Keracunan Komunikasi

Oleh Irman Syah

Andaikan negeri ini berada di tangan orang-orang yang mencintai bahasa tentu akan lain lagi ceritanya. Jangankan cerita, cara pegang cerutunya saja akan mampu dimaknai dengan gamblang. Cara membakar dengan memantikkan api dalam hisapannya akan bisa ditafsirkan dengan leluasa. Apakah dia sedang berada dalam keadaan marah atau senang, sakit hati, dendam ataupun tengah bersahaja.

Begitulah bahasa yang dipertahankan para pendahlu negeri demi persatuan kebangsaan. Jadinya, negeri ini dapat berdiri kukuh berdasarkan tonggaknya yang jelas. Dengan begitu, lewat bahasa persatuan itulah kekuatan dan kesatuan jiwa manusia ndonesia akan mampu dikomunikasikan secara nyata, tepat dan akurat, baik bagi penyampai atau pun pendengarnya. Hal ini sangat penting untuk dikaji.

Dalam perjalanan kehidupan bangsa, dengan lika-likunya yang sangat unik serta sejarahnya yang kadang terlupakan, atau jika dituliskan ada bagian di baris-baris atau alinea tertentu hilang dan mungkin pula dihilangkan dengan sengaja atas kepentingan tertentu. Kehilangan beberapa baris atau alinea tertentu sudah pasti akan mempengaruhi makna yang disampaikan. Maka diperlukan lagi rujukan baru, atau penterjemah pikiran untuk memaknainya.

Meski pun demikian, tak ada keruh yang tak jernih, tak ada kusut tak selesai, ucap kata bahasa-bahasa lama itu bagi pemakainya di tahun-tahun yang terlupakan. Apa bisa hal semacam ini dapat dibangkitkan lagi bagi kepentingan bahasa kehidupan hari ini? Kenapa tidak. Tak ada istilah tidak bisa, kecuali tidak mau. Bukankah ‘alah bisa karena biasa’, dan ungkapan itu tetap bisa dibuktikan dengan kondisi apa pun dan di manapun sampai hari ini.

Persoalannya adalah rasa cinta, berupa pengorbanan dan perjuangan hidup manusianya dalam usaha untuk tetap mengangkat apa pun nama peristilahan serta struktur yang mesti ada hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang benar dan sesuai dengan pengucapan bahasa yang ada serta didasari akar bahasa yang jelas dan nyata. Ini saja kok sesungguhnya yang menjadi sumber dari segala persoalan negeri. Jalan keluarnya adalah, semua istilah dan penamaan struktur memang semestinya berangkat dari akar bahasanya.

Jika tidak demikian, meski diciptakan dengan maksudnya untuk memudahkan jalannya pemerintahan tetap saja akan muncul distorsi, kerancuan makna di sana-sini. Sayangnya, ahli bahasa atau institusi yang berkompeten untuk menyigi dan menilai peristilahan dan struktur itu tidak pernah memantapkan pandangannya ke arah ini. Sebutlah Badan Bahasa, atau sekolah dan kampus-kampus terkait, semua terbuai dengan kepentingan-kepentingan lain yang jauh dari rasa cinta pada bahasanya sendiri. Hal ini memang sangat memprihatinkan.

Selain itu, pemakaian istilah dari bahasa yang pernah ada saja jarang dimaknai lagi sesuai makna yang sesungguhnya. Akronim telah membunuh kata, tapi inilah yang sering dimunculkan dengan segala kepentingannya. Semua itu tentu berdampak dalam segala lini kehidupan manusia Indonesia dengan ruang lingkup pemerintahan yang tengah terombang ambing pula dengan kondisinya yang kehilangan rasa percaya. Sementara bahasa, yang sesungguhnya satu-satunya jalan keluar untuk itu tercecer dalam rak-rak yang berdebu dihimpit oleh teori ekonomi, hukum dan segala macam tetek-bengeknya.

Media Online, media social, yang begitu merebak pun tak mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Semua terhanyut dalam arus panjang kekacauan komunikasi. Jika ada peristiwa yang terjadi di kampus, atau di mana saja, yang muncul adalah berita atau gambarnya, dan jarang sekali untaian pikiran yang menerangkan kenapa itu terjadi. Apakah ini memang karena kesibukan? Kesibukan semacam apa yang telah meninggalkan hakikat hidup yang sesungguhnya. Hakikat cinta yang sesungguhnya. Hakikat bahasa yang sesungguhnya?

Sebuah kejadian kemarin lusa, ada beberapa kawan mahasiswa mengadu dan menyampaikan keluhannya. “Sekarang, kampus nggak nyaman lagi karena polisi sudah leluasa masuk kampus. Bagaimana jalan yang bagusnya diambil mahasiswa agar ekspressi positifnya bisa muncul?” Dengan singkat saja jawaban saya berikan. Kembali pada bahasa. Wawasan Almamater adalah satu-satunya patokan, bagaimana menjadikan kampus sebagai masyarakat ilmiah. Itu saja. Selain masyarakat ilmiah dan kepentingannya tentu tak berhak berada di dalamnya. 

Itu hanya sekedar contoh kerancuan yang lain lagi. Meski pun begitu, banyak hal yang mesti di perbaharui dalam cara pandang dan sikap. Kecintaan pada bahasa adalah perjuangan, adalah pegorbanan, dan kalau tidak maka bangsa ini akan menjadi epigon, taklik, atau hanya mengikuti arus yang takkan pernah lagi mencapai tepian.

RoKe’S, 2 April 2015



0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI