Acara rangkaian perayaan ulang tahun ke-66 Sutardji di antaranya menghadirkan Diah Handaning, Zawawi Imron, dan Ahmadun Yosi Herfanda. Juga beberapa komunitas seni seperti Sanggar Matahari dan Saung Pangulinan yang bergerak di musikalisasi puisi, serta Majelis Komunitas Budaya dan Nusantara yang berkedudukan di Riau.

Satu persatu penyair tampil bergantian dengan membacakan puisi-puisi Tardji dengan ciri khas mereka dan tafsir yang berbeda. Kelompok Saung Pangulinan dari Bogor misalnya, membacakan puisi dengan iringan musik.

Karya Tardji berjudul 'Batu dan Perjalanan Kubur' dibacakan dengan penuh kesedihan dan menyayat hati dengan menyeruaknya alunan musik perpaduan petikan gitar, synthesizer, dan bunyi-bunyian lainya.

Pada penampilan lain, Diah Handaning, penyair senior yang pernah meraih penghargaan dari Gabungan Penulis Sastra Nasional Malaysia pada 1988 membacakan puisi dengan berjalan dari kursi penonton hingga ke atas panggung, sedangkan penyair muda asal Padang, Irman Syah, mengundang senyum penonton berkat improvisasinya berjingkrak, bertepuk tangan, dan melagukan puisi Tardji.

Suasana berkumpulnya puluhan seniman dan para penikmat seni malam itu berlangsung sederhana namun penuh keakraban. Kegiatan ini menjadi ajang temu kangen dan reuni sesama seniman yang telah lama tak bertemu.

Setiap pembaca puisi yang tampil sebagian besar mengawali pembacaan dengan mengucapkan selamat ulang tahun pada Tardji yang disebut "Presiden Penyair" atas karya karyanya puisi dan penampilan panggung yang fenomenal.

Tardji datang terlambat sehingga pembacan puisi yang dimulai pukul 20.00 WIB itu dimulai tanpa kehadiran penyair kelahiran Riau, 24 Juni 1941 itu.

Tardji mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia, terutama karena konsep tentang kata dalam puisinya yang seperti mantra. Di Indonesia, ia juga dikenal sebagai penyair yang mempunyai cara unik dan memikat dalam pembacaan puisi.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi 'Arjuna in Meditation' (Calcutta, India), 'Writing from the World' (Amerika Serikat), 'Westerly Review' (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda yakni 'Dichters in Rotterdam' (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan 'Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters' (1979).

Pada 1979, Sutardji dianugerahi South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaruan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

Acara "Pekan Presiden Penyair" adalah kegiatan yang digagas Yayasan Panggung Melayu dan didukung oleh para seniman serta komunitas seni sebagai bentuk apresiasi terhadap penyair fenomenal ini.

Pekan Presiden Penyair berlangusng 14 hingga 19 Juli. Acara ini diisi dengan lomba baca puisi-puisi karya Tardji, panggung apresiasi sastra oleh para seniman, pejabat pemerintah, kalangan pengusaha, serta seminar internasional dan pameran fotofoto koleksi pribadi Tardji.

Puncak acara akan berlangsung 19 Juli dengan acara peluncuran buku karya Tardji berjudul "Isyarat", pemutaran film perjalanan hidup Tardji, dan pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Tardji. (*)