Singgasana Penyair


ketika aku menjadi kata, seseorang 
selalu memberatkan makna di inti jiwa
kemudian seorang lagi, sehingga semua
sepakat menggelariku dengan sebutan-sebutan
kaku; tanah, sawah, gedung, kota, pabrik, atau
berjuta sebuatan lain yang amat beratnya
bahka ada pula yang menggunakan
batang-tubuh jiwaku dengan sebutan yang
memualkan: ular, parasit, kondom,

kapitas, dan sejenisnya.. 
ah, betapa aku jatuh ke martabat jahiliyah

sebagai seorang yang telah menjadi kata
aku ingin digelari sebutan indah dan melodius
kurindukan kenyataan: arrasy, nur, qur’an, nabi,
khalifah, atau perangkat tabi’-tabi-‘in
yang bergerak luwes atas nama kebenaran
bagiku tak ada lagi yang indah selain jiwa
yag menari menggapai awan dalam pergantian
musim: sebuah singgasana cinta-kasih..
tegur-sapa di saat pergi dan pulang dari tepian
burung-burung meningkap sayap di pohon mangga
aku kata lewat siulnya

sebagai kata, aku ingin berada di beranda putih
merakit awan menjadi mendung, menanam hujan
bagi daun-daun kering, kubayangkan bahagia jadi
nyanyi yang menebarkan kebijaksanaan
sedalam-dalam kalam..


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI