Penyakit Diplomatik

Oleh Irman Syah

Jika kata-kata selalu ditajamkan untuk membenarkan diri sendiri -- apalagi penambahan ini dan itunya -- bahkan sampai pada penilaian dan cap terhadap orang lain selalu salah: tentu saja ini merupakan sikap bahasa yang tidak dapat  dibenarkan. Tak terbayangkan kalau hal semacam ini berlarut-larut dan menjalar ke segala bidang kehidupan.

Ya. Bukankah benar dan salah itu yang kini jadi penyakit dan menjangkiti kehidupan berbangsa di negeri tercinta. Semua telah terbuka begitu saja. Siapa pun ikut mengabarkan dan turut serta bagi-membagikannya meski pun tidak tahu pasti dari mana sumber kemunculannya. Begitu pula yang lainnya, ikut terlibat pula serta menyerta dan bahkan membantah atau menghujat tentang apa dan siapa saja di sana, tanpa mengerti dan paham ukuran yang sesungguhnyanya.

Hal prinsip apa kini yang sesungguhnya telah menjadi sebab persoalan? Dari ujung sampai ke pangkal tetap kabur jalan pandangan dan malah terlalu sulit dalam meniti garis keadaan. Begitu banyak sumber berita dan begitu membludaknya dendam dan sakwa sangka: semua  bermunculan ke permukaan. Mengalir melalui arus sungai komunikasi yang meluap entah bermula dari mana, tapi membuat kuyup semua dan bahkan sampai membanjiri barisan di jalan-jalan.

Anehnya, antisipasi selalu saja mengarah pada akibat dan entah kenapa teramat jarang menyigi sebabnya. Tata-tertib hukum pun telah dimamahnya. Penguasa negeri telah tidak ada. Semua bisa saja jadi tersangka. Begitulah kalau tak siap dan mampu mengelola atau bisa juga disebabkan hilangnya rasa percaya. Prodak apa saja bisa masuk, tapi kemudian sampah prodak itu pula yang diributkan. Selanjutnya, bertengkar dan memenjarakan. Struktur pun telah tak lagi utuh, garis-garis besar haluan sudah tidak ada. Tiruan jadi keagungan. Keaslian lapuk dimakan zaman.

Kalaulah di negeri ini hanya mepersoalkan benar dan salah, kemudian diperdebatkan tanpa ukuran, ilmu apakah yang dipakai, pisau analisa apa yang digunakan, nilai budaya semacam apa yang dijadikan patokan. Bukankah salah dan benar itu hanya berlaku untuk orang yang bodoh. Bagi yang tidak, di posisi mana pun dia berada, secara pasti akan tetap dengan sikap yang mencerminkan pengetahuannya. Kalau ini diperturutkan, pembeda yang sesungguhnya sama itu tentu akan menjadi pertengkaran yang abadi.

Kutukan atau karma apalagi yang mesti menimpa sehingga pengertian bisa berjalan sempurna. Apalagi kalau penyakit yang disebutkan tak mampu untuk diatasi. Semua orang akan makin sibuk dengan diri sendiri. Berbenah hanya untuk kepentingan pribadi. Ego personal menggejala, ego cultural jadi sasaran mata-mata. Rasial pun siap menghadangnya. Di manakah tuah dan kesaktian yang pernah ada, yang diagungkan di masa masa lampau?

Jika kata-kata selalu ditajamkan untuk membenarkan diri sendiri dan apalagi sampai pada penilaian terhadap orang lain selalu dicap salah, maka pertengkaran dan perpecahan dalam tubuh bangsa akan semakin sempurna. Kalaulah intinya hanya persoalan angka, sikapi saja dengan dewasa. Sudah sejauh manakah kebutuhan dan kebersahajaan dalam perjalanan hidup di masalu tertinggalkan. Jemput lagi ia demi kelayakan dan kehidupan layak banyak orang.

Tak terbayangkan pula akibatnya jika kenyataan ini terus dan berlarut-larut serta kemudian menjalar ke segala bidang menafasi kehidupan. Cuma tinggal satu saja yang mesti dipegang dan  dipertahankan. Ya. Bahasa! Bahasalah satu-satunya jalan yang mampu mempersatukan atau sekalian memecah-belah: pisau bermata dua. Sikap dan pengetahuanlah yang mengiringinya. Semestinya, peliharalah bahasa dengan dada yang sempurna, ungkapkan dengan tarikan nafas yang bersahaja: di dalamnya manusia damai bisa bertegur sapa.

RoKe’S, 29 Januari 2015

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI