Pinang Balirik

sepanjang pinang balirik, menghilir ke batang Agam,
berdebu tapak di jalan tanah, siul barabah di jawi-jawi,
menemukan langkah dengan kelok, pohon pinang
bergerak riang, angin pun belai-membelai, daun dan pucuk
berdesiran di kiri kanan jalan, di singgasananya
burung pipit bercericit, “pidi..!”


di sini kampung bertepian, berpandam pekuburan,
perempuan-perempuan berkebaya, tutup kepala dengan
selendang, sayang malang yang berkumandang,
kelok kini bertemu simpang, membunuh jejak jalan pulang
meski harus memudik air, nasib mesti dikayuhkan,
jiwa ‘ntah bakal singgah di mana?


kata orang, bila biasa menyongsong angin, tentu mampu
menyibak badai! maka jerat mesti di pasang,
tak peduli di rantau orang!


selamat tinggal pinang balirik, mengalirlah terus
si batang Agam,
telapak kaki di awang-awang, hidup nyatalah
kelok dan simpang, membangun kenang demi kenang
dan pipit rasa bernyanyi,
hadir kembali Tilatang Kamang, pidi! pidi! pidi!


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI