Pertemuan Batin

Oleh Irman Syah

Karena begitu banyaknya persoalan yang berkerubut datang atau pikiran yang menerawang telah membuat perjalanan hidup manusia jadi mengambang. Tidak jelas lagi patokan pasti: ukuran dan nilai-nilai kehidupan yang semestinya ada jadi hilang begitu saja. Kesibukan atas keragaman telah membuahkan lupa berkuntum-kuntum dan kenyataan ini mempengaruhi manusia dalan menggumuli kehidupan keseharian.


Pasti ada kesalahan. Kalaulah bukan takkan mungkin manusia itu mengalami kerasahan tanpa ada sebab-musababnya. Tinggal menyelami lagi kedirian. Sejauh mana perjalanan? Kalau Chairil Anwar menjawab, palingan: ah hanya selenggang. Begitu puitiknya dia memaknai hidup. Ya, di umurnya yang singkat setidaknya dia telah meninggalkan kata sebagai kebenaran. Kebenaran di dalam kata adalah peristiwa bahasa menjadi sebuah mahkota. Kata melahirkan peradaban.

Perjalanan hidup manusia menelusuri kenyataan tentulah selalu dijembatani oleh kata, tindakan dan ukuran. Peristiwa-peristiwa semacam ini adalah kandungan bahasa di dalam sebuah karya. Tokoh-tokoh yang ada di dalam sebuah karya adalah manusia istimewa. Tersebab itu persoalan-persoalan yang dimunculkan sebuah karya sastra adalah sesuatu yang istimewa. Ada pertemuan kenyataan yang dihadirkan pengarang dengan dirinya, alam semesta dan pencipta.

Meski tidak pernah bertemu secara fisik dengan tokoh cerita yang dipaparkan pengarang ke dalam karya serta dengan segala seluk-beluknya tapi pertemuan pembaca tetaplah bermakna. Pembaca karya akan mendapatkan dialog-dialog kehidupan yang istimewa berdasarkan kisah-tuturnya. Komunikasi batin semacam ini adalah sebuah pertemuan. Bahasa batin yang dikeluarkan pengarang melalui realitas yang dimaknainya lewat kerangka dan ukuran melalui karya akan mampu membangun horizon harapan tersendiri bagi manusia dalam memaknai kehidupan.

Demikianlah gambaran singkat tentang bagaimana sebuah karya memperlakukan bahasa untuk sebuah pertemuan batin. Kalaulah manusia tak mampu menghadapi persoalan atas kesibukan, keresahan dan pikiran yang menerawang, selain ada yang salah dalam sisi pemahaman tentu dibutuhkan pula terapi untuk itu. Karya sastra adalah media yang mampu berperan menjadi solusinya. Tentulah sastra yang tak sembarang sastra. Banyaknya karya yang muncul hari ini belumlah semuanya bisa dibilang karya sastra karena banyak yang tidak menghadirkan keistimewaan. Istimewa dalam pilihan persoalan, istimewa dalam membahasakannya, cara pandang, serta terciptanya komunikasi batin yang mengalir melalui petuah serta ungkapan kebudayaan yang membangun peradaban.

Pertemuan batin semacam ini juga tercipta Selasa (19/6) lalu ketika bedah buku Istana Jiwa karya Putu Oka Sukanta di bedah buku Sastra Kalimalang. Tragedi  kemanusiaan yang diangkat dari karya itu melalui perempuan-perempuan istimewa sebagai tokoh atau pelakunya telah mempertemukan audiens yang juga pelaku gerakan secara batin dengan hakikat peristiwanya.
RoKe’S, 20 Juni 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI