Pencerahan di Planet Senen


Langit putih tebal yang menyelimuti Plaza Gelanggang Remaja Planet Senen, tiba-tiba tersingkap dan berubah menjadi cerah setelah do’a pembuka acara dilantunkan. Nampak para hadirin begitu larut dalam kekhusuan do’a dan mengaminkannya, tidak terkecuali para seniman besar era 60-an. Mereka hadir dalam acara Lampion Sastra, 28 juli 2008, senen malam, atas kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dan Komunitas Planet Senen.

Sebelum pencerahan berlanjut di atas panggung dalam bentuk puisi dan komentar dihadapan public, ditayangkan sebuah film documenter yang berjudul “Mesin Biografi”, karya/Sutradara Ipoer Wangsa berdurasi sekitar dua puluh menit. Dalam film itu masing-masing penyair mengutarakan sikap keseniannya, dan menyampaikan makna lingkungan yang melahirkan dan membesarkan mereka. Kelima penyair yang mewakili generasi aktif dalam Komunitas Planet Senen itu antara lain: IrmanSyah, Imam Ma’arif, Giyanto subagio, Ahmad Sekhu, dan Widodo Arumdono.
“Dulu, “ kata Misbach Yusa Biran, “mungkin saya yang paling kaya karena baru saya sendiri yang punya sepeda,” tambahnya. Misbach Yusack Biran, adalah salah seorang tokoh perfilman nasional yang karirnya berangkat dari kawasan Planet Senen, yang diapit Jalan Bungur dan Stasiun Kereta Api. Sementara itu, Harmoko (mantan Menteri Penerangan dan Ketua MPR/DPR RI) memanggil kedalaman masa lalunya supaya bisa dihadirkan kehadapan public. “Saya ingat ketika dulu masih muda dan sedang belajar menjadi wartawan” kata Harmoko. “Saya bersama Wim Umboh, Soekarno M Noer, Misbach Yusa Biran, dan beberapa teman lain berandai-andai, akan menjadi apa kelak? 

Masing-masing memutuskan cita-cita. Dan saya akhirnya ingin menjadi wartawan hebat. “Karya-karya yang mereka ciptakan, baik lagu maupun drama, selalu berakar pada kerakyatan. Menzano pernah main drama disini, dan makalahnya ditulis di tempat ini, dan saat itu yang nonton hanya 10 orang, tetapi tetap jalan. Bing Slamet menulis lagu disini, bersentuhan dengan rakyat. Naga Bonar itu film mengenai kerakyatan. Itulah yang menguntungkan dari komunitas tahan banting ini. “Intinya adalah kerakyatan!“ Demikian tandas Harmoko.

Selanjutnya giliran Dedi Mizwar, yang mengaku bukan seniman senen tetapi dekat dengan wilayah itu, karena tinggal di Kemayoran. Menurutnya, para seniman Senen hidup dalam keadaan tanpa modal, tanpa ekonomi yang memadai. “Barangkali,“kata Dedi, ”Kalau Djamaluddin Malik tidak singgah kesini malam-malam, para seniman Senen yang biasa ngumpul diskusi disini dizaman itu tidak makan malam. Dedi Mizwar, seorang actor dan juga sutradara besar itu berharap agar kesenian dapat tumbuh dimana pun berada. Ruang-ruang itulah yang menjadi tempat mengekspresikan diri. Barangkali, unjuk rasa, pembakaran gedung-gedung dan tindakan anarkis terjadi karena anak-anak muda tidak mendapatkan tempat berekspresi secara sehat dan beradab.(As) 

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI