Bekasi, Riwayatmu Kini



Minimnya kesadaran berbahasa ternyata tidak hanya terjadi di tingkat nasional, di mana masyarakat kerap "menggado-gado" bahasa Indonesia dengan asing. Di Bekasi, meski ada bahasa Ibu, masyarakat hingga pejabat pun belum mau menggunakan bahasa daerah. Hal ini dikeluhkan maesto pantun Bekasi, Guntur Elmogas, dalam diskusi Sastra untuk Indonesia Lebih Baik oleh Komunitas Sastra Kalimalang, di bantaran Kalimalang, Senin (10/9) sore.


Menurut Guntur, bahasa Bekasi, atau lebih dikenal Betawi Ora, memang terkesan nora dan kampungan. Meski demikian, bahasa Bekasi tetap merupakan kekayaan budaya daerah. Ia bahkan bercerita, kepedulian terhadap bahasa Bekasi justru datang dari akademisi-akademisi di Universitas Indonesia. Sementara, di Bekasi, pemerintah Kabupaten maupun Kota, masih menutup mata.

"Kumpulan Puisi Pantun Bekasi saya malah diterbitkan langsung Pemrov Jabar. Tidak ada sama sekali apresiasi pemerintah daerah. Yah, minimal pejabat mau mencontohkan berbahasa Bekasi pada masyarakat," kata Guntur
.
Sementara, Sastrawan asal Sumatera Barat yang aktif membina Sastra Kalimalang, Irman Syah mengatakan, saat ini bahasa telah dipolitisasi oleh pemerintah sendiri. Kata 'pejabat' misalnya, yang berarti orang yang diberikan jabatan oleh masyarakat, telah berubah maknanya menjadi penguasa. Maka, sistem birokrasi yang diisi pejabat dan seharusnya berfungsi melayani masyarakat, justru berbalik makna.

 "Pejabat sekarang minta dilayani, bukan melayani. Inilah kerancuan bahasa kita," kata Irman.

Bahasa, kata Irman, tidak sekadar lisan dan tulisan. Bahasa adalah juga mimik, perilaku, budi pekerti serta ketulusan hati. Bahasa kekuasaan hari ini telah diungkapkan dalam bentuk kecurangan, korupsi dan arogansi. Banyaknya persoalan di Kota Bekasi yang tak kunjung tuntas merupakan bahasa kebohongan pemerintah.

 "Betapa mirisnya kita ketika janji-janji bertebaran di jalanan ataupun gedung pemerintahan. Sementara, esensi pesan tersebut tak kunjung terasa di masyarakat," papar Irman.

Dalam diskusi ini, hadir pula sebagai pembicara: pengamat seni Leonowens dan Calon Walikota Bekasi Dadang Mulyadi, dimoderatori akademisi Bekasi, Harun Al Rasyid. Minggu lalu, Sastra Kalimalang juga mengundang Anim Imamudin, calon walikota Bekasi. Diskusi tersebut rencananya akan terus berkelanjutan, yaitu mengundang satu per satu calon pemimpin Bekasi.

 "Setelah lima calon walikota hadir, kami akan pertemukan mereka dalam satu forum," tandas pegiat Sastra Kalimalang, Ane Matahari. (BR/Respati Wasesa)


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI