Sketsa

Oleh: Irman Syah

Memandang Kalimalang yang mengalir, kehidupan berenang dalam arusnya. Terkadang eceng gondok juga terbawa, hanyut dan takkan tahu singgah di mana? Semua tergantung nasib yang membawa atau juga memberhentikannya. Bukan kemauannya sendiri tentu, tapi kemauan air dan arusnya. Kehidupan manusia dan eceng gondok adalah dua hal yang berbeda dan bisa bernasib sama. Perbedaannya tentulah terletak pada kata ‘berenang’ dan ‘hanyut’. Ya, itu saja.


Kehidupan manusia dan eceng gondok tak lebih dan tak kurang sama. Sama-sama diciptakan oleh Penguasa Alam Semesta dan mejalani hidupnya masing-masing. Hanya dinamika yang menggerakkan diri serta isiannya sajalah yang membuat keduanya bergerak dan hidup di jalan yang berbeda, tersebab kandungannya masingmasing. Manusia punya kekuatan dan kekayaan tersendiri bagi dirinya karena memang diciptakan dengan sebaik-baik cinptaan, sementara eceng gondok kerap kali membikin gondok manusia.

Sesungguhnya, yang ingin disampaikan dalam tulisan ini hanyalah kiasan saja. Ya, semacam sebuah sketsa. Manusia juga akan bisa senasib dengan eceng gondok itu apabila dia hanyut dengan arus yang menggayutinya, padahal mesti berenang: tentu saja ini tersebab  oleh ketidakpahamannya akan jalan hidup yang dipilihnya. Jadilah dia hanyut, tersangkut dan hanyut lagi serta tak tahu pula akan singgah di mana. Dia juga bisa membikin gondok manusia lain yang karena fungsi hidupnya telah berubah makna. Demikianlah hidup. Demikianlah eceng gondok dan manusia.

Bila kenyataan ini diangkat ke permukaan kata: terpaparlah sketsa kehidupan yang dapat dilihat lewat lalu-lintas, lampu merah, dan kendraan di jalan raya. Rambu-rambu menjadi penting mengarahkan arusnya. Laksana Kalimalang dan eceng gondoknya, atau arus di alirannya. Mempertemukan jalan raya dan Kalimalang tentulah akan ketemu jembatan yang membatasinya: ada rambu di atasnya ada eceng gondok di bawahnya. Ketika rambu dan eceng gondok tidak di posisikan sesuai fungsinya tentulah kemacetan dan kemampetan akan tercipta. Keduanya tetap bermakna sama meski dengan dampak yang berbeda.

Sketsa inilah yang dilukiskan Sastra Kalimalang dengan ‘Panggung Terapung’-nya. Bagaimana agar manusia tidak hanyut dalam hidupnya serta eceng gondok tidak mengganggu aliran dan arus yang menyampahi kali di bantarannya. Secara nyata, program edukasi kreatif ini telah menjadi siraman rohani bagi anak-anak jalanan kecil yang biasanya ngamen di lampu merah untuk menikmati rasa bahagia serta memiliki kali tempat mandinya.

Mereka berenang dengan girangnya, melompat dan menceburkan diri ke Kalimalang dari pagi hingga malam sambil bercanda: mereka memungut sampah-sampah kali yang hanyut sembari menikmati ragam musik, puisi, pantun,  teater dan musikalisasi puisi yang menyirami rohani mereka. Sebuah harmonisasi hidup yang riil: liburan yang menyenangkan bagi mereka, apalagi dikunjungi oleh para tokoh, seniman, pejabat dan budayawan yang memberikan makna hiburan yang amat menddidik.

Kalaulah anak-anak dan eceng gondok itu bertegur sapa dengan bahasa kesenian baik pentas atau pun lakuan, niscaya lampu merah dan bantaran Kalimalang menjadi cerminan perbuatan: dan inilah sketsa kehidupan, inilah kenyataan riil yang mengemuka. Dengan begitu, ketulusan, kasih-sayang, dan cinta akan berbuah nyata bagi aliran sungai yang bersih di dalam jiwa.
RoKe’S, 12 April 2012




0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI