Mukelu

Oleh Irman Syah

Di Tahun kedua usia Komunitas Sastra Kalimalang, telah begitu banyak kiprah yang dilakukan komunitas ini dalam membangun ekologi kehidupan di bantaran Kalimalang Bekasi. Keinginan dalam kebersamaan untuk menghidupkan keabadian Ruang Kultur adalah niatan yang sangat dituju karena memang sebuah capaian akan kedamaian serta meujudkan tali silaturrahmi sebagai ikatan kebersamaan dalam menciptakan bahasa yang sama tentang kehidupan yang berbudi-pekerti luhur dengan isian rohani yang sangat dibutuhkan kehidupan manusia.

Usaha yang memang tidak gampang dan terkesan utopis ini adalah suatu impian besar yang takkan berkesudahan. Paling tidak kita kan sudah berbuat meski tak begitu banyak pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat yang lain, tapi, setidaknya untuk diri sediri dan keluarga besar Kalimalang pun tak apalah. Bukankah niat baik itu telah tergelang dalam catatan sang Maha Pencatat. Kalau niat buruk tentu belum kalau itu Cuma niat, dia akan tercatat apabila perbuatannya sudah terlaksana. Apabila ada yang punya iat buruk dan kemudian ketemu dangan Komunitas Sastra Kalimalang dan akhirnya berubah niat menjadi baik, ini kan sebuah prestasi hidup yang sangat terpuji yang dapat dibanggakan.

Demikianlah niatan, demikianlah usaha yang dijalankan dan ini sudah dua lebih tahun berlangsung dalam sikap, konsep, yang dibuktikan dalam bentuk kegiatan. Tanggal 11 November kemarin, ikatan kekeluarga Sastra Kalimalang kian menjadi kukuh dengan adanya Mukelu (Musyawarah Keluarga). Bertempat di Cipurut, Purwakarta, di pendakian yang natural yang membangun rasa dan bimbingan agar saling sampai ke puncak keinginan bersama  adalah hal yang membahagiakan. Di sebuah air terjun (curug) keluarga besar ini saling mengikatkan kesucian dengan mandi (bersuci) bersama-sama dan kemudian diskusi tentang program ke depan yang terlebih dahulu diawali dengan sebuah paparan evaluasi kegiatan yang telah terlaksana.

Yang menarik dari peristiwa ini adalah rasa, karena inilah yang sering tertinggal dalam perjalanan kehidupan manusia hari ini. Kebanyakan manusia telah dan selalu sering mendahulukan kepala untuk segala macam tindakan dengan sengaja atau pun tidak dan telah lupa mengajak rasa untuk ikut serta di dalamnya. Selain kering tentu saja tindakan tanpa rasa ini adalah kehampaan yang panjang dengan kehambaran yang membentang. Ikatan kepala dan rasa ini memang sangat dibutuhkan manusia Indonesia sesungguhnya hari ini. Bukankah dengan begitu sebuah tindakan, usaha, kegiatan, atau keputusana akan menjadi maksimal dan sempurna bila pikiran (kepala) bersatu dengan rasa (dada).

Musyawarah KeLuarga ini setidaknya dapat memetik butir-butir makna semacam itu. Apalagi kegiatan ini juga bertepatan dan dimaksudkan pula untuk memeriahkan Hari Pahlawan. Ya, mari kita semua menjadi pahlawan bahasa dengan selalu menguntumkan mahkota lewat karya-karya yang diciptakan demi kehidupan manusia yang lebih layak untuk hidup dengan penuh kelayakan. Selain itu, tahun baru Hijriah 1435 juga merupakan sebuah momentum semantis yang juga mesti dimaknai dengan sikap hidup yang penuh keyakinan akan nilai-nilai religious yang dalam, dan dengan itu Sastra Kalialang juga memperbaharui struktur kepengurusannya yng selalu sesuai kebutuhan aanya dengan jalan  menyisip internal komunitas dengan anggota keluarga yang terpilih.

Mukelu, juga membicarakan Panggung terapung sebagai ikon kegiatan SKM yang puncaknya selalu akan diadakan setahun sekali dengan jalan kurasi karya keluarga Sastra Kalimlang dengan kriteria dan penilaian yang ketat agar bisa dan mampu untuk ditampilkan di mata publik yang cerdas. Selain itu Panggung terapung juga akan bisa terlaksana tanpa menunggu setahun, dan ini sesuai program yang mendukungnya untuk itu, bisa jadi dengan jalan kerjasama atau kemitraan yang membutuhkannya. Dalam waktu dekat, rencananya di bulan Desember akan diadakan Panggung terapung lagi karena memang ada kemitraan dengan FKUI yang sengaja bertandang ke Saung Kalimalang dan kemudian membicarakan ini.

Barangkali, dengan adanya Mukelu di Cipurut ini akan menjadikan komunitas ini semakin berkeiprah dengan karya-karya terbaru serta tetap berbuat untuk masyarakat dengan Perpustakaan Pinggir Kali, Koperasi Pedagang Pinggir Kali serta Sekolah Pinggir Kali-nya. Mari, dan selalu kita berjabat hati demi sebuah niat dan cita-cita yang berarti! Tak ada istilah tidak bisa, kecuali tidak mau: dilarang melarang! Bukankah kalau sudah sama-sama tahu tau dan paham, apalagi yang mesti dicurigai. Siluturrahmi batinlah yang mengikatkan keluarga yang satu dengan keluarga lainnya dalam lintas komunitas. Ayo, mari beranjangsana melalui karya dan selalu meluruskan bahasa agar budi dan pekerti terpelihara sempurna. 

RoKeS, 14 November 2013

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI