'Money-Kebu'

Oleh: Irman Syah

KETIKA semua sibuk dengan harga, silang-sengketa mekar di dada. Jangan pula alirannya sampai  memenuhi rongga: laju kehidupan, kemanusiaan dan peradaban. Andaikan untuk sebuah dialektika bagi kemajuan kehidupan bangsa itu sah-sah saja, tapi kalau merusak tatanan kemasyarakatan dan nilai-nilai tentulah amat merugikan manusia.


Bersilang kayu dalam tungku, di situ api bisa menyala, begitulah kata pepatah lama. Berselisih paham tentang sesuatu biasanya akan menjernihkan kenyataan. Ada yang dihasilkan sesudahnya: kedamaian rasalah yang utama. Atas nama hasil, tentu laba yang diterima, bukan rugi yang merajalela. Tersebab itu, pilihlah jalan yang tepat atas nama kebersamaan bukan cuma kehendak kuasa.

Riuh rendah suara massa, alam menjawab dengan duka: hujan dan gempa pun membahana. Belum lagi gas dan airmata, atau darah mencurah  memaknai luka. Kalau ditilik dan ditimbang, apa hal prinsip yang mengembang. Kalau toh cuma persoalan harga kenapa mesti membabi-buta. Jauh sudah perjalanan, kenapa kembali ke asal mula: bentrok dengan rasa tak percaya dan negeri akhirnya kehilangan bahasa.

Seperti tak ada jalan lain. Bukankah tak satu jalan ke Roma? Begitu ungkap mahkota bahasa, tapi Money-Kebu mengemuka: budaya uang jadi segala-galanya. Duh. Apa jadinya makna hidup bila hanya berpikir tentang harta. Manusia dilindas sakwasangka. Uang, itulah pangkal-balanya: membunuh kata, rasa dan cinta. Kalau tak secepatnya bisa dipintas, tak terbayang lagi kenyataan mendatang. Anak dan cucu bergelimang derita. Semua tergantung kepada kita: menggadaikan jiwa kepada benda atau menjadikan benda pengukuh nilai bangsa.

Tak banyak yang bisa diungkapkan kalau hanya emosi yang mengemuka. Salah dan gagal akan terpelihara. Tak terbayangkan pula geerasi nanti, kenyataan pahit tentu menanti. Sungai duka kan menghimpun rasa, penguasa bangsa telah kehilangan jiwa. Emosi terus kian meraja: padahal itu kekalahan yang sangat terencana dan kita lupa memaknainya. Kalau sudah begini jadinya apalagi hendak dikata.

Memang tak semua sesuai rencana. Ada yang yang berhak menentukannya. Keyakinan mesti dipelihara. Pupuk dan rawatlah sukma di jiwa biar tak semua jadi sengketa. Tumbuhkan terus rasa percaya: jangan pula kekayaan menghancurkan kita. Kembalikanlah kata kepada kata. Dudukkan dia sesuai martabatnya. Gencarkan seni membangun rohani biar diri berbudi-pekerti. Tuangkan karya setulus jiwa agar maknanya jadi merata: tanah, laut, gunung dan lembah kan menikmatinya bersahaja.
Roker’S, 29 Maret 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI