Suara Kepahlawanan di Muara Gembong

Oleh Irman Syah

Pernah pada suatu kali, diajaklah aku oleh beberapa kawan Sastra Kalimalang ke Muara Gembong. Padahal sesungguhnya aku tidak begitu tahu peristiwa apa yang akan mau diturut ke sana. Anehnya aku turut dan mau ikut saja. Jauh juga ternyata perjalanan. Rasanya mobil telah lama bergerak dari Bekasi Kota, dan sampai pada  akhirnya memasuki jalan berlubang dan berbatu. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, masih lama lagikah?

Sopir dan sekaligus orang yang mengajak kami dan kawanku yang satu itu masih asik bercanda. Ada saja yang dapat dijadikan bahan baru untuk berlucu-lucu, kalau stok cerita mulai habis kisah kembali mengarah pada nama-nama yang mengemuka. Semacam buah bibir yang miring  tentang koruptor yang tamak dan keji sembari tertawa. Mobil terus merangkak dengan tersendat meliwati medan yang miring dan curam serta kemudian kembali datar.

Sebagai orang yang suka dengan hal baru apalagi perihal kehidupan social masyarakat dan budaya tentu saja aku amat menikmatinya. Larut juga sampai di Muara Gembong dan bermalam di sana kita rupanya. Aku tidak membawa apa-apa, tas sengaja tak dibawa sedangkan perangkat atau media yang biasa kupakai tertinggal di dalamnya. Untung masih ada Nokia E61i di tanganku yang gatal mampu sedikit menghibur hati karena masih bisa menyimpan dokumentasi sederhana ihwal peristiwanya.

Iki-lah negeri ini: Sesudut daerah paling ujung Kabupaten Bekasi terdapatlah muara yang sedikit terpencil. Tepat! Desa Mekar, Ujung Laut.. Di situlah setting bahannya. Esai ini tertinggal di sana pada sebuah ritual tentang Pesta Laut dan Kepala Kerbau yang menjadikannya catatan Pro Kontra, nasib dan harapan, hidup dan kesangsian, sebuah wacana yang mesti tertata menjadi makna. Ikatan diri dan alam, rasa syukur serta silaturrahmi warga nelayan yang terpupuk itulah yang menyambut kedatangan kami di sana jelang tengah malam.

Anyir dan amis ikan berlingkupan menyelimuti hidung, ya sementara, jelang waktu yang tidak begitu lama dia kan hilang karena biasa. Wayang menyambut di bawah Tower, tepat di ujung laut. Suara Sang Dalang mengumandang dan mengangkasa menyeru bintang di cakrawala. Baru kali inilah aku menikmati wayang dalam debur ombak yang menggema di ujung laut. Kesannya jadi berbeda dari pengalaman estetikaku menonton wayang sebelumnya.

Kami menikmatinya sambil meneguk kopi pertama dan kemudian dialog sana-sini dengan para tuan rumahnya. Aku jadi Ingat Pantura, ingat gairah tanah bunda, ingat pantai dan kapal, ingat nelayan  dan abrasi atas tempat tinggal mereka, dan atau pulau yang hilang karena laut tidak terjaga. Ingat, ya ingat akan sebuah ingatan akan keinginan hidup yang damai dalam semesta. Kelangkaan air bersih ternyata masih kendala. Tak terbayangkan kalau mereka mau mandi, cuci dan masak mereka mesti beli air yang dibawa dari Cilincing. Biaya hidup yang tinggi dan mahal itu membuat perjuangan hidup mereka berubah menjadi yang tidak sekedar.

Wayang itu belum kan usai kecuali sampai pagi hari. Kami putuskanlah secara bersama untuk meninggal ujung laut dan pulang ke rumah kepala desa yang memang sengaja telah disiapkan untuk bermalam. Kami mempersiapkan keputusan dan hasil cerita ketika minum kopi tadi. Pesta Laut. Ya. Pagi Jam 09.00, ratusan Perahu nelayan tak melaut, semua ikut Nadran, dan semua perahu dihias, begitu juga umbul-umbul dan benderanya. Gairah dan kebersamaan ini merupakan kebahagiaan yang mahal bagiku karena belum pernah berada di dalamnya sebelum ini. Bagaimana para nelayan beratraksi menghidupkan perahunya itu dengan perkasa.

Karena ikut perahu yang besar, tempat dimana kepala kerbau juga berada, membuat aku makin leluasa memotret dan mengambil video. Sesaji itu berada di bawah, sementara aku tepat di atas perahu yang terus bergerak dengan beberapa pemuka masyarakat Desa Mekar yang sedang berhajat itu. Begitu kurang kata-kata untuk mengungkapkan peristiwanya. Entah kenapa aku jadi ingat perjuangan masalalu negeri ini. Ketangkasan mereka melingkari perahu besar tempat kami berada dengan ratusan perahu berhias yang mengelilingi kami itu membuat aku menyatakan betapa mereka memiliki nilai kepahlawanan yang nyata dan selalu berusaha setia menjadi pagar negeri di tubir laut serta dengan kentribusi nyatanya dalam pengadaan lauk-pauk bagi masyarakat seantero negeri. Teriakan-teriakan mereka yang penuh semangat ketika menatap kepala kerbau yang dilautkan dengan rasa syukur itu berubah saja jadi suara pahlawan yang menggema di telingaku yang membangun ingatan sepanjang masa.
Rokes, 8 November 2013


 





0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI