Seniman a-Song

Oleh Irman Syah
Sebagaimana Pedagang Asongan, ‘seniman asong’ pun muncul. Mereka lahir dan kemudian membangun keberadaan dan tentu saja berdasarkan kebutuhan. Seperti halnya hidup yang kadang lupa dimaknai, ia tetap bergerak dan berjalan tak menentu. Malah hidup pun berjalan tanpa sempat menoleh ke kiri dan ke kanan atau depan dan belakang. Akhirnya, jadilah hidup yang tak hidup.

Hidup mengalir dalam denyut dan hanyut begitu saja: sesekali tersangkut dan terhenti untuk rentang waktu yang tak jelas kemudian hanyut lagi entah ke muara mana? Demikian. Untuk melihat pedagang asongan atau seniman asong, keduanya tak lepas dari kenyataan kehidupan sesuai dengan kebutuhan yang melatarinya. Tidak dapat tidak!
Kebutuhan itu kata dasarnya ‘butuh’ yang ditambah dengan awalan dan akhiran (‘ke-an’), dan inilah sumber dari kebudayaan. Layaknya seperti laki-laki dan perempuan, mulut dan ucapan, pikiran dan perjalanan, maka kebutuhan pun tak ingin kesepian, dia ingin bersidekap dengan pemenuhan.
Pedagang asongan adalah kreativitas yang muncul dari gagasan mengkomunikasikan kebutuhan dan pemenuhan. Dia ada di tempat dimana ia pantas ada. dia ada di keramaian, kampung dan kota, taman, lapangan bola atau perempatan jalan.di negeri ini memang sudah menjadi budaya dari lama, ya, seperti halnya tukang obat..
Pedagang asongan akan menunjukkan komunikasinya sebaik mungkin dan berusaha keras untuk mencapai tujuan. Risiko adalah hal biasa.. umpat, cela, hina, nista dan hardikan akan sama artinya dengan menerima uang lebih dari pembeli yang tidak mau menerima uang kembalian. Sebuah kenyataan, hidup wajiblah punya resiko.
Begitu pula bagi pengendara mobil mewah, di sebuah perempatan jalan, tuannya mengutuk diri sendiri karena lupa membawa rokok. Antrian begitu panjang, macet! Sementara anaknya yang rewel tetap menangis dan menggelinjang kehausan. Sang ibupun mengutuk diri karena tabung susu ketinggalan. Di luar kaca mobil, polisi razia sementara pedagang asongan pontang panting.Kausalitas di atas jelas tidak berimbang tapi tetap ada hubungannya. Kalau tidak, pedagang asongan pasti takkan pernah ada.
Seniman asongpun berawal dari kondisi yang sama. Sebut saja pengamen, karena penamaan itu begitu lekat di telinga. Mereka ada tersebab kebutuhan yang mesti dipenuhi, mereka membangun budaya baru dari buaya lama ‘tukang obat’, budaya pro-kontra, mereka bernyanyi, membaca puisi, monolog atau berdakwah di bus-bus, kapal, restoran, perempatan jalan, pojok pertokoan atau sudut-sudut taman.
Seniman asong berusaha melayari hidup dan menikmati kenyataan. Pada satu sisi mereka terdampar disebuah pulau, di republik baru: Kaum miskin kota! Disisi lain, orang-orang menjual dan memanfaatkan mereka sebagai sumber duit, kajian dan penelitian. Jadilah mereka objek, tapi mereka sesungguhnya juga subjek yang telah mewakafi segelintir orang untuk mendapatkan mobil dan berpucuk-pucuk handphone.
Waktu bergulir, mereka terus bernyanyi, terus berpuisi, berdendang dengan ketipak waktu yang terus menggejuju. Tatapan miring fanatisme mengantar mereka ke pojok yang sempit, ungkapan ringan—“mengemis!”—mereka labrak. Beberapa mahasiswa turun ke jalan dan berasong kesenian, sebaliknya seniman-seniman asongpun terbius ke toko-toko buku. Merekapun kuliah! (Yah, kuliah bukan untuk tamat, tapi untuk mendapatkan sesuatu. Pabila sesuatu itu sudah didapatkan, hidup semakin dimengerti, tinggal memberi arti).
Pembaruan terjadi, aroma kapitalis bertukar wangi dengan proletar. Diskusi-diskusi kecil tercipta ketika menyetem kita, menghafal puisi, atau menilai usaha dan menikmati hasil. Pada tataran akhir, dapat disimpulkan : seni adalah kebutuhan manusia bidang rohani. Karena mahalnya pertunjukan kesenian ke sebuah gedung pertunjukan—malam, hujan, sulitnya transportasi untuk pulang, sementara besok masuk kerja lagi—maka seni harus diantarkan.
Dengan begitu terciptalah kontak langsung, silaturrahmi, sosialisasi, persaudaraan, dan bahasa-bahasa kehidupan yang sekaligus juga bisa dimanfaatkan dalam dunia kehidupan.
Kemajuan teknologi, keyboard (organ tunggal), musik disc, lewat budaya simplistis, seakan-akan membunuh generasi muda untuk bercita-cita menjadi gitaris handal, melodi, bas, drummer, serta alat musik lainnya. Adanya seniman asong setidaknya menumbuhkan kembali kepekaan nada, keterampilan tangan, jari, dan pikiran dalam menyesuaikan nada dengan bunyi yang dihadirkan bagi generasi mendatang.
Barangkali kesenian tradisi kita akan ditemukan di jalanan. Bukankah kesenian tradisi itu lahir berdasarkan kebutuhan masyarakatnya? Respon penonton, pengunjung, atau penumpang adalah salah satu elemen pertunjukan kesenian tradisi. Tradisi masa lalu adalah catatan kebutuhan dan dokumentasi masa lalu, dan tradisi hari ini adalah masa lalu itu yang berujud rupa lewat kenyataan kekinian berdasarkan sebuah kebutuhan.
LHU Jakarta, awal Februari’07

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI