Maulid Nabi, Natal dan Tahun Baru

Oleh Irman Syah


Setiap saat diantarkannya saja kita oleh waktu menelusuri daerah baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kadang cemas mengguyuri dada, kadang riang begitu saja, tapi ketika ada lintasan-lintasan ingatan menyapa, banyak saja yang muncul dan kembali lahir,  terkadang hadir menjadi kelap-kelip di depan mata. Apakah itu kembang api, atau kunang-kunang yang tak lagi punya negeri karena dikungkung cahaya?

Entahlah. Begitu rahasianya perjalanan diri, begitu dalam lubuk hati yang sabar menyimpan hidup tanpa sengketa. Bertahun-tahun telah kita lewati panorama dalam kabut kenyataan dan warna warni tipuan kehidupan. Semua ganti-berganti, semua menghadang dada dengan debar jantung yang sulit ditata. Ah. Manusia. Masihkah kau memiliki jiwa sempurna yang tetap berusaha untuk mampu mewujudkan nama atas nama yang menjadikannya segala ada?

Kemarin Maulid Nabi, sekarang Natal, dan dalam hitungan hari selepas itu muncul Tahun Baru yang bakal membukakan pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin mendapatkan apa pun, baik dalam impian dan kenyataan yang mau diraihnya. Tinggal memasang kuda-kuda, meluruskan niat serta mematangkan tujuan dengan segala hal yang selalu mendewasakan pikiran atas kesehajaan makhluk yang penuh cinta-kasih sesama serta semesta.

Kesengajaan apa ini yang tercipta? Ya. Tak mungkinlah ada sesuatu kalau bukan sesuatu itu mesti ada. Rasa dan keyakinanlah yang  menggenggamnya dalam tangan-tangan nasib dan garis kehidupan. Kelahiran para nabi dan rasul seakan jadi peringatan dan eforia saja kesannya, karena di luar sana; pertikaian, perang dan kebiadaban berlangsung dengan sempurna. Kematangan. Ya, kematangan diri dalam segala hal sudah mesti diperbaharui. Tak lagi ada waktu.

Perkembangan dan dinamika kehidupan yang terpapar dalam kenyataan keseharian telah mengungkapkan bahwa nafas kehidupan terasa kian lepas dari tangkai yang menumbuhkan, sementara tampuk kebenaran tempat di mana usaha dan takdir bergenggaman telah pula menjadikan akar dan batang sia-sia mengutuk dirinya. Begitu banyak peristiwa yang menelan korban dari pertikaian politik atas kesalah-pahaman. Kejadian ini telah jadi teguran yang sesungguhnya.

Selepas Maulid Nabi dan Natal yang berteguran karena berdekatan, yang cuma berselisih jam itu, timbullah butiran tanya yang asali tentang rahasia apa sesungguhnya yang mesti digali lagi oleh  manusia sedalam-dalam diri. Sementara, Tahun Baru yang membukakan pintu itu bukanlah Tuhan Baru. Jangan tertipu, apalagi oleh kemilau yang tak begitu mengejutkan. Memelihara kesadaran akan hakikat tujuan, jauh lebih bermakna dari pada hanyut dan bergelimpangan akibat kesenangan sementara.

Setiap saat kita telah diantarkan saja oleh waktu menelusuri daerah baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kadang cemas mengguyuri dada, kadang riang begitu saja, tapi ketika ada lintasan-lintasan ingatan menyapa, banyak saja yang muncul dan kembali lahir,  terkadang hadir menjadi kelap-kelip di depan mata. Maulid Nabi, Natal dan Tahun baru menghadang diri dan mengabarkan bahasa yang mesti diterjemahkan dengan sempurna.
RoeKe’S, 25/12/2015



0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI