Wahai Hati, Damailah

Oleh Irman Syah

Wahai hati, damailah. Jernihkan segala pikir, lapangkan segala urusan. Jangan terlalu banyak menyimpangkan prasangka pada tuduhan karena semua itu ada yang tahu. Ya, semua itu ada yang mengatur. Bumi dan seisinya telah sempurna dengan ciptaan yang Mahakuasa. Apalagi yang ingin kauduga? Lepaslah, semua akan kian bermakna.

Gulungan risau yang bergulir dari hari ke hari di tanah pertiwi tetap membuat rasa tak nyaman di dalam hati. Harga demi harga menaik sementara mobil-mobil keluaran mutakhir yang semalam diiklankan di TV sudah menderum di jalan raya yang tak pernah sepi. Apa yang terkandung dalam gelisah negeri. Siapa yang masih peduli?

Wahai hati, damailah. Jangan lebarkan syakwa-sangka karena semua ini mesti dialami. Bukankah setiap nafas yang mengalir dari tubuh yang suci akan membangun aroma kebaikan diri bagi siapa yang ingin dia tempati.  Apalagi menghadapi bulan suci, semua akan bertegur sapa dengan diri. Amal dan iman berpelukan di dalam kalbu.

Meski berita dan pariwara mengantarkan komunikasi tanpa jada tetap batasi diri dengan kenyataan yang sederhana. Tak perlu banyak kata kalau toh cuma membibitkan sengketa. Mari. Lekatkan pakaian budaya dalam tindak keseharian, jinakkan nafsu untuk segala keinginan. Ramadhan sebentar lagi tiba. Siapkan segala daya dengan hati terbuka.

Wahai hati, damailah. Lahir telah menghadirkan diri pada juang. Berawal darah, kemudian daging dan kemudian kita bisa memakan daging. Memakan segala makanan dan mengisap sarinya  dalam segala jenis rasa dan fungsinya. Kita rasakan bau anyir darah kehidupan atas kesalah-pahaman. Padahal kesucian impian manusia sepanjang masa, siapa pun itu pada dasarnya.

Fitrah? Ya, siapa yang tak berawal dari sini. Setiap bayi yang lahir adalah suci. Begitu kata dan ungkapan yang hidup sepanjang zaman. Suci. Berawal dari kesucian, selanjutnya kurang suci, kotor dan menyucikan diri. Siklus berkepanjangan. Tanpa dinyana, kita seakan telah terkurung begitu saja dalam penjara kenyataan semacam ini. Tak bisa mengelak.

Wahai hati, damailah. Bukankah suci, kurang, kotor dan kemudian menyucikannya lagi se buah proses panjang yang selalu tak terduga dalam diri. Siklus ini pun telah termaktub dalam putaran bulan yang disiapkan untuk menampungnya. Mari. Sambutlah bulan itu. Kemarin, belum lama kan. Purnama itu begitu mengesankan malam pada pandangan mata yang yang dipendam.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surah Al Baqarah 183). Ya. Menahan diri dari segalam macam makanan, minuman dan bersenggama dengan wanita, mulai dari terbit fajar sidiq (subuh) sampai terbenam matahari (magrib) dengan niat dan dengan syarat-syarat tertentu.  

Wahai hati, damailah. Utuhkan ketakwaan sebagaimana kekuatan yang telah diterima dari pemberi hidup dengan sempurna. Segala macam tingkah, polah, fiil, perangai yang begitu saja dilakukan dalam kehidupan selama ini, sebelas bulan lamanya bukankah telah menjadi sebuah kepuasan. Apalagi? Hanya satu bulan waktu untuk berpuasa.

Mendapatkan nilai takwa yang sebenarnya bukanlah cuma dari Ramadhan, atau bulan puasa saja, tapi selamanya. Dengan begitu, jalan kehidupan tetap pada rel yang sesunguhnya. Kalau pun belum, masih ada jalan, masih ada kesempatan untuk mensucikan diri sebagaimana telah disiapakn dari lama, sebagaimana orang-orang yang telah ada sebelum ini.

Wahai hati, damailah. Nikmati jalan hidup dengan bergai liku itu dengan kenikmatan, membuang prasangka, membela negeri dengan dada terbuka, agar semua semakin nyata. Ya, selamat berpuasa. Selamat mencapai puncak takwa dengan kebahagiaan dan kesenangan yang tiada tara.
RoKer’S, 4 Juni 2015.

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI