Mengemas Peristiwa



Oleh: Irman Syah

Dalam kondisi  kekininan kita hari ini, di negeri yang sakit menjelang senja, terlalu banyak kabar yang membangun suasana hati menjadi sunyi, sepi dan tersisihkan. Ada jarak yang menganga membahasakan perbedaan. Terlalu banyak kesenjangan. Begitu perih meraba hati. Terkadang muncul saja dengan tiba-tiba ungkapan sakit hati dengan rasa marah yang tak terbendung.


Banyak penyakit berbentuk prilaku yang muncul di tubuh masyarakat. Semuanya hadir ke permukaan, dipublikasikan oleh media dan untuk kemudian dikonsumsi lagi oleh masyarakat itu sendiri. Benturan terjadi di sana-sini. Kadang malah saling menyalahkan. Sayangnya, yang lebih dominan itu adalah tunjuk yang selalu mengarah ke luar dan bukan tunjuk ke dalam diri sendiri.

Kalaulah tunjuk itu selalu mengacung ke luar, tentulah ini selalu bermakna menang sendiri dan akan menyalahkan orang lain. Dengan selalu mengatakan orang lain salah secara tersirat tentulah  seakan membahasakan  bahwa diri kita sendirilah satu-satunya sumber kebenaan itu. Di sinilah sesungguhnya kekeliruan itu dan di sini pula terletak sumber persoalan yang selalu deras mengalirkan kesalahpahaman.

Padahal, sebelum telunjuk itu menuding ke luar semestinya harus ada yang mengarah ke dalam. Ya, semacam introspeksi diri setidaknya. Apakah sesungguhnya kini yang terjadi. Kenapa kenyataan  tercipta begitu saja? Kira-kira, dari mana sebab-musababnya.. Nah. Dengan mengolah dan membolak-balik pikiran dan rasa kemudian mencermati dan mencermini keadaan, setidaknya akan muncullah dialektika yang dapat membantu.

Hakikat persoalan menjadi penting untuk ditelusuri lebih dewasa. Keputusan dan ungkapan akan menjadi lebih bernas dan jauh dari umpatan. Kalaulah demikian, benang merah yang membentang tentang gejala yang nyaris ke fenomena itu akan dapat dibuhulkan dengan simpul yang tepat. Tentu saja semua akan memaparkan kabar dengan data yang lebih valid serta akan mampu berkomunikasi dengan kelapangan dada.

Dengan begitu, rasa takut dan kalut tentang persoalan yang menggejala akan mampu ditawar berdasarkan logika dan keyakinan. Jangan sampai pula kecerobohan informasi membuahkan permasalahan sebagai perkara baru pula.  Ini memang bukan sesuatu yang gampang, tapi bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Banyak gejolak baru yang bermunculan. Terkadang malah membikin miris pelataran hati. Kesalahan, kebrutalan dan rasa ingin menang sendiri itu pun kadang menjadi trend baru dan malah kian merebak pula.

Utuk hal semacam itu, perlu nada, perlu panggung, perlu tontonan yang menuntun hati kea rah yang lebih indah dan bermartabat. Di sinilah peluang kesenian untuk berbcara. Membahasakan persoalan dengan hati. Memanggungkan kehidupan yang kian rumit dan ngeri ini ke dalam sebuah patron serta format etika dan estetika yang benar dan mendasar. Tentulah pula sesuai dengan tradisi, budaya, dan keyakinan yang telah mengakar, mendarah-daging di tubuh kehidupan yang penuh peradaban.

Demolah, dan selalu demontrasilah dengan bahasa ungkap yang lebih tertata rapi, lewat karya nyata yang memang mampu berbicara pada masyarakat. Menggiring wacana dengan tatanan yang lebih indah serta mencerahkan kenyataan yang terpuruk menjadi lebih bermakna kehidupan kemanusiaan. Munculkan syair-syair demonstran dengan sikap yang betul-betul kukuh untuk menegakkan kebenaran: lantangkan kebenaran itu meski pun pahit. Lantunkan selalu makna penuh nilai. Lawan kebathilan!
Rokes, 26 April 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI