Tentang Peristiwa dan Kebiasaan Berdusta

Oleh Irman Syah

Dalam benturan dan kecamuk massa yang masih dibebani persoalan kehidupan mereka sehari-hari, peristiwa besar ini pun datang mengunjungi mereka. Sebuah peristiwa besar yang sesungguhnya mesti dan mampu dijadikan patokan demi jalannya gerak pemerintahan di Negara Indonesia. Tentu saja agar bisa berjalan lebih baik serta mampu untuk mengakar pada kepentingan kehidupan masyarakat yang kini tengah terpecah belah oleh kesenjangan ekonomi yang kian menggila.

Akibatnya, cara pandang masyarakat terhadap warga di sekitarnya pun telah diukur begitu saja berdasarkan nilai materi yang dikumpulkannya. Banyak materinya, atau kekayaannya yang melimpah maka akan membuat warga lainnya memandang hormat kepadanya. Hal ini telah berlangsung lama dan hidup subur sehingga perpecahan selalu mengakibatkan akal sehat bisa saja kalah telak oleh onggokan materi atau segepok uang. Ini terjadi di mana-mana. Tak peduli tempat dan jenis orangnya.

Atas kenyataan semacam itu, maka berlomba-lombalah masyarakat mendewakan uang dalam kehidupannya, tak peduli pula dengan cara apa. Kenyataan ini tentu kian menumbuhkan kesenjangan pula di dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kalau tetangga sebelah punya motor, maka dia mesti pula punya motor terserah dengan cara apa. Ini mesti dujudkan. Tak bisa kontan kredit pun akan dilakukan. Dengan begitu, rasanya mereka telah pula sama dan sepandangan. Senyum pun mulai tak beda.

Akibatnya, semua saling saing untuk sebuah eksistensi yang sama dan bernamakan uang. Ditambah lagi dengan adanya pemilihan umum, semua orang mulai kasak-kusuk dan saling menggunjingkan angka-angka. Malah ada pula yang menilai dengan ragam dan caranya sendiri. Ada yang sok tau tentang apa saja, ada yang tak mau tau, ada yang diam saja, dan ada pula yang merasa pesimis atau menganggap peristiwa itu adalah sebuah scenario saja. Jadi, keterpecahan ini telah menjadi pemandangan saja setiap hari dalam kehidupan masyarakat. Semua tercipta begitu saja dan yang lainnya juga telah menganggapnya biasa pula.

Kenyataan ini pun sesungguhnya bisa dianalogikan pula dengan kenyataan yang terjadi bagi  para petinggi, atau katakanlah mereka yang berada di tampuk pemerintahan. Keterpecah-belahan pun tercipta pula dan terjadi di sana-sini. Banyak kelompok yang mengatakan Cuma dialah yang paling baik dan bagus, banyak kelompok yang mengatakan bahwa kelompok lainnya tidak pantas, begitu pula kelompok lainnya juga mengatakan kelompok itu sangat tidak patut. Saling merendahkan dan memojokkan adalah bahasa keseharian yang bisa saja ditemui di mana saja. Bila orang catat menertawakan orang cacat lainnya tentulah hal yang pantas dikasihani, tapi bagaimana, demikianlah kenyataannya.

Analogi ini pun, tentu saja sangat berakibat pula pada pandangan masyarakat yang nota-bene, sesungguhnya, bukanlah pula orang bodoh. Mereka sangat paham dengan kondisi keterpecahan itu sendiri. Hanya nasib dan materi yang berupa anka-angka itu kadang yang marayunya untuk tidak siap menjadi miskin, apalagi dimiskinkan. Dari sini timbullah gunjing, cerita, dongeng masalalu, atau sejarah yang telah diputarbalikkan. Maka, kalau dilihat berdasarkan atas nama rasa percaya, pemilihan yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini sangatlah tipis kemungkinannya. Bisa saja ini hanya merupakan seremoni biasa dan antipati yang kini muncul juga sekedar bahasa yang dikunyah dalam keseharian yang begitu menyiksa.

Dari sekian banyak pikiran yang muncul dan tertera di atas, tak banyak sesungguhnya yang bisa dan dapat dipastikan, apakah pemilihan umum itu akan bermakna bagi masyarakat banyak atau tidak sama sekali. Yang pasti, pesta demokrasi ini tentu akan sangat bermakna bagi siapa yang ikut bercatur di dalamnya untuk dapat menduduki tempat yang basah dalam menyelamatkan kehidupannya atau menyelamatkan perusahaan yang mereka miliki. Begitu pula bagi yang menjadi tim suksesnya, mereka akan meraup keuntungan pula atas usahanya dengan seksama.

Begitulah kenyataan dan paparan yang selalu muncul dalam keseharian masyarakat di mana tempat dan akan selalu bercerita tentang peristiwa yang belum berlangsung itu. Mereka tetap akan menduga-duga, sama seperti hal ini sebelumnya, banyak janji yang tak ditepati, banyak kata yang diingkari, banyak kenyataan yang membikin mereka kian sulit untuk mendapatkan penghidupan sehari-hari. Begitula politik, kata mereka. Tapi yang lain ikut membantah: bukan! Ini tipu muslihat namanya. wallahu alam.*

RoKe’S, 28 Maret 2014

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI