Panggung Puisi Irman Syah 1 Jam di Bulungan

Oleh David Krisna Alka
Ketika sebuah pementasan puisi terpinggirkan oleh maraknya pertunjukkan popular di televisi yang menggelinjang akhir-akhir ini. Irman Syah melakukan pelisanan puisi-puisinya dengan sederhana tanpa ruah. Cukup dengan kursi dan meja bundar sebagai properti yang menunggu letih ingin turut di apresisasi oleh sang penyair. Tetapi, Irman Syah masih saja tetap duduk asyik dengan mengeluarkan bunyi bansi, kemudian berkata-kata.
Dengan menggunakan sepasang sepatu yang berlainan warna. Yang kiri merah dan kanan putih, sebuah kesan eksentrik yang sudah biasa dari para penyair kita. Irman Syah mencoba memaknai negeri melaui jaringan penandaan dengan penempatan atau penerapan antara penanda (signifer) dan petanda (signified)-merah dan putih sebagai simbol Negara. Sedangkan kain batik dan bansi sebagai pencitraan terhadap sebuah tradisi budaya. Namun, Irman Syah memiliki gaya tersendiri dalam melisankan puisi-puisinya. Sehingga menimbulkan makna ganda antara menguatkan eksplorasi tradisi atau kritik terhadap negeri.

Dengan bahasa lain, pertunjukkan yang bertema Negeri Sealun Dendang itu dihadapkan pada bahasa dan idiom lain dari yang pernah dilakukan penyair ketika membaca puisi-puisi mereka sendiri. Irman Syah tengah melakukan pencarian identitas yang lebih kreatif seperti para penyair pendahulunya yang telah memiliki dayat tarik tersendiri ketika membacakan puisi, seperti Rendra dan Sutardji membacakan puisi.

Sebagai penyair, Irman Syah termasuk baik dalam mengeksplorasi panggung kalakejenuhan sempat menghampiri penonton. Membangun komunikasi pertunjukkan merupakan hal yang jarang dilakukan para penyair ketika membacakan puisi-puisinya. Kebanyakan para penyair kurang memiliki gaya dalam membacakan puisi. Mereka cenderung mengandalkan kekuatan makna kata pada puisi, tapi bukan pada ekplorasi puisi dalam bentuk yang lebih menarik, seperti yang dilakukan Irman Syah. Pertunjukkannya yang unik dibantu dengan alat musik tiup bansi dan dendang tanpa kata (permainan bunyi fonem yang berirama etnik khas Minang). Penggabungan bunyi alunan bansi dan dendang serta pengucapan puisi sebagai satu kesatuan memang merupakan kemampuan yang jarang dimiliki oleh penyair lain. Ketika Irman Syah membacakan puisi andalannya, “Sunyi Kirim Surat Padaku.”

Kalau ingin menyelami sepi, masuklah
Kejantungku! Sebuah panorama tak terduga
Bangku panjang diri, di atasnya lumut
Bercambur embun yang kemaren
Membeku dalam dingin
Kereta takkan pernah datang, walau
ditunggu dalam sejuta musim

Alunan bansi terdengar menyentuh, menembus keramaian arus kendaraan di depan Wapres Bulungan malam itu. Detakan hati ini turut bergetar, teringat kota tempat belajar tentang kehidupan dan kesusastraan, INS Kayutanam, yang saat itu di bawah pimpinan A.A Navis. Pengarang cerpen Robohnya Surau Kami itu bisa dibilang ‘motor’ bagi beberapa penyair dan peminat sastra di Kayutanam, Sumatera Barat. Tempat Irman Syah pernah mengajarkan kepadaku tentang apa itu puisi dan sering-seringlah menulis diary. 


Malam pertunjukkan puisi itu, semua tersapa dalam alunan dendang, ke-ta-pang…ke-ti-pung…pung…pang…pung...pakh..pakh...pukh...pukh! Irman Syah melanjutkan membaca puisinya.

Kalau ingin menegur malam, ucapkan
Apa saja di sana! Kau akan mendengar
Musik kesunyian yang panjang
Diiringi requiem yang amat mengerikan
Salami saja apa yang kau inginkan dan
Nikmatilah! Betapa hidup sendiri itu
Sangat tak mengenakkan.

Keheningan yang terasa bertambah saat alunan bansi berirama khas minang mengingatkan akan kampung halaman. Setidaknya, apa yang telah dilakukan Irman Syah bukanlah pementasan spontanitas yang cuma mengandalkan energi kata dan ekspresi wajah. Bantuan suara musik, baik dengan bansi maupun alunan suara mulut (baca:dendang) merupakan kekuatan tersendiri yang dimilikinya. Puisi yang berjudul, Sunyi Kirim Surat Padaku, karya Irman Syah yang pernah menang lomba cipta puisi Sanggar Kopi di Bali, enam tahun yang lalu.

Gaya Irman Syah melisankan puisi-puisinya itu apakah dapat disebut sebagai musikalisasi puisi atau bukan, tentunya akan paradoks jika ditilik lebih jauh. Alat musik yang digunakan tidak mengandung kesatuan sebagai pendukung sebuah bentuk musikalisasi puisi. Sedangkan alunan dendang merupakan sebuah kreatifitas yang butuh keberanian bagi penyair untuk mendukung kenikmatan sebuah pementasan pelisanan puisi seperti yang telah dilakukan oleh Irman Syah.

Di sisi lain, apabila pementasan yang bertema Negeri Sealun Dendang merupakan salah satu bagian dari pementasan yang mengusung perlawanan terhadap hiburan yang komersial atau sastra yang komersial, tentunya patut untuk didukung. Perlawanan itu tentu berkaitan dengan banyaknya penyair yang tak memiliki modal uang yang cukup untuk menerbitkan antologi puisinya sendiri. Atau, mengadakan sebuah pertunjukkan puisi yang harus melalui saringan lewat tim penguji, berlomba unjuk gigi, lalu tereliminasi, kemudian nyanyian sunyi mengarungi.

Sebagai bentuk pencarian sebuah pertunjukkan puisi yang mendambakan peminat layaknya Indonesian Idol, Irman Syah tentunya belum mampu untuk menargetkan seperti itu dan butuh banyak makan tenaga, waktu, apalagi modal. Akan tetapi, jika pertunjukkan tersebut merupakan upaya untuk mengembangkan pementasan puisi yang lebih kreatif, menyentuh, dan mencerahkan, hal ini patut dihargai.  (Harian Terbit, 2006

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI