Kematian Pemuda di Siklus Zaman

Oleh Irman Syah

“Jauh panggang dari api.” Demikian barangkali kata yang tepat untuk menyatakan ungkapan terhadap pemuda, peran dan fungsinya terhadap keadaan yang terjadi saat ini. Apalagi dalam hal menyikapi kenyataan hidup masyarakat yang dihantam oleh persoalan ekonomi, politik, birokrasi, dan kebudayaan di negeri ini. 

Pernyataan evaluative ini akan semakin terasa bila kita berusaha membandingkannya dengan sikap serta pernyataan pemuda masalalu yang dengan gerakan dan kecerdasannya mampu dalam usaha membangun dan meujudkan persatuan kebangsaan dan bahasa bagi negeri tercinta ini.  Siklus zaman seakan telah membunuh gerak dan aktivitas pemuda hari ini dalam buaian kesenangan.

Perputaran masa yang bergerak pada sumbunya telah membuat mereka tidak lagi mampu menghadapi perkembangan yang demikian cepat dalam hal apa saja di negeri ini. Maka kesenangan semu adalah satu-satunya jalan bagi mereka untuk melakukan pelarian yang indah. Tak dapat dibayangkan, bagaimana kuatnya magnit yang menarik mereka itu pada kancah godaan dan rayuan untuk menyenangkan diri sesaat dalam menghadapi segala kesulitan yang telah diwariskan turun temurun atas nama pembohongan yang diciptakan kekuasaan.

Kenyataan hari ini, tak begitu jauh bedanya dengan kenyataan ketika pemuda di tahun 1920-an melakukan permufakatan untuk mencari jalan keluar dari perpecahan yang diciptakan oleh kolonialisme. Bedanya Cuma kecanggihan. Peningkatan kualitas penjajahan dengan segala teknik dan media perpecahan yang dimilikinya. Sementara tujuannya tetap saja sama:  menguras segala kekayaan alam di negeri tanah tercinta.

Dengan begitu, bangsa ini dibujuk untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan kemudian ditipu dalam banyak hal -- layaknya sebuah permainan baru yang melenakan, bagai kanak-kanak -- dan efek yang ditimbulkannya adalah pertengkaran melalui pertikaian dengan saudara sendiri.  Dan dimunculkanlah format baru dalam hal aturan dan penyelesaian masalah oleh mereka dengan metode (penipuan) suku, ras, dan agama yang sesungguhnya kekayaan (bagi pemuda) berupa modal kekuatan yang mempersatukan bangsa ini.

Artinya, pemuda hari ini telah ditipu mentah-mentah oleh kekuasaan yang lebih memihak pada penjajahan jenis baru berdasarkan kepentingan dunia luar melalui kepintaran dan kecanggihan teknologi yang mereka ciptakan. Lebih banyak dari mereka yang sedikit berpengetahuan akhirnya jadi epigon, pegikut yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa ingat lagi pada kecintaan akan tanah air. Kenyataan ini sesungguhnya telah berjalan larut tanpa disadari.

Kematian pemuda di siklus zaman seperti ini semakin terasa karena tidak adanya gagasan baru bagi mereka dalam hal inisiasi untuk menciptakan kesadaran utuh bagi yang lainnya.  Kebanyakan pemuda terlena dengan banyaknya goa-goa tempat mereka bernaung dalam kemanjaan. Kampus dan sekolah telah memandulkan mereka dalam hal pemikiran makro. Bahkan banyak yang terjerumus pada keegoan tak menentu. Perpecahan antar jurusan dan fakultas bisa saja menimbulkan perkelahian dan tauran.

Kalau pun ada aktivis yang muncul dari kampus itu pun segelintir karena mereka mesti berani barhadapan dengan tata tertib dan aturan kampus yang mengekang. Bisa saja mereka dikeluarkan karenanya. Selebihnya mereka berbaris untuk tamat dan kemudian mengikuti antrian panjang pula untuk mendapatkan pekerjaan. Dan bahkan ada pula sebagian dari mereka yang tak tau tujuan, terlibat dengan dunia hedonis atas nama kemanjaan fasilitas dari orang  tua yang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit pula. Mereka hanyut dalam pergaulan tak menentu sampai pada akhirnya tidak menamatkan pendidikannya. Kasihan memang.

Sudah jarang memang para pemuda mengingat peristiwa bersejarah tentang pemuda itu sendiri. Termasuk persiapan Kongres Pemuda Pertama pada 15 November 1925 di gedung Lux Orientis Jakarta. Bagaimana lima organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen serta beberapa peserta perorangan yang mampu mencetuskan sikap kritis dan rasional. Dari para pemuda itulah tercipta Kongres Pemuda Pertama (30 Aril - 2 Mei 1926) dan Kongres Pemuda Kedua (28 Oktober 1928).

Kalau kita bandingkan dengan keberadaan keorganisasian pemuda yang ada hari ini  malah semakin mempersempit ruang gerak persatuan karena tak lebih dari pada semacam mengembalikan perpecahan masa lalu. Keberadaan mereka pada dasarnya adalah pendukung kelompok dan kekuasaan dalam kepentingan yang berbeda dari pemuda di masa lalu. Akhirnya, tak banyak yang bisa diperambil dari ikatan persatuan-persatuan pemuda yang ada. Kesadaran akan kematian pemuda di Indonesia ini perlu diingatkan bagi generasi berikutnya bagaimana pentingnya kecintaan akan persatuan melalui bahasa dan kebudayaan agar bangsa ini tak selalu menjadi makanan tipu. **

RoKe’S, 24 October 2014

1 comment:

  1. untung aku tercatat dipemuda 1998 gaek......
    Perjalanan di minang plaza ndak dipublikasikan pulo gaek..

    ReplyDelete

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI