Membaca Alam Menyibak Badai

Oleh Irman Syah

Berangkat dari ragam persoalan yang muncul di bumi pertiwi, benak kita telah dirasuki oleh bangunan kepercayaan yang semakin tercerai-berai. Apalagi dengan pemberitaan ragam media yang sering tidak menumbuhkan kedewasaan, kewaspadaan dan kesiagaan, tapi lebih cendrung menimbulkan rasa takut dan was-was. Maka yang terlahir kemudian bagi kenyataan kehidupan serta kondisi kedirian masyarakat Indonesia adalah mempergunjingkan keadaan serta mempermasalahkan beragam kebijakan.

Alam menyatakan diri dengan bahasanya, dan manusia menerjemahkannya dengan bahasa tersendiri pula. Dari hubungan keduanya terciptalah bahasa yang disebar-luaskan ke seantero negeri.  Saling berkabar, saling mengirimkan kata dan gambar. Ambil saja contoh yang dekat, banjir: setelah kondisi susah, akses tertutup, kehidupan yang mesti tetap bergulir dan mambuat manusia di Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya telah jadi pelengkap penderita, dan setelah itu, muncul lagi pernyataan-peryataan yang saling tuding tentang sampah atau pun kali yang dijadikan hunian dari mana-mana.

Artinya, setelah terpojok kemudian dipojokkan lagi atas ungkapan-ungkapan yang menyakitkan. Bagi masyarakat yang kondisi sosial-ekonominya pas-pasan tentu hal ini semakin menambah persoalan. Soal sampah itu tentu saja tidak sekedar mempersoalkan kenapa tidak tertib dengan sampah, tapi jauh dari itu tentu ada lagi yang perlu dipertanyakan: kenapa begitu banyak diizinkan merk dagang dari produk yang sama? Apakah ini juga tidak semakin membuat sampah kian bertambah banyak. Begitu pula dengan pendirian bangunan mewah yang tidak ramah lingkungan, antisipasi dari dampak jalan tol, pabrik, mall dan lain sebagainya. Nah, ini perlu direnung-inapkan lagi. Kalau soal pemasukan bagi daerah itu lain lagi ceritanya, tapi tetap hal semacam ini perlu dikaji-ulang agar telunjuk tidak cuma mengarah pada masyarakat saja. bukankah hal demikian akan menimbulkan telunjuk-banyak pun akan mengacung dalam rasa sakit hati dan dendam yang tak berkesudahan.

Itu baru secara fisik, belum lagi alam intelektual dari cara berpikir manusia. Ukurannya begitu sulit untuk ditemukan. Wah, memang negeri ini kian kaya saja akan persoalan dan pertikaian. Selain banjir, gunung meletus, tabrakan kereta, alam intelektual dan budaya Indonesia pun dirasuki oleh bencana yang tak kalah seru pula pertikaiannya. Di pusat-pusat kebudayaan masing-masing daerah pertengkaran Antara masing-masing pikiran pun memunculkan perpecahan. Banyak seniman yang terkotak-kotak dan dikotakkan oleh adanya bangunan baru, atau bangunan lama yang dibarui lagi dalam bentuk komunitas.

Entah apa yang bakal terjadi kalau kenyataan yang semacam ini terus-terusan berlangsung dan terus pula diekspos kemana saja, yang tak pantas tau pun menjadi tau, atau bisa juga mengakibatkan pembacanya menarik ujung bibir. Cemoohan dan pandangan sinis akan menjadi abadi tersebabnya. Inilah sebuah risiko dari tuntutan kebebasan yang salah kaprah karena lupa ukuran, patokan dan ini perlu diangkat lagi demi pemahaman ulang tentang manfaat yang esensial atas nama kehidupan yang manusiawi. Hal semacam ini tidak hanya berdampak pada kondisi hari ini saja, tapi berlanjut pula pada generasi berikutnya, anak dan cucu. Kerja keras tentu memerlukan banyak hal untuk meluruskannya.

Pelajaran pertama atas nama wahyu tentu saja kita tidak pernah lupa: Iqra’! Permisalan yang dapat diambil untuk menjadikan diri kian berguna tentu akan ditemukan dalam kandungannya. Dengan ketidak-pahaman akan aksara, penerima wahyu yang disebut Nabi dan Rasul itu yang bertugas memperbaiki akhlak mampu membaca dengan seksama. Di balik ini semua, alangkah dalam pengertian membaca bagi manusia. Kalau ini diteruskan, tentu hidup yang punya pegangan dan sikap akan tetap mampu bertahan dan menang. Apa pun kejadiannya, jiwanya akan tumbuh menjadi magnit yang mampu mengikat tali silaturrahmi bagi kehidupan manusia lain agar dapat semakin memaknai diri.

Membaca alam secara tepat dan sikap yang tegas terhadap kemudaratan adalah kunci utama untuk mampu menyibak badai. Isian rohani inilah yang kadang sering terlupakan. Bahkan, dari sudut lain banyak pula kebebasan berbicara yang kemudiantanpa disadari makin menjerumuskan. Mempolitisir segala sesuatunya atas nama kepentingan lain adalah salah satunya. Bahasa yang lebih sering muncul adalah penekanan terhadap kecurigaan dan saling tak percaya. Untuk itu, diperlukan pembacaan yang cermat terhadap apa pun dan jangan sekali-kali meremehkan kenyataan. Alam bisa berbuat dengan bahasanya, manusia mesti sadar dan cekatan membacanya, tapi televisi dan mie instan selalu saja berhasil merayu-rayu perjalanan.

RoKe’S, 6 Februari 2014


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI