Memulung Kata

Oleh Irman Syah

Kata-kata bertebaran menyeruak angkasa raya. Meninggalkan mulut-mulut yang menganga di bumi tercinta: semua lepas bak busur panah, mengejar apa yang bisa dikejarnya. Meninggalkan apa saja yang telah melahirkan dan menumbuhkannya sebagai bahasa yang tak diperlukan bagi hidupnya yang baru. Kehidupan yang entah serupa apa dan bagaimana bentuk dan warnanya. Semua berubah menjadi angan-angan kusam dan impian yang tak berkesudahan.


Kata-kata yang tercecer, atau yang sengaja tak dipakai lagi, terpuruk di kedalaman samudera. Maka bermukimlah dia di palung jiwa, mendiami masalalu dengan kesunyiannya yang hampa.  Dingin dan asing. Berlumutlah ia di atas batu-batu, di ranting-ranting yang kering, karena embun dan hujan atau panas yang datang telah meninggalkan musim sunyi bagi diri sendiri atas impian bahagia.

Sejenak langit membiru, terkadang mendung tiba-tiba. Kata-kata berjatuhan dari angkasa, menimpa apa yang bisa ditimpa. Daun, pohon tua yang mati, gunung, hutan, gedung, rumah, tugu kota, mall, plaza, istana, rumah dan kemudian mengalir kepemukiman penduduk, ke kolong jembatan, rumah-rumah kumuh, dan kemudian melibas gelandangan dan pengemis. Bencana datang timpa-bertimpa. Dendam, rasa tak percaya, benci, kasih dan cinta menyatu jadi sebuah keluarga tak terduga.

Mereka membelah malam, menyiasati panas dan hujan dengan tubuh yang penuh luka. Darah mengalir, menumbuhkan bunga-bunga,  membangun wangi dari kelopak-kelopaknya. Mereka terus berjalan menelusuri kota, mengukur trotoar, mendentngkan gitar, meneriakkan kata, melintasi jembatan, terus ke museum, hotel, rel kereta, dan mengelana ke negeri tak teraba. Dikejarnya terus hingga azan menggema.

Setelah itu sunyi.

Ya, sunyi yang merindukan kata menjadi bahasa  untuk mengantarkan pekerti sebagai mahkota. Begitulah, pemulung kata menggeluti kehidupan dengan karya-karyanya. Kadang ketemu kata di simpang tanpa lampu merah, tanpa marka, atau di jembatan layang, juga di bawahnya, di jalan tol, di bawah tugu, di bawah sadar, tak terduga, ya, kadang muncul tiba-tiba. Ya, begitulah.

Menemukan kata, mejadikan karya, adalah mewariskan peradaban. Sastra adalah adab yang bersahaja mengaliri sungai-sungai jiwa, membangun kultur yang bersahaja meski di ruang-ruang yang sederhana. Setidaknya sekedar mengatakan kami ingin menubuh di dalam-Nya.
RoKe’S, 2 Agustus 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI