosial para  intelektual itu tetap mencerminkan peminjaman pikiran dan cara pandang yang tidak tepat, tunggu saja, negeri ini akan bergolak dan kita akan membayar mahal semua ini dengan darah dan airmata. Sehabis kata, apapun itu, sebaik apa dan secanggih apa pun itu perkembangan zaman, jawabannya mesti direngkuh kembali ke dada, agar mengakar dengan kebutuhan yang mendasar rakyat dan negerinya.

Roemah Melajoe, 4 Maret 2016


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI