PAGI TANPA KOPI: Keberangkatan Menuju Arti

Oleh: Irman Syah 

Membukukan rangkaian perjalanan adalah ruas panjang kehidupan: seumpama jalan yang berliku untuk kembali ditelusuri dan dinukilkan ke dalam bahasa yang puitik. Seperti halnya menikmati kenyataan keberangkatan yang selalu mengingatkan sejarah kemarin untuk kemudian berlanjut lagi hari ini lewat cerminan sebatang rokok dan segelas kopi dari sebuah persimpangan: warung kecil, di bawah jembatan layang, bus yang lewat, atau orang-orang yang lalu-lalang.


Demikianlah sketsa kecil keseharian sastrawan jalanan yang meneriakkan puisi-puisi kehidupan di panggung-panggung lengang kemanusiaan. Doddi, adalah salah seorang dari sekian banyak penyair jalanan yang mencoba membangun arti lewat ekspressi kreatif dalam bentuk sastra jalanan. Dengan penuh semangat menjelajahi terik aspal, gelap dan kusam untuk sebuah catatan, pertinggal yang menciptakan kenangan dan rumah kehidupan.

Lika-liku yang dia alami adalah ungkapan dan respon yang silih berganti. Kenyataan ini amat berarti bagi makna kata yang ditulis dan dijajakannya ke khalayak yang duduk berbanjar di bus-bus kota, AC dan Non Ac yang terkadang sesak penumpang. Tidak dapat dibayangkan bagaimana caranya dia mengkomunikasikan puisinya dalam keadaan yang demikian?

Doddi memang telah menyikapi dirinya untuk selalu bersetia melakukan ekspressi  semacam ini, ya, sebagai pembaca puisi jalanan ibukota. Suaranya melantangkan perih dan ngilu atas kesenjangan yang nyata. Tidak hanya sampai di situ, dia pun berusaha pula melakukan dialog dan diskusi karya dengan beberapa penyair yang malang melintang memilih hidupnya di jalanan.

Dengan begitu, pengalaman empirik pun menyatu di tubuh karyanya. Inilah yang membuat karyanya menjadi. Kuat dan kaya. Di dalam teks puisinya ditemukan kehidupan yang menjalar dan bukan sekedar kata, sajak yang lahir di bibir rahim jalan raya. Dengan begitu, ada ruh kenyataan yang merasuki puisinya. Tinggal lagi komunikasinya: apakah ini mampu secara universal membangun bahasa batin itu bercengkrama di dada kita.

Bagi pembaca, ragam pengalaman dan kenyataan itulah yang mesti ditaklukkan. Kadang ia mengalir begitu saja, tapi juga bisa berbelok dan meneliikung begitu rupa: bagai rambu-rambu ibukota yang kadang membangun sunyi yang panjang di jalan-jalan kota. Laksana rongga di dalam jiwa yang tanpa tau telah begitu saja mengantarkan kuntum-kuntum bunga tak terduga.

Sebagai sebuah buku, karya-karya puisi dalam kumpulan ini adalah jabaran dari sebuah kandungan makna dan bangunan nilai yang layak dibaca. Tentang hidup, manusia, cinta dan keluarga. Kumpulan ini juga bisa menjadi sebuah jawaban terhadap banyaknya terbitan buku puisi hari ini yang akarnya tidak begitu nyata, dengan kata lain cuma sebuah catatan biasa saja.

Tulisan ini pun hanyalah sebuah catatan kecil dari bahasa yang simpang-siur tentang perkembangan sastra yang dipungut dari jalanan: tentang hidup yang bergulir di tiap detik dan menit waktu. Laiknya sebuah bus yang melintas mengantarkan mimpi beragam orang untuk tujuannya masing-masing ke daerah yang tak sempat kita diraba.

Jakarta, medio April 2012
Judul  di atas, diambil dari puisi Jejak Langkah

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI