Catatan dari Perjamuan Budaya di Unisma

berita / Mar. 03, 2013 / by redaksi / infosastra.com 

 
OLEH: IRMAN SYAH, penyair |
 
Dialog budaya, pementasan monolog dan pertunjukan musikalisasi puisi yang dilaksanakan Rabu malam, 27 Februari 2013, di Laboratorium Teater Korek Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, Jawa Barat, telah usai. Banyak hal yang ditinggalkannya dan semua mengkristal jadi kenangan, semangat dan kerja keras ke depan.


Kegiatan yang berlangsung dengan durasi panjang ini direspon oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan generasi muda yang tengah giat berkesenian, baik dari Bogor, Depok, Bekasi, Padang, Yogyakarta dan Jakarta. Penonton tak beranjak menikmati acara dan dialog pertunjukan hingga usai.

Bersama itu Indah, demikianlah ikatan kerjasama yang dilakukan oleh Sastra kalimalang, Teater Korek Unisma, Bumi Kalamtara, PSM Unisma, Bengkel Seni Kartini, Bekasi Foto dan lainnya. Kegiatan ini merupakan kerja bareng beberapa komunitas yang melebur serta saling memberi masukan dan bekerjasama. Acara dibuka pertama oleh M. Mahrus (Achoes Yoi) sebagai ketua Labor, Irman Syah (Pengantar Program) dan Abdul Khoir (sebagai Pembina Teater Korek)

Bangunan Silaturahmi

Setelah melakukan dialog dengan sejumlah seniman Bekasi, Padang, Yogyakarta dan Jakarta, akhirnya muncullah kesepakatan antara Sastra Kalimalang, Teater Korek dan Bumi Kalamtara untuk melaksanakan perjamuan kebudayaan melalui panggung kesenian. Kegiatan ini bisa disebut sebagai panggung sastra, musik dan teater (monolog) serta ditutup dengan kongkow seni dan dialog kebudayaan. 

Adapun yang menjadi pokok atau capaiannya ialah terciptanya bangunan silaturrahmi batin yang kukuh antar seniman untuk setia berkarya serta meluaskan aktivitasnya dengan menumbuhkan jaringan komunikasi yang tepat dan bermanfaat untuk masyarakat dan seniman itu sendiri. Dengan kegiatan ini diharapkan akan tercipta pula anjangsana karya seni dan ke berbagai tempat melalui jaringan sanggar dan komunitas kesenian.

Jamuan Budaya
Kehadiran pemonolog yang difasilitasi Grup Bumi Kalamtara merupakan sebuah bahasa yang sangat menggairahkan serta membangkitkan semangat pekerja seni di Bekasi, kuhususnya bidang teater. Apalagi pertunjukan Rifka audria, perempuan kelahiran Medan 15 Mei 1989 yang membawakan “Prita Istri Kita” karya Arifin C. Noer dan berasal dari komunitas kampus di ISI Padangpanjang yang cukup mempesona penonton. 

Begitu juga Edi Purwanto dan Koko Sudarmadji yang membawakan lakon “Aksioma” dan “Kromo Kromik”. Kedua naskah ini ditulis oleh Taufan S. Chandranegara dan kedua aktor yang memerankannya merupakan aktor dari Bumi Kalamtara. Pertunjukan monolognya sangat menarik sehingga respon dan teriakan penonton tak terelakkan. Ruangan jadi gemuruh karena komunikatifnya bahasa panggung. Edi Purwanto mewujudkan pentasnya dengan disutradara oleh Joe Mirshal yang malang melintang di dunia seni. Selain pendiri Grup Bumi Kalamtara, ia juga dikenal sebagai aktor teater/film dan berdomisili di Taman Mini Indonesia Indah.

Grup Musikalisasi Puisi “US” pimpinan Syukra Maulana, Grup PSM Unisma – (Universitas Islam 45), Teater Korek Unisma (Universitas Islam 45) Bekasi, SKM Akustik (Sastra Kalimalang) dan Bengkel Seni Kartini yang membawakan musikalisasi puisi karya Napi dari Lapas Bulak Kapal, kian mengukuhkan Perjamuan Budaya Komunitas Kalimalang mejadi lebih semarak. Pertunjukan musikalisasi puisi menutupnya dengan nada puitik yang menggemakan panggung.

Persoalan yang mengemuka dalam pentas dan dialog ini antara lain perihal bahasa yang telah rusak dan porak-peranda, budaya yang tengah menikmati kesuramannya serta kesenian yang perlu tetap digalakkan untuk kembali mebahasakan kebudayaan karena memang mengakar dari kerohanian. Anggapan semacam ini dihadirkan oleh beberapa tokoh seni dan budaya yang peduli di bidangnya, antara lain Dendi Madiya, Yudilfan Habib, Irman Syah, dan para aktor dari Bumi Kalamtara (yakni Rifka Audria, Edi Purwanto, dan Koko Sudarmadji) yang dimoderatori langsung oleh Ane Maahari dari Sastra Kalimalang.

Kegiatan ini berlangsung lancar dan penuh makna. Perjamuan budaya ini pun boleh dianggap berhasil karena memang mencapai sasarannya, terutama bagi aktivis penggerak kesenian dan kebudayaan di Bekasi. Dialog budaya ini juga terasa memukau dengan jamuan persoalannya yang aktual. Apalagi mengangkat persoalan yang kini tengah dihadapai oleh bangsa dan negeri ini. [R]

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI