Syawal: Kesucian Lahir Batin


Oleh Irman Syah
Sewaktu Ramadhan, syetan dan iblis itu di belenggu: selepasnya, peri-peri kecil itu mulai menggangu dengan rayuannya yang begitu halus dan lembut. Dia mulai mengetuk-ngetuk pintu hati yang lemah: kemudian membuka, dan lepaslah semua cengkrama yang tanpa disengaja telah berujud cengkraman terhadap diri sendiri untuk berbuat yang bukan sepantasnya perbuatan. Maka jauhkanlah..


Demikianlah waktu, demikianlah permainan, demikianlah sandiwara dari hidup dan kehidupan bagi pelakunya yang sungguh telah diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Manusia, semua ada padanya. Kelengkapan yang tak berbanding sedikitpun dengan ciptaan apa pun apalagi berkurang. Zat dan sifatnya alamraya, citraan keberadaan-Nya itu semua menubuh di anatominya: tinggal menjaga magnit apa yang gampang tersentuh dan terpengaruh dan serta bagaimana pula mengantisipasinya. Cuma itu.

Kesucian adalah sebuah kekeramatan. Demikian ungkapan dari berbagai kalangan, cuma jarang yang menelusurinya untuk sebuah pemahaman. ‘Suci’ sebagai etimologinya. Banyak yang memakai kelengkapan untuk sebuah pengucapan dengan menyebutkan kata ini. Tempat-tempat suci umpamanya, atau orang suci, tanah suci dan sebagainya serta beragam suci-suci lainnya di dalamnya. Kesucian dan kekeramatan itu adalah hal biasa karena memang kita manusia diwajibkan percaya pada kegaiban.

Ramadhan telah menyucikan, kefitrahan ini tentulah sebuah usaha dari perjuangan yang bukan setengah-setengah: semacam intensitas yang terjaga untuk memaknai totalitas.  Alangkah bahagianya manusia dengan perangkat (dan peringkat) kesucian yang mampu menjalankan ibadah di bulan suci. Damai dan sejahteralah lahir dan batin. Untuk kelengkapan semua ini marilah saling memaafkan: kembali ke dalam diri untuk menghitung kekurangan dan kesalahan masalalu, hadapi masa depan dengan kejernihan jiwa dengan jalan memaafkan kesalahan manusia lain setulusnya.

Semoga hamparan kehidupan ini masih tetap terjaga dari bahasa dan tindak-laku kehidupan yang mubazir dan melenakan. Hawa nafsu, silang sengketa, perbedaan dan segala macamnya jadikanlah harmoni semangat dengan spirit yang tertata. Perjalanan hidup ke depan semoga senantiasa terkendali. Jika peri-peri kecil itu mengajak lagi untuk berlang-lang buana ke daerah entah yang menggiurkan, padamkan saja impian kesenangan dan kehura-huraan itu dengan jalan bertegur sapa pada diri sendiri. Nikmati patut dan mungkin, pertimbangan kan hadir di dalamnya:  Minal Aidin wal Faizin..
RoKeS, 23 Agustus 2012







0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI