Pemimpin dan Kezaliman



Oleh Irman Syah

APA YANG DIRASAKAN dan dialami oleh manusia Indonesia dalam kenyataan keseharian hidupnya akan selalu memunculkan wajah-wajah duka serta penuh kesuraman. Kenyataan hidup semacam ini menyiratkan keadaan yang tengah terjadi sesungguhnya di negeri ini.  Untuk mengetahui hal ini lebih jauh tentu diperlukan adanya usaha untuk mempertanyakan dan menjawab ulang niat luhur dari para tokoh pejuang kebangsaan.


Sejauh manakah kemampuan pemimpin negeri mengambil kebijakan atas jarak dan menilai kembali keadaan untuk kemudian menyiapkan kebutuhan akan keadilan bagi rakyatnya. Kalau hal ini tidak maksimal atau sama sekali tidak dilakukan maka wajarlah ditemukan banyak raut muka kusam dan kadang berbicara sendiri seperti menghitung-hitung angka. Apakah itu soal belanja atau sekolah anaknya yang serba mahal – entahlah -- dan kita cuma bisa melihatnya komat-kamit dalam raut muka berpikir sepanjang perjalanan.

Kadang kenyataan semacam ini bisa ditemukan di dalam mobil angkutan kota, bus, Krl antar kota atau di trotoar dan perempatan jalan. Tak terbayangkan apa sesungguhnya yang bergemuruh di ruang jiwa ketika melihatnya. Sudah sejuah itukah kerumitan dan kepahitan hidup yang mereka alami sehingga tidak sadar lagi bahwa ada orang lain yang melihat duka hatinya begitu saja. Hal ini juga akan membuat mereka bisa saja jadi korban kecelakaan dengan riuhnya kendraan bermotor yang menggila. Belum lagi ketimpangan lain seperti perampokan, pembunuhan, atau tindakan kriminal lainnya dari dan oleh rakyat atas sesamanya. Kemanakah perginya budi pekerti dan akhlak yang mulia?

Menyadari kenyataan dan keberadaan atas jati diri bangsa semoga menyentakkan ruang dada. Apalagi ketika nilai, etika, dan ukuran lainnya terlepas begitu  saja tanpa sedikit pun rasa kehilangan: kerinduan akan kedamaian jadi kian membuncah di pelupuk jiwa. Sementara, permainan atau games  telah begitu saja merampas, menghanyutkan serta menularkan bahasa dan keyakinan baru bagi anak-anak bangsa. Belum lagi ketimpangan, seperti perampokan, pembunuhan, serta tindakan kriminal lainnya dari dan oleh rakyat atas sesama. Tak dapat dibayangkan bagaimana generasi mendatang dan negeri ini ke depan.

Pantun, petuah, petatah-petitih, kias, syair, ibarat dan gurindam sudah semestinya diapungkan. Karena kenyataan kehidupan manusia begitu dinamis tentu hal semacam ini membutuhkan keuletan dan kecerdasan Intelektual yang mengakar-lah yang mampu untuk membangkitkan kembali jati diri bangsa: menumbuhkan rasa bahasa dan budi pekerti  dengan cita-rasanya yang agung.

Sintesa dari dialektika hidup, kenyataan dan kekinian serta bangunan dari tiang kekokohan lama -- ‘bahasa menunjukkan bangsa’ – yang merupakan ‘Cita Bahasa’ amatlah membutuhkan kejujuran kemanusiaan serta kelapangan dada dalam menentukan kebijakan yang sepadan. Hal semacam inilah yang mesti dikukuhkan: semacam kebijakan yang bermakna bagi calon pemegang tampuk kekuasaan di negeri ini. Kembali ke akar budaya kebangsaan tak bisa ditawar-tawar. Ini adalah acuan dasar keberadaan bahasa yang sampai nanti takkan pernah berdusta: membiarkan keadaan ini berlarut adalah kedhaliman**
RoKe’S, 13 September 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI